Connect with us

Fokus

Tenaga Pendamping BPNT Dinilai Tidak Transparan, Penerima Manfaat Bingung Saldo Nol Rupiah

Published

on

KENDARI, bursabisnis.id – Tenaga pendamping program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dinilai tidak transparan dalam memberikan informasi kepada Kelompok Penerima Manfaat (KPM).

Pasalnya, bantuan sosial tersebut tak sepenuhnya terealisasi dengan baik. Berbagai permasalahan dialami KPM. Seperti yang saat ini dialami sebagian penerima manfaat di Kecamatan Wuawua.

Nama mereka (penerima bantuan) dari data bayar bank KPM BNPT, sehigga tak lagi menerima bantuan Sembako, karena saldo di rekening nol rupiah.

Bahkan, kondisi tersebut terjadi hingga berbulan-bulan tanpa ada info jelas dari pendamping terkait penyebab persoalan tersebut. Alhasil, masyarakat dibuat bingung dan tak mampu berbuat apa-apa.

Sejumlah warga yang sebelumnya menerima bantuan tersebut mengeluhkan kondisi saldo mereka yang nol rupiah. Para penerima tersebut kebingungan harus mengadu ke mana. Sebab, pendamping kecamatan tak memberikan informasi dan solusi atas perihal tersebut. Begitu pula pihak koordinator pendamping di Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kendari, juga tak memberikan informasi yang jelas (tidak transparan).

Bukannya memberikan solusi ataupun informasi, pendamping kecamatan dan koordinator pendamping justru saling lempar tanggung jawab, sehingga masyarakat penerima dibuat semakin bingung.

Dikutip dari laman TenggaraNews.com, salah satu penerima BPNT, Nurjanah mengaku sudah enam bulan lamanya tak menerima bantuan Sembako itu. Setiap bulan saldonya selalu nol rupiah. Saat ibu lima anak ini menanyakan ke pendamping, dirinya malah disuruh menanyakan langsung ke pihak Dinas Sosial.

Anehnya, ketika wanita berstatus janda ini menyuruh anaknya untuk menanyakan perihal tersebut ke pihak Dinsos Kendari, koordinator pendamping malah meminta agar menanyakan langsung ke pendamping PKH, karena nama ibu bercucu tiga tersebut sudah tak ada di BDT.

“Saya juga ini bingung, karena awalnya saya masih menerima. Tapi, tiba-tiba saja sudah tidak pernah lagi. Bukan hanya saya saja, banyak juga yang seperti itu. Kita tanya ke pendamping, tidak pernah juga dikasih info yang jelas, katanya dia sudah berupaya, tapi saya tetap saja bingung karena tidak ada solusi,” ujarnya, Senin (21/10/2019).

Menurut dia, pihak-pihak terkait harusnya bisa memberikan informasi yang jelas terkait perihal tersebut, bukan malah membuat para penerima makin bingung.

“Kalau memang nama saya sudah dikasih keluar, seharusnya disampaikan seperti itu dan apa penyebabnya sehingga dikasih keluar, bukan malah diam-diam saja dan membuat kita ini berharap,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Pendamping BPNT Kota Kendari, Saidah mengaku, bahwa banyak penerima bantuan Sembako tersebut yang mengalami kondisi saldo nol rupiah.

Khusus untuk penerima atas nama Nurjanah, namanya masih terdaftar dalam BDT. Hanya saja, nama penerima tersebut sudah tidak masuk di data bayar bank untuk KPM BPNT. Solusinya, kata dia, harus dilalukukan pengusulan ulang lagi.

“Memang ada kesalahan data untuk Ibu Nurjanah, seperti NIK dan data yang lainnya. Makanya harus dilakukan perbaikan lagi, baru kita lakukan pengusulan ulang jika diminta oleh pusat. Tapi, untuk saldo yang sudah berbulan-bulan nol rupiah, itu sudah tidak bisa diterima lagi, karena statusnya nanti adalah penerima baru,” ungkapnya.

Ada hal menarik yang ditemukan jurnalis TenggaraNews.com, ternyata ada dugaan permainan dalam pendataan sebelumnya. Sebab, dari data yang diperlihatkan oleh pihak Dinsos nampak sembrawut dan banyak kesalahan, sehingga harus dilalukan perbaikan ulang lagi.

