ADVETORIAL/PARIWARA
Anggarkan Rp3,4 Miliar, Pemprov Sultra Segera Bangun 60 Unit Rumah Korban Konflik di Buteng
BUTON TENGAH : Sekitar November 2019 lalu, Sulawesi Tenggara (Sultra) dihebohkan dengan peristiwa berdarah yang pecah di Dusun Patoa, Desa Wadiabero, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah.
Tak hanya bumi anoa, konflik sosial yang terjadi pada Rabu (27/11/2019) itu juga mengundang keprihatinan publik se-Indonesia.
Akibat kerusuhan antar kelompok masyarakat tersebut, menyebabkan 60 unit kediaman warga mengalami rusak parah hingga ratah tanah pasca dibakar. Sehingga, saat itu Gubernur Sultra, Ali Mazi berjanji akan membangun kembali hunian korban konflik tersebut.

Gubernur Sultra, Ali Mazi saat memberikan sambutan di hadapan ASN dan masyarakat Buteng saat Kunker, Rabu (12/2/2020).
Tak hanya sebatas janji, orang nomor satu di Sultra itu telah memerintahkan Kepala Dinas Perumahan Rakyat Provinsi Sultra untuk membangun kembali rumah korban yang terbakar.
Melalui agenda kunjungan kerja (Kunker) di Buteng, Rabu (12/2/2020), Ali Mazi yang didampingi rombongan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemprov Sultra menyempatkan diri untuk mengunjungi korban konflik di Desa Wadiabero.
Pada kesempatan tersebut, politisi Partai NasDem itu menyerahkan bantuan Sembako kepada warga, dan alat tulis bagi pelajar yang menjadi korban konflik di Desa Wadiabero.

Pelajar SMP menyalami dan mencium tangan Gubernur Sultra, Ali Mazi usai menerima bantuan alat tulis.
Ali Mazi juga menyebutkan, bahwa Pemprov telah menganggarkan sebanyak Rp 3,4 miliar untuk membangun kembali 60 unit rumah warga yang rusak dan ratah tanah akibat konflik.
Lebih lanjut, Ali Mazi menjelaskan, bahwa pembangunan kediaman para korban konflik akan dimulai pada Maret mendatang, dan ditargetkan akan rampung dalam waktu empat bulan.
“Rumah seluruh korban yang terbakar akan kita bangunkan kembali,” ujar Ali Mazi.

Gubernur Sultra, Ali Mazi menyerahkan bantuan Sembako kepada masyarakat korban konflik di Desa Wadiabero, Kabupaten Buteng, Rabu (12 /2/2020).
Selain menyerahkan bantuan, mantan Ketua DPW Partai NasDem Sultra ini juga mengingatkan kepada seluruh pihak, agar konflik sosial tidak terjadi lagi.
Ali Mazi berharap, konflik sosial tersebur merupakan yang pertama dan terakhir. Apalagi, saat ini Kabupaten Buteng dibawa kepemimpinan Samahuddin-La Ntau (SamaTau) lagi gencar-gencarnya membangun.
Olehnya itu, konsentrasi kedua pemimpin tersebut dalam menata pembangunan Daerah Otonom Baru (DOB) tersebut hendaknya tidak dirusak dengan konflik dan keributan.
sebab, hal itu hanya akan menciptakan ketidaknyamanan, sehingga berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi daerah, yang akan mengalami kemunduran. Bagaimana tidak, akibat tak adanya kondisi yang nyaman, maka para investor dari luar Buteng yang hendak berinvestasi jadi takut masuk.

Pelajar SD dan SMP menerima bantuan alat tulis dari Gubernur Sultra, Ali Mazi.
Menurutnya, sejak dulu Buteng dikenal sebagai daerah agamis yang penuh dengan kesantunan, banyak melahirkan ulama dan kyai. Olehnya itu, jika ada persoalan mestinya didudukan bersama mulai dari tingkat RT/RW, desa dan kelurahan, kecamatan, hingga tingkat kabupaten.
“Bukan malah bakar membakar yang mengedepankan emosi, tetapi dengan kepala dingin dan kesabaran agar semua bisa hidup dengan tenang dan nyaman,” jelasnya.
Budaya leluhur, kata dia, dengan falsafah Poma-maasiaka harus dijunjung bersama, bukan porambi-rambitaka. Ia menyinggung para tokoh – tokoh yang ada di daerah tersebut, agar dalam membangun daerah jangan mengedepankan emosi tapi harusnya dengan kesabaran.

