Connect with us

Ekonomi Makro

Bonus Demografi 2030, Ini Peluang Indonesia Ciptakan Kesempatan Kerja

Published

on

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita

JAKARTA, Bursabisnis.id – Indonesia akan memasuki puncak bonus demografi pada tahun 2030 mendatang. Hal ini menjadi kekuatan bagi Indonesia dengan memiliki penduduk usia produktif (15-64 tahun) berjumlah lebih besar dibandingkan usia nonproduktif (65 tahun ke atas), dengan proporsi mencapai 67.5% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Bonus demografi tentunya merupakan peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia, untuk menciptakan kesempatan kerja dan membangun daya saing SDM.

Sektor industri manufaktur merupakan prime mover dari perekonomian nasional yang dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya adalah sebagai kontributor terbesar terhadap PDB nasional. Industri pengolahan nonmigas diharapkan mampu menjadi pilar pembangunan untuk mewujudkan Visi Indonesia Maju 2045, yakni menjadi salah satu dari lima kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

“Untuk mencapainya, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035, meliputi industrialisasi berbasis hilirisasi industri, pemanfaatan teknologi dan digitalisasi melalui Making Indonesia 4.0, pengembangan industri hijau untuk pertumbuhan berkelanjutan, dan tentunya penguatan SDM Industri sebagai pondasi dari berbagai kebijakan tersebut,” papar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam Kuliah Umum bersama para mahasiswa dan siswa sekolah Kemenperin di Politeknik ATI Padang sebagaimana dilansir dari laman kemenperin.go.id pada Kamis, 7 September 2023.

Untuk mewujudkan agenda Visi Indonesia Maju 2045, industri manufaktur sebagai pilar pembangunan juga harus tumbuh dalam fase dan kecepatan yang diharapkan. Saat ini, Indonesia sudah keluar dari middle income trap dan masuk menjadi bagian middle income countries.

“Sekarang pendapatan perkapita rata-rata adalah USD4.400 dan kita berharap dengan berbagai kebijakan dalam dua tahun ke depan, bisa mencapai titik USD5.500. Suatu target yang sangat challenging, tapi sebagai bangsa besar, kita harus berani menetapkan agenda besar,” tegas Menperin.

Pola kerja masyarakat di dunia terus berubah seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Disrupsi di berbagai sektor menuntut adaptasi yang cepat dengan munculnya pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan penguasaan keahlian baru. Dalam Future of Jobs Report World Economic Forum (WEF) tahun 2023, di era Industri 4.0 terdapat pekerjaan baru yang muncul maupun hilang sepanjang tahun 2023-2027 seiring perkembangan teknologi.

Untuk itu, Menperin berpesan kepada para siswa dan mahasiswa agar terus mengembangkan potensi diri dengan belajar dari berbagai sumber. “Setidaknya ada tiga literasi baru yang harus dikembangkan, yaitu literasi data, literasi teknologi, serta literasi sosial, yaitu kecakapan komunikasi, kemampuan berpikir kritis dan sistemik, kepemimpinan, kecerdasan emosional, kecerdasan budaya, kewirausahaan, dan yang tak kalah penting adalah kecerdasan spiritual,” papar Agus.

Menperin juga menekankan pentingnya mempersiapkan mindset untuk berani berpikir dan melangkah di luar kebiasaan. “Harus berani berpikir dan melangkah out of the box dalam mencari solusi-solusi yang dihadapi bangsa kita, khususnya yang dihadapi oleh industri, serta bagaimana pemikiran out of the box itu bisa menjawab tantangan dengan cepat,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Menperin mengucapkan selamat kepada para mahasiswa baru yang diterima di Politeknik ATI Padang. Para mahasiswa diharapkan dapat menjadi Agent of Change atau SDM yang mampu membawa perubahan bagi industri nasional sebagai tulang punggung perekonomian.

“Kalian merupakan putra-putri terpilih yang telah lolos seleksi dengan menyisihkan ribuan pendaftar. Manfaatkan kesempatan yang diperoleh dan semoga sukses dalam menjalani pendidikan, serta dapat memberikan kontribusi besar kepada bangsa Indonesia khususnya kemajuan industri nasional,” kata Menperin memberikan semangat.