Akan tetapi, selama ini pemerintah kota (Pemkot) Kendari justru tak pernah menyampaikan ke masyarakat, agar melakukan perbaikan data. Artinya, upaya perbaikan data tersebut minim sosialisasi, sehingga warga tak pernah mengetahuinya dan bingung harus mengadu ke mana ketika mendapatkan persoalan di lapangan.

Parahnya lagi, ternyata kesalahan data yang selama ini terjadi bisa berakibat hilangnya sejumlah bantuan sosial seperti PKH dan KIS yang selama ini diterima oleh warga miskin. Hal itu akan terjadi, jika penerima manfaat membiarkan kesalahan data dirinya terus terjadi dan tak melakukan perbaikan.

Di sisi lain, masyarakat tak pernah mendapatkan informasi yang jelas (tak ada sosialisasi) terkait kemungkinan terparah tersebut, jika kesalahan data tak segera diperbaiki.

Liputan: Ikas

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fokus

PDP Sesak Napas Meninggal, Pemakaman Diberlakukan Protokoler Covid-19

Published

on

By

KONAWE, bursabisnis.id – Pasien  Dalam Pengawasan (PDP) meninggal dunia  di Rumah  Sakit (RS)  Kabupaten Konawe,  Provinsi Sulawesi  Tenggara (Sultra)  sekira jam 09.35 Wita, Kamis 28 Mei  2020.

Pasien tersebut berjenis kelamin laki-laki dengan usia 67 tahun. Dia diketahui tinggal di Kecamatan Wawotobi, Kabupaten Konawe.

Menurut Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid19 Kabupaten Konawe, dr.Dyah Nilasari,Sp.Rad, pasien ini masuk di RS Konawe pada tanggal 25 Mei 2020, sekira pukul 15.00 Wita.

Saat masuk, keluhannya yakni lemas, sesak 3 hari. Riwayat gangguan yang dialami, kulit terkelupas sejak Oktober tahun 2019 lalu. Dia juga diketahui mempunyai riwayat perjalanan dari Kendari 3 hari lalu.

Dyah Nilasari juga menjelaskan, pada pemeriksaan didapatkan hasil Rapid Tes Reaktif dan pada pemeriksaan fotoThoraks terdapat gambaran Pneumonia. Pada tanggal 28 Mei 2020 sekitar pukul 08.00 Wita, kondisi pasien bertambah sesak dan terjadin penurunan kesadaran.

“Pukul 09.35 Wita pasien dinyatakan meninggal dunia di RS.Kab.Konawe. Di hadapan keluarga dan keluarga pasien menerima setelah diedukasi oleh Tim Mediscovid19 Konawe,” terangnya.

Diungkapkan  juga bahwa pasien (jenazah)  telah dilakukan pemeriksaan swab  tenggorok  dan  masih
menunggu  hasil  dari  Makassar.  Perlakuan jenazah PDP berdasarkan protokol kesehatan jenazah covid19. Jenazah akan dikebumikan sore ini juga di Kecamatan Wawotobi oleh tim pemakaman jenazah BLUD RS Konawe dan Tim Satgas Pemakaman Jenazah Covid19 Polres Konawe.

Laporan : Rustam Dj

Continue Reading

Fokus

UPDATE : Positif Corona di Sultra Bertambah 11 Kasus

Published

on

By

KENDARI, bursabisnis.id – Kasus positif Covid-19 di Sultra bertambah 11 kasus. Hal tersebut disampaikan Gugus Tugas Percepatan Penangangan Covid-19 Sultra, Rabu 27 Mei 2020.

Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sultra, dr. La Ode Wayong Rabiul Awal menyebutkan, bahwa 11 orang yang terinfeksi corona terdiri dari tujuh orang asal Kota Bau-bau, tiga orang dari Kabupaten Bombana dan satu lagi dari Kabupaten Kolaka.

“Kita ada tambahan kasus positif 11 orang hari ini. Tambahan yang terinfeksi berasal dari tiga daerah, sehingga keseluruhan menjadi 226 kasus,” ujar dr. Wayong dalam keterangan pers.

Lebih lanjut, dr. Wayong menambahkan, penularan dan penyebaran Covid-19 di Sultra masih berlangsung. Olehnya itu, Ketua IDI Sultra ini mengimbau masyarakat agar tetap patuh terhadap protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah.