Salah satu warga Desa Wadeabero menjabat tangan Gubernur Sultra, Ali Mazi usai menerima bantuan kebutuhan rumah tangga, Rabu 12 Februari 2020.
“Jadi saya selaku gubernur, ingin mengatakan bahwa membangun daerah ini jangan dengan emosi, tetapi harus dengan kesabaran, ketakwaan, dan keikhlasan,” ungkapnya.
“Kalau mau uji kejagoan dan ketangkasan kita, jangan di kampung sendiri. Kalau kita jago, pergi di Timur Tengah sana. Sekarang, saatnya kita bersatu dan bahu membahu membangun daerah,” pungkasnya. (Adv/**)
ADVETORIAL/PARIWARA
Belajar dari Aqua Dwipayana: Kekuatan Silaturahim Membuka Jalan Hidup yang Bermakna
YOGYAKARTA, bursabisnis.id – Desa Wisata Pentingsari (Dewi Peri), Yogyakarta menjadi lokasi istimewa yang mempertemukan puluhan wartawan asal Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan seseorang yang luar biasa, yakni pakar komunikasi, Dr Aqua Dwipayana, Selasa 25 Agustus 2026.
Pertemun tersebut diinisasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara, dibawah kepemimpinan Edwin Permadi.
Dibalut konsep sharing komunikasi dan motivasi, Aqua Dwipayana yang juga merupakan motivator nasional memberikan penguatan kepada puluhan wartawan ekonomi mitra Bank Indonesia Sulawesi Tenggara.
The Power of Silaturahim, menjadi judul besar dari materi yang dipaparkan sang wartawan senior itu.
Denga keahlian membangun komunikasi, Aqua Dwipayana menyampaikan bagaimana kekuatan silaturahim dapat mengantarkan seseorang ke arah kesuksesan.
Kisah perjalanan hidupnya hingga berada di titik saat ini menjadi bukti bagaimana kekuatan silaturahmi bisa membuka jalan, dan menjadikan hidup yang berkah
serta bermakna.
”Menjaga hubungan baik dengan orang lain dengan merawat silaturahim membuka jalan menuju kesuksesan,” ujar mantan wartawan Suara Indonesia itu.
Jejak kebaikan yang dibangun saat dirinya menekuni profesi wartawan di masa muda, mengantarkan dirinya dikenal dan terus diingat para narasumber yang pernah diwawancarainya. Dengan kesan baik yang ditinggalkan, tak jarang pula memudahkan rutinitas dan usaha yang dilakoni.
”Pertemanan saya dengan narasumber yang pernah saya wawancara saat jadi wartawan masih berlanjut sampai sekarang. Itu karena konsep silaturahim yang saya bangun selama ini. Saya itu paling sering silaturahim, bahkan saya sudah agendakan siapa yang saya harus temui. Bukan untuk meminta sesuatu ya, tapi sekadar bertemu, bercerita dan mengetahui situasi mereka, apabila ada permasalahan dan kesulitan, terkadang bisa saling memberikan wejangan. Itulah yang saya sebut The Power of Silaturahim,” jelas Aqua Dwipayana, mengenang masa-masa keaktifannya menjadi wartawan.
Aqua Dwipayana yang kini telah melahirkan banyak karya melalui tulisannya itu juga tak lupa mengingatkan para wartawan untuk terus membangun diri.
”Dan yang paling penting, jangan lupa untuk tetap mengupgrade, terus belajar, jangan cepat puas. Bentuklah karakter dengan kredibilitas, komitmen dan konsisten,” ungkap wartawan senior itu.
Aqua Dwipayana juga menyampaikan, bahwa kerja itu ibadah, soal rezeki itu bersifat jatah, sudah ada takarannya yang ditentukan sang pencipta. Olehnya itu, bekerja dengan baik sesuai koridornya, kerja keras dan ikhlas, maka tuhan akan memberikan yang terbaik.
Tak hanya itu, Aqua Dwipayana juga memberikan empat kartu AS untuk mencapai kesuksesan yakni kerja ikhlas, cerdas, keras dan tuntas.
”Kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja keras dan kerja tuntas tidak hanya mudah diucapkan, tetapi sesungguhnya juga gampang dilaksanakan. Hanya saja, perlu konsistensi yang tinggi untuk dapat menerapkannya,” pungkas Aqua Dwipayana.
laporan: mirkas
ADVETORIAL/PARIWARA
Hari Amal Bhakti ke-79 Kemenag, DPRD Konawe Tegaskan Pentingnya Harmonisasi Umat Beragama
Konawe, Bursabisnis.id-Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Konawe, I Made Asmaya, S.Pd, M.Pd, menegaskan pentingnya harmonisasi dan toleransi antarumat beragama.
Penegasan ini disampaikan I Made Asmaya saat menghadiri peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-79 Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Konawe, Jumat, 3 Januari 2025.
“Kementerian Agama telah menunjukkan peran yang luar biasa dalam membimbing umat dan menjaga moderasi beragama. Kami dari legislatif sangat mengapresiasi sinergi yang telah terbangun selama ini,” kata I Made Asmaya.

Kegiatan yang dipusatkan di halaman kantor Kemenag Konawe ini dihadiri Penjabat (Pj) Bupati Konawe, diwakili oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Konawe Dr. Ferdinand Sapan, SP, MH, unsur Forkopimda, serta jajaran pejabat dan pegawai lingkup Kementerian Agama Kabupaten Konawe.
Peringatan HAB ke-79 tahun 2025 kali ini mengusung tema “Membangun Karakter Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045”.
I Made Asmaya mengungkapkan bahwa HAB ke-79 ini menandai momentum refleksi bagi seluruh jajaran Kemenag, untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik serta memperkokoh kerukunan antarumat beragama.