Sebagai upaya menyiapkan SDM industri yang kompeten, Kemenperin saat ini telah menyediakan infrastruktur dan sarana prasarana melalui 11 Politeknik, dua Akademi Komunitas, sembilan SMK Vokasi Industri, dan tujuh Balai Diklat Industri yang berada di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin. Menurut Menperin, tantangan dalam pengembangan SDM industri saat ini adalah untuk mencetak SDM industri dalam jumlah banyak. Ia meyakini unggulnya kualitas pendidikan di sekolah dan politeknik vokasi milik Kemenperin, namun peningkatan kuantitas untuk mengejar kebutuhan sektor industri sangat diperlukan.

Seluruh satuan pendidikan Kemenperin tersebut ditetapkan dengan spesialisasi tertentu di bidang industri, dan telah link and match dengan dunia usaha industri. Menperin mengungkapkan kebanggaannya atas tingkat serapan lulusan dari Politeknik dan SMK Kemenperin yang tinggi oleh industri, dengan masa tunggu tidak sampai satu tahun.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri Masrokhan menyampaikan bahwa upaya peningkatan kualitas pendidikan vokasi terus dilakukan Kemenperin. Semua unit pendidikan vokasi yang dimiliki Kemenperin, baik Politeknik, Akademi Komunitas maupun SMK-SMTI/SMAK ditargetkan menghasilkan lulusan yang unggul dan berdaya saing global. Selain itu, mendorong setiap unit pendidikan vokasi untuk bisa memenuhi program one vocational unit, one great achievement.

Politeknik ATI Padang saat ini memiliki spesifikasi di bidang industri agro, sesuai dengan kompetensi inti di wilayah Sumatera Barat yang memiliki kekuatan dan kekhasan di bidang pengolahan pangan. Politeknik tersebut memiliki Program Diploma IV dengan program studi Teknologi Rekayasa Bioproses Energi Terbarukan sebagai program studi baru.

“Tidak saja menjadi peningkatan jenjang pendidikan ke level sarjana terapan, program studi tersebut juga bisa mengantisipasi kebutuhan industri di masa depan dalam mendukung hilirisasi dan pengembangan industri hijau,” ujar Masrokhan.

Penulis : Rustam

Continue Reading

Ekonomi Makro

Forum Ekonomi Regional Soroti Tata Kelola Sumber Daya Alam Sultra

Published

on

By

KENDARI, Bursabisnis. Id – Forum Ekonomi Regional (FER) Sulawesi Kendari 2026 mendorong pentingnya pergeseran paradigma pengelolaan sumber daya alam (SDA) berbasis ekoteologi, guna mencegah eksplorasi pertambangan melampaui daya dukung lingkungan di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Dorongan tersebut menjadi benang merah dalam rangkaian dialog yang diselenggarakan oleh Kabar Grup Indonesia (KGI) bekerja sama dengan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tenggara di Amphitheater Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari, Sulawesi Tenggara pada Rabu, 26 Agustus 2026.

CEO KGI, Upi Asmaradhana, dalam pidato sambutannya (welcome remarks) menegaskan bahwa forum ini dibentuk sebagai ruang gagasan untuk melahirkan rekomendasi konkret terkait tata kelola industri yang seimbang. 

“Forum ekonomi regional ini adalah sebuah gagasan yang kita bentuk untuk memberi sumbangsih pemikiran buat seluruh stakeholder, yang kemudian kita maksimalkan agar menghasilkan rekomendasi-rekomendasi,” ujar Upi. 

Ia menambahkan bahwa tema ekoteologi diangkat untuk memastikan pengembangan industri tetap menjaga kelestarian alam. 

CEO KGI Upi Asmaradhana

“Bagaimana pengembangan ekoteologi itu, bagaimana pembangunan industri itu tidak mengeksploitasi, tetapi mengeksplorasi,” tegasnya. 

