Connect with us

Entrepreneur

Rumah Kreatif Hj Nirna Sediakan Oleh-oleh Khas Sultra

Published

on

Tenunan khas Sultra tersedia di Rumah Kreatif Hj Nirna

KENDARI, bursabisnis.id – Setelah puas berkeliling di Kendari, Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), masih terasa kurang bila tak membawa pulang oleh-oleh khas Sultra.

Untuk membeli oleh-oleh khas Sultra, langsung saja ke Rumah Kreatif Hj Nirna yang terletak di Jalan Mayjen S.Parman, Kemaraya, Kota Kendari. Di rumah kreatif, anda bisa membeli tenunan etnis Tolaki, Muna, Buton. Kemudian tenunan khas Bombana dan Bugis.

Soal harga, dapat menyesuaikan sesuai kemampuan. Harga tenunan di bandroll dari Rp Rp 200 sampai Rp 1,2 juta. “Soal harga bervariasi, tergantung pembeli mau yang harga berapa, ” kata Hj Nirna Lachmuddin, S.Pd, owner Rumah Kreatif Hj Nirna.

Di Rumah Kreatif Hj Nirna, juga tersedia oleh-oleh lain seperti kacang mete yang sudah siap saji maupun yang masih perlu diolah kembali. “Supaya tidak penasaran mau beli oleh-oleh khas Sultra, silahkan datang saja di Rumah Kreatif Hj Nirna, ” ajak Hj Nirna.

Hj. Nirna Lachmuddin, owner Rumah Kreatif Hj Nirna

Khusus bagi warga Bugis yang ingin memiliki baju Bodo, di Rumah Kreatif Hj Nirna sudah tersedia. “Kami juga melayani pembeli beli kain tenunan kemudian dijahitkan sesuai model desain yang diinginkan, ” jelasnya.

Mantan anggota DPRD Provinsi Sultra 2 periode ini mendirikan Rumah Kreatif Hj Nirna, terinspirasi untuk membantu pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Sultra dalam memasarkan produk.

“Banyak pelaku UKM, khususnya tenunan khas Sultra yang tidak lagi memproduksi kain tenunan karena kendala pasar. Mereka kebingungan hendak menjual ke mana. Akhirnya saya melihat banyak alat tenunan bantuan pemerintah yang menganggur, tidak berproduksi,” bebernya.

 

Melihat kondisi tersebut, muncul inspirasi untuk membuka Rumah Kreatif sebagai fasilitator yang menghubungkan produsen dengan konsumen. “Konsep utamanya adalah berperan menghidupkan pelaku UKM yang menemui kendala pemasaran, ” ucapnya.

 

Rumah Kreatif Hj Nirna yang terletak di Jalan Mayjen S.Parman, Kota Kendari

Dengan hadirnya Rumah Kreatif Hj Nirna di Kota Kendari, para pelaku UKM dapat menitip produknya untuk dipasarkan. “Produk UKM kreatif, seperti kripik pisang, kerajinan kerang dan lain-lain, bisa dipasarkan melalui rumah kreatif, ” jelasnya.

Laporan : Rustam

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Entrepreneur

Ayo Berkunjung ke Wisata Kuliner Kendari, Banyak Menu Menarik Ditawarkan

Published

on

By

Tenan Soimah turut meramaikan wisata kuliner KUMKM di PLUT.

KENDARI, Bursabisnis, id – Satu lagi wisata kuliner hadir di Kendari, Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang recommended dikunjungi bersama keluarga, sahabat ataupun kerabat dekat. Berbagai menu kuliner dengan harga yang sangat terjangkau dapat dicoba.

Letak lokasi wisata kuliner ini mudah dijangkau, dilalui angkutan dalam kota (angkot) atau jasa transportasi lainnya dari berbagai arah Kota Kendari. Lokasinya berada di wilayah Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari.

Kawasan wisata kuliner terbaru ini berada di kawasan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) milik Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sultra yang berada di Jalan Sao-sao, tepatnya depan area Taman Budaya Sultra atau sekitar 100 meter arah selatan Alun-alun eks MTQ Kendari.

Grand Opening Wisata Kuliner Kendari kawasan PLUT KUMKM ini berlangsung sekira pukul 20.15 Wita, Senin (9/9/2019) malam. Peresmian kawasan wisata kuliner terkini ini dihadiri sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra, pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari, pelaku usaha kuliner, komunitas Kendari Kreatif (KK), perbankan dan sejumlah jurnalis.