Oplus_131072
Ketua DPRD Konawe I Made Asmaya juga mengungkapkan apresiasinya terhadap dedikasi Kementerian Agama dalam menjaga stabilitas dan harmoni di tengah keberagaman masyarakat, khususnya di Kabupaten Konawe.
“Kementerian Agama telah menunjukkan peran yang luar biasa dalam membimbing umat dan menjaga moderasi beragama. Kami dari legislatif sangat mengapresiasi sinergi yang telah terbangun selama ini,” kata I Made Asmaya.
I Made Asmaya berharap, momentum Hari Amal Bhakti ini menjadi titik balik semangat pengabdian aparatur Kementerian Agama, sejalan dengan misi transformasi layanan yang diinisiasi pemerintah pusat.
“Semoga di usia ke-79 ini, Kementerian Agama terus bertransformasi menjadi lembaga yang semakin inovatif dan dicintai masyarakat dalam memberikan pelayanan di bidang keagamaan,” ujar I Made Asmaya.(Adv)
ADVETORIAL/PARIWARA
HUT Konawe ke-65: Harmoni Ritual Mosehe Wonua dan Gemerlap Pawai Budaya Memukau Ribuan Warga
Konawe, Bursabisnis.id-Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Konawe ke-65 diwarnai pawai budaya, tarian tradisional Tolaki, hingga ritual adat Mosehe Wonua. Ritual sakral dan pawai budaya ini membawa suasana khidmat, menghipnotis ribuan pasang mata.
HUT kali ini mengusung tema “Menjaga Kearifan Lokal Menuju Konawe Bersahaja”, dilaksanakan pada Jumat, 16 Mei 2025,
Rute yang membentang dari Inolobunggadue Central Park (ICP) hingga Laika Mbu’u seolah menjadi panggung terbuka bagi kekayaan budaya Tolaki. Masyarakat mengular memadati jalanan demi menyaksikan barisan demi barisan yang memamerkan keindahan busana adat serta ritual-ritual yang sarat akan makna filosofis.

Diantara barisan peserta, kehadiran perwakilan dari Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Konawe menjadi sorotan utama. Mereka dengan anggun mempersembahkan tarian Wulele Sanggula, sebuah representasi visual yang menggambarkan keelokan perempuan Tolaki di Bumi Konawe.
Gerakan lemah gemulai para penari yang berpadu dengan busana adat tradisional menciptakan daya tarik tersendiri bagi penonton.

Sekretaris DPRD (Sekwan) Konawe, Sumanti, S.Sos, M.AP, menegaskan bahwa partisipasi pihaknya dalam menampilkan tarian legendaris ini merupakan wujud nyata kepedulian untuk menjaga warisan leluhur.
“Budaya adalah identitas kita. Kita wajib menjaga dan merawatnya agar tidak lekang tergerus arus digitalisasi yang semakin pesat,” tegas Sumanti.
Tidak hanya tarian, barisan Sekretariat DPRD Konawe juga membawa spanduk Kalosara, simbol pemersatu yang paling luhur di tanah Tolaki. Kehadiran simbol ini melambangkan semangat persatuan dalam keberagaman yang ada di DPRD Konawe. Meskipun berasal dari latar belakang etnis yang berbeda, seluruh elemen bersatu di bawah filosofi “Medulu Mepokoaso”.

“Semangat kebersamaan dan persatuan dalam bingkai Kalosara inilah yang menjadi modal utama kita untuk membangun Konawe yang lebih baik,” kata Sumanti.
Momentum HUT ke-65 ini menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa dibalik kemajuan zaman, kekuatan identitas lokal tetap menjadi fondasi utama dalam mewujudkan visi Konawe yang Bersahaja.(Adv)
-
ENTERTAINMENT7 years agoInul Vista Tawarkan Promo Karaoke Hemat Bagi Pelajar dan Mahasiswa
-
Rupa-rupa7 years agoDihadiri 4000 Peserta, Esku UHO dan Inklusi Keuangan OJK Sukses Digelar
-
PASAR7 years agoJelang HPS 2019, TPID: Harga Kebutuhan Pokok Relatif Stabil
-
Entrepreneur7 years agoRumah Kreatif Hj Nirna Sediakan Oleh-oleh Khas Sultra
-
Fokus7 years agoTenaga Pendamping BPNT Dinilai Tidak Transparan, Penerima Manfaat Bingung Saldo Nol Rupiah
-
Fokus1 year agoUsai Harumkan Nama Wakatobi, Pelatih Atlit Peraih Medali Emas Jual Hp Untuk Ongkos Pulang
-
FINANCE7 years agoOJK Sultra Imbau Entrepreneur Muda Identifikasi Pinjol Ilegal Melalui 2L
-
PERTAMBANGAN1 year ago25 Perusahaan Tambang di Sultra Dihentikan Sementara Operasinya