Upi menguraikan bahwa rekomendasi forum ini akan diserahkan ke Kementerian ESDM dan Kementerian Agama, sekaligus mendorong UIN Kendari menjadi pusat studi ekoteologi. 

“Sehingga kemudian gagasan lahirnya konsep ekoteologi itu kemungkinan besar akan ada pusat studinya, kalau bukan di UIN Kendari, di IAIN Pontianak, Kalimantan Barat. Nanti tim perumus dari pakar Forum Ekonomi Regional itu menjatuhkan pilihannya ke Kendari,” tutur Upi.

*Penguatan Paradigma Ekoteologi Memperjelas Transparansi Fiskal Daerah*

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, saat memberikan sambutan pembukaan resmi menguraikan bahwa ekoteologi menggabungkan nilai kesadaran spiritual (spiritual science) dan fisika kuantum untuk menjaga keseimbangan alam. 

“Kenapa ini sangat istimewa? Karena kita bicara ekoteologi. Kita tidak hanya bicara ekosistem, kita bicara Tuhan, kita bicara masyarakat (people), dan kita bicara lingkungan. Spiritual science dan science itu dua hal yang tidak pernah berpisah,” ungkap Hugua. 

Mantan penggiat lingkungan ini memperingatkan pengusaha tambang mengenai hukum alam (law of attraction). 

“Kalau anda merusak alam semesta, alam semesta akan kembali membalas. Law of attraction, hukum alam semesta,” tegasnya. 

Hugua membeberkan bahwa sektor pertanian menyumbang 23 persen PDRB Sultra, disusul pertambangan 20 persen dan perdagangan 15–18 persen. 

“Artinya apa? Kalau mau menjaga ekosistem Sulawesi Tenggara, bukan tambang. Kalau mau menjaga ekoteologi Sulawesi Tenggara adalah sektor pertanian dan perdagangan. Itu fakta hukum dan fakta ekonomi,” pangkas Hugua. 

Ia juga menyoroti ketimpangan fiskal di mana kontribusi tambang Sultra mencapai Rp188 triliun untuk negara, namun dana transfer daerah yang kembali hanya Rp207 miliar. 

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana, memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan persepsi data pertambangan tersebut.

Dadan menjelaskan bahwa angka Rp188 triliun merupakan nilai ekonomi total pertambangan, bukan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) minerba yang disetor ke pusat. 

“Supaya clear nih angka Rp180 triliun tadi dengan angka yang ada di kami. Kontribusi penerimaan negara dari mineral dan batu bara secara nasional tahun lalu adalah Rp130 triliun. Jadi asumsi saya, angka Rp180 triliun yang dimaksud adalah nilai ekonominya, bukan kontribusi penerimaan negara yang disetorkan ke pemerintah pusat,” jelas Dadan.

Dadan menerangkan bahwa dari total PNBP minerba, sebesar 80 persen dikembalikan ke daerah melalui skema Dana Bagi Hasil (DBH) dalam APBN, sedangkan pusat hanya mengambil 20 persen. 

“Dana bagi hasil yang diambil pusat itu hanya 20 persen, sementara 80 persennya itu kembali ke daerah. Kalau dihitung di bagian provinsi memang tidak besar. Tapi kalau dihitung di bagian kabupaten yang ada tambangnya, itu besar,” terangnya.

*Hilirisasi Nikel Mendorong Alokasi DBH dan Pemberdayaan UMKM*

Pada sesi Panel Diskusi 1, para narasumber membedah penguatan fondasi kebijakan lokal, hilirisasi, dan porsi DBH. Pakar Ekonomi Abdul Rahman Farisi menyoroti perlunya pembagian manfaat yang proporsional bagi daerah penghasil. 

“Mustahil bagi kita hanya melihat debu atau merasakan dampaknya tanpa sharing dari DBH yang lebih besar bagi pemerintah dan kabupaten/kota Sulawesi Tenggara di wilayah pertambangan,” kata Abdul Rahman.

Ia mengusulkan agar 30 persen alokasi DBH dimanfaatkan untuk pengembangan sumber daya manusia.