Menurut panitia Grand Opening Pusat Kuliner, Jhony, ada 28 tenan yang( ambil bagian di kawasan PLUT KUMKM. Menu menarik yang ditawarkan ke pengunjung sekira 300 varian, dengan harga terbilang murah.

Pusat kuliner ini mulai beroperasi pada pukul 11.00 sampai 22.00 Wita, setiap hari. “Mulai siang sampai malam, pusat wisata kuliner di kawasan PLUT KUMKM dibuka, ” ujarnya.

Kehadiran kawasan pusat kuliner ini digagas Komunitas Kuliner Kendari atau lebih lasim disebut Tripelka, bersama Komunitas Crafter Sultra (KCS), Indonesia Chef Association (ICA) Kendari, dan Pahlawan Darah Kendari.

Sebelum pusat kuliner diresmikan oleh Asisten I Setda Provinsi Sultra, Sarifuddin Safaa, panitia terlebih dulu menggelar kegiatan sosial dan lomba. Kegiatan dimaksud, yakni donor darah tanggal 28 Agustus 2019, Jumat berbagi dengan Pondok Pesantren Darussalam dan Sekolah Luar Biasa (SLB) Kusuma Bangsa pada tanggal 30 Agustus 2019.

Kemudian ada kegiatan lomba mewarnai tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dan lomba koki cilik pada tanggal 1 September 2019. Lalu workshop crafter digelar 3 September dan lomba rangking satu pada 5 September 2019.

 

Laporan : Rustam Dj

Continue Reading

Ekonomi Mikro

Grand Opening Wisata Kuliner KUMKM di Kawasan PLUT

Published

on

By

Asisten I Setda Provinsi Sultra, Sarifuddin Safaa meresmikan Kawasan Wisata Kuliner KUMKM di Kota Kendari

KENDARI, Bursabisnis.id – Pusat Kuliner Kendari yang berada di kawasan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM), dibangun tanpa menggunakan alokasi dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sultra.

” Meski tak menggunakan APBD, tapi kami berkeyakinan kawasan wisata kuliner ini mampu menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah untuk Sultra,” kata Kepala Dinas Koperasi UMKM Provinsi Sultra, Hery Alamsyah, saat memberikan sambutan di hadapan undangan grand opening pusat kuliner Kendari, Senin (9/9/2019) malam di kawasan PLUT KUMKM.

Kawasan wisata kuliner ini dibangun Bank Sultra kerjasama dengan pengusaha kuliner di atas lahan PLUT milik Dinas Koperasi UMKM Provinsi Sultra.

“Dinas Koperasi memberikan ruang sekaligus memfasilitasi pelaku UMKM untuk mengembangkan usahanya. Harapan pemerintah, setelah usaha berjalan dengan baik, dapat berkontribusi terhadap PAD, ” harap Hery yang disambut applause hadirin.

Hery mengungkapkan, dari 34 provinsi di Indonesia, hanya ada 17 provinsi yang mendapat program PLUT KUMKM. Sultra, masuk dalam 17 provinsi dimaksud. Untuk kabupaten, baru Wakatobi yang masuk dalam program PLUT KUMKM. “Karena tidak semua provinsi dan kabupaten masuk program PLUT KUMKM, saya berharap agar seluruh fasilitas yang sudah ada dirawat dengan baik,” harapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama Bank Sultra, La Ode Muhammad Mustika, mengatakan kehadiran pusat kuliner di tengah Kota Kendari, dapat membuka lapangan pekerjaan baru sehingga angka pengangguran di Sultra dapat berkurang.

“Bank Sultra hadir untuk berkontribusi terhadap pembangunan di daerah. Seperti halnya kehadiran kami di pusat kuliner Kendari, dalam rangka memfasilitasi pelaku usaha kuliner melalui bantuan dana kemitraan,” ujarnya.

Berdasarkan informasi, fisik bangunan kawasan wisata kuliner yang berada tepat di bagian belakang gedung PLUT KUMKM dibangun atas pembiayaan Bank Sultra. Area bangunan ini mampu menampung 300 orang, dengan 30 tenan kuliner.