“Untuk menghentikan kurva penularan, tentu kami berharap kerjasama dari masyarakat untuk patuh terhadap protokol kesehatan,” harapnya.

Sebagaimana diketahui, kasus positif Covid-19 di Sultra sudah menembus angka 226 kasus. Adapun sebarannya berada di Kabupaten Bombana sebanyak70 kasus, Kota Kendari 58 kasus, Kota Bau-bau 14 kasus, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) 12 kasus dan Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) 11 kasus.

Selanjutnya, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) tujuh kasus, Kabupaten Konawe tujuh kasus, Kabupaten Kolaka tiga kasus, Muna Barat (Mubar) dua kasus, Kabupaten Buton Tengah (Buteng) 18 kasus, dan Muna 16 kasus.

 

Liputan : Ikas

Continue Reading

Fokus

1 Syawal 1441 Hijriah Jatuh Hari Minggu 24 Mei 2020

Published

on

By

JAKARTA, bursabisnis.id – Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1441H/2020M jatuh pada hari Minggu, 24 Mei 2020. Penetapan ini berdasarkan sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama Fachrul Razi, di Kantor Kementerian Agama Jalan MH Thamrin No. 6, Jakarta, Jumat 22 Mei 2020.

“Sidang isbat secara bulat menetapkan 1 Syawal 1441H jatuh pada hari Minggu, 24 Mei 2020,” ujar Menag dalam konferensi pers yang digelar usai Sidang Isbat 1 Syawal 1441H sebagaimana dilansir dari situs kemenag.go.id.

Menurut Menag, sidang menyepakati keputusan tersebut karena dua hal. “Pertama, kita telah mendengar paparan Tim Falakiyah Kemenag yang menyatakan tinggi hilal di seluruh Indonesia di bawah ufuk, yaitu berkisar dari minus 5,29 sampai dengan minus 3,96 derajat,” kata Menag.

Dengan posisi demikian, maka hilal tidak dimungkinkan untuk dilihat. Hal ini selanjutnya terkonfirmasi oleh pernyataan para perukyah yang diturunkan Kemenag.

Pada tahun ini, rukyah dilaksanakan Kemenag pada 80 titik di Indonesia. “Kita mendengar laporan dari sejumlah perukyah hilal bekerja di bawah sumpah, mulai dari Provinsi Aceh hingga Papua. Di 80 titik tersebut, tidak ada satu pun perukyah dapat melihat hilal,” ujar Menag yang didampingi Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto, Ketua MUI Abdullah Jaidi, dan Dirjen Kemenag Bimas Islam Kamaruddin Amin.

Karena dua alasan tersebut, Sidang Isbat menyepakati untuk mengistikmalkan (menyempurnakan) bulan Ramadan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1 Syawal 1441H jatuh pada hari Minggu, 24 Mei 2020.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Sidang Isbat Awal Syawal 1441H hanya dihadiri secara fisik oleh Menteri Agama Fachrul Razi, Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi, Ketua Komisi VIII Yandri Susanto, Ketua MUI KH Abdullah Jaidi, dan Direktur Jenderal Bimas Islam Kamaruddin Amin.

Sementara para pimpinan ormas, pakar astronomi, Badan Peradilan Agama, serta para pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama lainnya mengikuti jalannya sidang isbat melalui media konferensi video.

Sebelumnya, pakar astronomi dari Tim Falakiyah Kementerian Agama Cecep Nurwendaya menegaskan bahwa tidak ada referensi empirik visibilitas (ketampakan) hilal awal Syawal 1441H bisa teramati di seluruh wilayah Indonesia pada hari Jumat, 22 Mei 2020.

Hal ini disampaikan Cecep saat memaparkan data posisi hilal menjelang awal bulan Syawal 1441H/2020M pada Sidang Isbat Awal Syawal 1441H, di Jakarta.“Semua wilayah Indonesia memiliki ketinggian hilal negatif antara minus 5,29 sampai dengan minus 3,96 derajat. Hilal terbenam terlebih dahulu dibanding matahari,” terang Cecep.

Laporan : Rustam Dj

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 PT. Tenggara Media Perkasa - Bursabisnis.ID Developer by Green Tech Studio.