“Jika perlu kita perda 30 persen dari DBH harus dialokasikan untuk beasiswa pendidikan,” usulnya. Ia menekankan agar keberadaan industri nikel memberi ruang bagi UMKM lokal. 

“Jika kedua hal ini dilakukan, maka kita berubah dari hanya penonton menjadi penerima manfaat,” ujar Abdul Rahman.

Pada sesi tanya jawab Panel Diskusi 1, peserta dan penanggap membahas mekanisme pengawasan alokasi DBH serta kesiapan pelaku UMKM dan media lokal dalam mengawal transparansi industri pertambangan di Sulawesi Tenggara.

Tantangan Investasi Daerah Menyingkap Potensi Pesisir dan Hak Ekologis

Sesi Panel Diskusi 2 memperluas pembahasan pada dimensi sosiologis, regulasi, serta tantangan investasi di daerah.

Bupati Buton Selatan, Muhammad Adios, membongkar hambatan investasi dan lambannya hilirisasi di wilayahnya meski memiliki potensi perikanan serta deposit aspal seluas 5.000 hektar di Kecamatan Sampolawa. 

“Di Buton Selatan, wilayah ini sangat kaya. Kaya di laut, kaya di darat, dan kaya di dalam tanah,” ungkap Adios.
Adios mengungkapkan fakta memprihatinkan saat musim panen ikan akibat minimnya fasilitas pendingin.

“Ketika musim ikan, hasil tangkapan di Kabupaten Buton Selatan ini bahkan tidak bisa ditampung lagi di Baubau. Para nelayan sampai menimbun atau mengubur ikan-ikan itu. Ini bagian dari fakta yang ada,” bebernya. 

Ia juga mengkritik rumitnya prosedur investasi serta mandeknya penyerapan aspal Buton di tingkat nasional.

“Saya pernah mengajak Ketua Kadin Kota Kendari untuk berinvestasi di Buton Selatan, tapi rupanya memang investasi hari ini agak merepotkan,” akunya. 

Adios menegaskan bahwa pengelolaan SDA Buton Selatan harus memegang teguh kearifan lokal. “Nilai ekoteologi dan ketuhanan inilah yang menjadi benteng kita menjaga alam,” tegasnya.

Pada sesi tanya jawab Panel Diskusi 2, para peserta menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat pesisir dalam penyusunan dokumen lingkungan serta perlindungan hak-hak ekologis warga dari dampak ekspansi industri.

Forum Ekonomi Regional yang diinisiasi oleh Kabar Grup Indonesia (KGI) merupakan ruang dialog strategis yang mempertemukan pemerintah pusat dan daerah, regulator, akademisi, pelaku usaha, serta industri keuangan untuk merumuskan langkah konkret pengembangan ekosistem ekonomi di daerah .

Kegiatan ini juga merupakan kelanjutan dari penyelenggaraan Forum Ekonomi Regional sebelumnya di Jakarta, (26 Februari 2025), Makassar (21 November 2025), Pontianak (30 Oktober 2025), Palembang (20 April 2026), Yogyakarta (4 Juni 2026) dan Sumedang (23 Juni 2026).

Rangkaian FER Sulawesi Kendari 2026 yang disokong oleh berbagai pihak seperti Bank Indonesia (BI), Athaya, PT Trio Kencana, Kaukus Timur Indonesia, serta BPD HIPMI Sultra ini ditutup dengan penyusunan rumusan rekomendasi.
 
Seluruh materi dan publikasi kegiatan turut dikawal oleh puluhan media partner, antara lain Bursabisnis. Id, KabarIndonesia, KabarBursa, Kabar Makassar, MCNnewsultra.id, Sultranesia, Lajur.co, Zonasultra.id, Panjikendari.com, Detiksultra, Sultraline.id, Kendarinesia, Lenterasultra.com, Tegas.co, Teramedia.id, Inilahsultra.com, Kendari Merdeka, Kilas Sultra, Bumisultra.com, Sultrakini.com, Bentaratimur.com, Sultratop.com, serta Serambi Muslim.