Para pelaku kuliner di pusat kuliner ini, menyewa kepada pihak ketiga dalam hal ini PT Satu Tiga Lima Sejahtera yang telah menandatangani kontrak kerjasama dengan Pemda. Pihak ketiga ini selanjutnya berkontribusi PAD kepada Pemda Sultra.

Lain lagi dikemukakan Asisten I Setda Provinsi Sultra, Sarifuddin Safaa saat membuka secara resmi pusat kuliner KUMKM Kendari. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Sultra senantiasa memfasilitasi bagi pelaku UMKM.

“Kawasan kuliner ini sangat baik dan nyaman untuk dikunjungi. Saya harapkan agar pelaku usaha kuliner, pengunjung dan pihak pengelola menjaga kawasan ini dengan baik dan tertib. Jaga selalu kebersihan, sebab ini bagian dari icon kota, ” ujarnya.

Grand opening kuliner KUMKM ditandai dengan pemukulan gong yang disaksikan sejumlah pejabat Pemprov Sultra, Bank Sultra dan pihak sponsor.

Laporan : Rustam Dj

Continue Reading

Entrepreneur

Mengenal Sosok Pengusaha Syarifuddin Daeng Punna yang Pantang Menyerah Berusaha

Published

on

By

Perjalanan panjang dan tak kenal lelah Syarifuddin Daeng Punna merintis bisnis. Masa kecil pernah jadi pemulung, kemudian menginjak dewasa menjadi sales sampai mendirikan perusahaan sendiri.

MAKASSAR, Bursabisnis.id – Tak lama lagi, kurang dari setahun, Kota Makassar akan memilih putra-putri terbaiknya untuk ditahtakan sebagai Walikota. Di tempat-tempat strategis di berbagai penjuru kota, sudah mulai dipenuhi gambar-gambar kandidat terpajang. Memperhatikan gambar-gambar itu sambil lalu, kadang timbul perasaan geli di hati. Tengok saja tagline mereka. Selain semuanya menawarkan optimisme, tetapi ada juga yang terkesan “memaksa”.

Namun, di antara semua itu, terselip sebuah tagline, menurutku, begitu bersahaja. “SADAP”, sebuah tagline yang merupakan akronim dari Syarifuddin Daeng Punna. Siapakah sosok itu? Suatu malam di Warkop Phoenam Gondangdia Jakarta, saya bertemu dengannya tanpa sengaja.

Lahir di Kerungkerung, 1964. Anak tunggal yang ditinggal mati ayahnya pada saat masih sangat belia, 8 tahun. Sejak itu, Syarifuddin bersama ibunya hidup berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain sebanyak 16 kali hingga ia berusia 28 tahun. Mengenang masa-masa itu, Syarifuddin tersenyum kecil, namun getir di wajahnya, tak mampu ia sembunyikan.

Syarifuddin kecil, setiap sore setelah pulang sekolah di SD Barabaraya, Massenrengpulu, kerjanya menyusuri lorong-lorong kumuh di Makassar, mencari botol-botol kosong, tanpa sepengetahuan ibunya. Menjadi pemulung di samping menjual Es Mambo, terpaksa ia jalani untuk membantu ibunya mencari nafkah, hingga tammat di SMP PGRI di Kampung Hollywood, Bonecom, Mariso.

Lulus dari SMA 5 Makassar pada 1984, Syarifuddin terpaksa menganggur. Ibunya tidak mampu membiayai dirinya kuliah. Tetapi keinginannya untuk menuntut ilmu tak pernah padam. Hingga suatu ketika, ia berkesempatan kuliah di Fak. Teknik UKI Paulus Ujung Pandang atas nama orang lain, pada tahun 1985.

“Ada teman saya, tidak mau kuliah tetapi tetap dipaksa orang tuanya. Ia meminta saya menggantikannya kuliah atas namanya. Saya bersyukur mendapat ilmu keteknikan, meskipun tidak mendapatkan ijazahnya,” tuturnya.

Sembari kuliah, Syarifuddin bekerja serabutan sebagai buruh pikul barang di gudang UD. Tangan Mas di kompleks pertokoan Pasar Sentral. Bermodalkan pekerjaan itu, Syarifuddin pun memberanikan diri menikah pada tahun 1986. Semenjak itu, ia dipanggil sebagai Daeng Punna oleh keluarganya. Maka jadilah ia bernama Syarifuddin Daeng Punna (SADAP).