Laporan : Tam

Continue Reading

Perbankan

BRI Kendari By Pass Gelar Upacara HUT RI ke-81: Perkuat Semangat Persatuan Berkontribusi Untuk Negeri

Published

on

By

Kendari, Bursabisnis.id-BRI Kantor Cabang Kendari By Pass menggelar upacara peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Senin, 17 Agustus 2026. Mengusung tema “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, momentum ini menjadi pengingat bagi seluruh Insan BRILiaN untuk terus memperkuat kebersamaan, bekerja dengan integritas, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan kemajuan Indonesia.

Peringatan kemerdekaan tahun ini berlangsung di tengah duka akibat gempa bumi 7,7 SR di NTT. Dalam amanat yang dibacakan Dennis Tubalawony selaku perwakilan Pemimpin Cabang BRI Kendari By Pass, Irsan Junud, keluarga besar BRI berbelasungkawa atas musibah ini. Empati yang dalam disampaikan kepada para korban atau penyintas bencana, tak terkecuali Insan BRILiaN yang terdampak.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa semangat kemerdekaan juga tercermin melalui kepedulian dan kebersamaan, terutama dalam memberikan dukungan kepada sesama ketika menghadapi musibah.

Dalam amanatnya yang dibacakan oleh Dennis Tubalawony selaku perwakilan Pemimpin Cabang BRI Kendari By Pass, Irsan Junud, bahwa makna 81 tahun setelah proklamasi kemerdekaan, perlu diwujudkan melalui kontribusi nyata unuk masyarakat.

“Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, tugas kita bukan lagi memproklamasikan kemerdekaan. Tugas kita adalah memastikan kemerdekaan itu benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia,” kata Dennis, Tubalawony, menyampaikan amanat Irsan Junud.

Menurutnya, semangat persatuan menjadi fondasi penting dalam mengisi kemerdekaan. Bagi Insan BRILiaN, semangat tersebut diwujudkan melalui kerja sama, integritas, kepedulian, dan komitmen untuk memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.

Kemerdekaan adalah ketika masyarakat memiliki akses terhadap modal dan pasar, pelaku usaha kecil memiliki kesempatan untuk tumbuh, serta setiap rupiah yang dikelola dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Hal ini sejalan dengan peran BRI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui pemberdayaan UMKM, penguatan ekonomi desa, serta perluasan akses keuangan. Hingga Triwulan II 2026, BRI telah memperluas pembiayaan UMKM hingga mencapai Rp1.235 triliun atau 75,2% dari total portofolio kredit. BRI juga telah menyalurkan KUR sebesar Rp103,8 triliun sepanjang 2026, dengan 42,68% diantaranya mengalir ke sektor pertanian.

Di sisi inklusi keuangan, hingga Juni 2026 BRI memiliki 1,13 juta Agen BRILink dan lebih dari 7.000 jaringan kantor. Sementara itu, BRImo telah diakses oleh 49,7 juta pengguna. BRI juga terus mendorong UMKM naik kelas melalui pemberdayaan lebih dari 43 ribu Klaster Usaha dan lebih dari 5 ribu Desa BRILiaN.

BRI turut mendukung berbagai program pemerintah, termasuk KDKMP dan Makan Bergizi Gratis (MBG), melalui pendampingan usaha dan akses terhadap layanan keuangan. Dukungan BRI juga mencakup 1,4 juta Pekerja Migran Indonesia (PMI) sebagai Pahlawan Devisa hingga Juni 2026.

Lebih lanjut, Dennis mengungkapkan bahwa berbagai inisiatif ini merupakan bagian dari upaya BRI untuk menghadirkan manfaat ekonomi yang semakin luas sekaligus mendukung terciptanya kesejahteraan masyarakat.

“Selama masih ada yang belum memiliki kesempatan untuk tumbuh, pekerjaan kita belum selesai. Untuk itu, saya mengajak seluruh Insan BRILiaN untuk terus berkarya bagi BRI sebagai bentuk bakti untuk negeri. Jadikan setiap langkah dan setiap kontribusi kita sebagai bagian dari perjuangan mengisi kemerdekaan,” katanya.