Namun, tak sampai setahun, ia berhenti, karena tidak mau berkomplot dengan buruh-buruh gudang untuk mencuri barang-barang majikannya. Berhenti dari UD. Tangan Mas, SADAP lantas menjadi calo tiket Pelni di Jalan Nusantara, sebelum menjadi sales sopir kanvas di PT. Bentoel di Jalan Bawakaraeng pada tahun 1987.

SADAP mungkin memang sosok yang berbakat. Setelah tiga tahun menjadi sales rokok Bentoel, ia kemudian diangkat menjadi supervisor yang membawahi puluhan sales. Seiring dengan itu, kehidupan keluarganya perlahan membaik. Apakah pencapaiannya itu lantas membuatnya berubah dan pongah? Tidak.

SADAP tetaplah sosok bersahaja. Seorang yang sadar akan dirinya yang memulai karier dari tingkat paling bawah. Hal ini yang membuat dirinya disenangi oleh buruh-buruh dan karyawan. SADAP bahkan menjadi inspirator dan motivator bagi para sales untuk mengalahkan penjualan Gudang Garam dan Djarum di Sulawesi Selatan.

Prestasi dan pencapaian SADAP, tanpa ia sadari, menimbulkan iri hati bagi rekan-rekan sejawatnya. Suatu waktu, terjadi unjuk rasa buruh dan karyawan menuntut perbaikan nasib di kantornya. Kesempatan itu lantas digunakan oleh para pembencinya untuk menudingnya sebagai provokator. Seperti kata pepatah: “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak”. SADAP pun dipecat tanpa diberi kesempatan membela diri.

SADAP kembali terpuruk dan kerja serabutan. Namun di tengah situasi itu, datang Max Royan dan Siringoringo, teman kuliahnya di UKI Paulus, menawarinya bergabung dengan PT. Wiratman, sebuah perusahaan konsultan konstruksi. Mulanya hanya sopir lalu menjadi surveyor. Tak sampai setahun ia berhenti karena kecelakaan. Tetapi, meski hanya sebentar, namun di sinilah ia memperoleh pengalaman dan wawasan tentang dunia usaha.

Berhenti dari PT. Wiratman, sekali lagi, SADAP terpuruk. Tetapi ia tak menyerah. Ia tetap berusaha bangkit dengan melamar pekerjaan PT. Baji Pammai Coorporation (Bapamco), distributor minyak goreng “Kunci Mas” di Ujung Pandang. Di sini, SADAP kembali memulai karier sebagai sales. Bermodalkan pengalaman di PT. Bentoel, kariernya menanjak dengan cepat. Dari Sales menjadi Supervisor, kemudian Manajer Area, lalu menjadi Kepala Perwakilan di Palopo. Semua itu dicapai dalam tempo tiga tahun.

Tahun 1993, terjadi konflik pemilik saham di internal Bapamco. SADAP memilih keluar dan mendirikan PT. Pela Sakti bersama teman-temannya. Mulanya hanya distributor telur ayam kemudian berkembang menjadi perusahaan konstruksi. SADAP sudah memiliki banyak waktu luang. Kesempatan itu lantas digunakan untuk menyelesaikan studinya di STIE – LPI Jalan Bung Ujung Pandang dan berhak menyandang gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 1998.

Hidup SADAP semakin mapan. Bahkan pada tahun 2000, ia mengakuisisi seluruh saham PT. Pela Sakti, sehingga menjadi miliknya sepenuhnya. Dalam waktu singkat, perusahaannya berkembang dengan pesat. Hanya beberapa tahun, ia sudah memiliki modal hingga puluhan milyar. Puncaknya pada tahun 2008, ia beralih menjadi pengusaha tambang nikel dengan konsesi puluhan ribu hektar yang tersebar di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, bahkan sampai di Pulau Halmahera, Maluku.

Syarifuddin Daeng Punna, SE., kini 55 tahun, sudah memiliki segalanya. Obsesinya tinggal satu : mengabdikan dirinya untuk membangun Makassar. Tidak main-main, ia rela memutuskan pensiun dini dari usahanya. SADAP, anak Makassar asli yang hidup dari lorong ke lorong sejak bocah hingga remaja, teruslah berjuang. Siapa tahu, Makassar memang takdirmu.

Penulis : Yarifai Mappeaty

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 PT. Tenggara Media Perkasa - Bursabisnis.ID Developer by Green Tech Studio.