Ia juga mengajak seluruh Insan BRILiaN untuk memperkuat semangat persatuan dan kolaborasi dalam menjalankan tugas. Tim yang solid dan mampu bekerja bersama menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan sekaligus memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah.

“Bersama, kita perkuat BRI sebagai Satu Bank untuk Semua, melayani dari desa hingga kota, menggerakkan ekonomi rakyat, serta memberikan kontribusi terbaik untuk mewujudkan rakyat yang sejahtera dan Indonesia yang semakin maju,” kata Dennis.

Melalui peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, BRI Kendari By Pass berkomitmen untuk terus menumbuhkan semangat nasionalisme, persatuan, kepedulian, integritas, dan kolaborasi sebagai bagian dari kontribusi Insan BRILiaN dalam mengisi kemerdekaan serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.***

Continue Reading

Perbankan

BRI Kendari By Pass Gelar Brilian Culture Fest, Perkuat Kolaborasi dan Kekompakan Tim

Published

on

By

Kendari, Bursabisnis.id-BRI Kantor Cabang Kendari By Pass menggelar Brilian Culture Fest (BCF), Minggu 16 Agustus 2026, di Ballroom Hotel Zahid Azizah Syariah, Kendari. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi, menciptakan pengalaman bermakna, serta membangun kekompakan dan soliditas tim dalam menjalankan aktivitas pekerjaan.

Pemimpin Cabang BRI Kendari By Pass, Irsan Junud, mengatakan bahwa Brilian Culture Fest tidak hanya menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya kolaborasi di lingkungan kerja.

“Brilian Culture Fest menjadi momentum bagi kami untuk memperkuat kolaborasi dan menciptakan pengalaman yang bermakna bagi seluruh pekerja. Dengan kebersamaan yang semakin kuat, kami berharap tim dapat semakin solid, saling mendukung, dan mampu berkolaborasi dengan lebih baik dalam menjalankan pekerjaan maupun memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah,” ujar Irsan Junud.

Menurut Irsan, kekuatan sebuah tim tidak hanya dibangun melalui aktivitas pekerjaan, tetapi juga melalui interaksi, kebersamaan, dan pengalaman positif yang dapat mempererat hubungan antarpersonel.

Melalui kegiatan ini, pekerja BRI Kendari By Pass mendapatkan kesempatan untuk membangun komunikasi dan interaksi dengan atmosfer lebih erat dan kolaboratif. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan kerja yang semakin solid, harmonis, dan mendukung pencapaian kinerja bersama.

Selain Pemimpin Cabang BRI Kendari By Pass, Irsan Junud dan manajemen, event ini juga dihadiri Area Head BRI Wisnu Aji Wibowo. Kehadiran jajaran pimpinan menjadi bentuk dukungan terhadap upaya penguatan budaya perusahaan serta kolaborasi di lingkungan kerja BRI.

Irsan menambahkan, tim yang solid merupakan salah satu fondasi penting dalam menghadapi berbagai tantangan pekerjaan. Dengan semangat kolaborasi dan rasa kebersamaan yang terbangun, setiap pekerja diharapkan dapat memberikan kontribusi terbaik sesuai peran masing-masing.

“Kami ingin pengalaman yang tercipta melalui kegiatan ini dapat membawa energi positif ke dalam pekerjaan sehari-hari. Ketika komunikasi, kolaborasi, dan rasa saling mendukung semakin kuat, kami percaya tim akan menjadi semakin solid dan mampu memberikan kontribusi terbaik bagi BRI serta nasabah,” kata Irsan.

BRI Kendari By Pass berkomitmen untuk terus membangun lingkungan kerja yang positif dengan memperkuat budaya kolaborasi, kebersamaan, dan engagement pekerja sebagai bagian dari upaya menciptakan tim yang solid serta memberikan layanan terbaik kepada nasabah.***

Continue Reading

Trending