opini
Jalan Panjang Perjuangan dan Pengabdian, Menyongsong 1 Dekade GMNI Kendari
GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA (GMNI) Kendari bersiap menggelar hajatan besar. Sebuah momentum ideologis, meneguhkan kembali khitah perjuangan GMNI Kendari tanpa tercerabut dari kultur ideologisnya dan geografisnya.
Ulasan ini hanya sekedar refleksi, untuk kader dalam menyongsong semangat dan harapan baru ke depan. Tak akan cukup hanya sekadar kata ini untuk menggambarkam jalan panjang perjuangan yang penuh lika liku, sebab di sana bicara perjuangan, pengabdian, semangat, impian ke depan.
Temu Marhaenis, 1 Dekade GMNI Kendari dengan tema : “Arah Ideologi, Konsolidasi Kader, dan Transformasi Perjuangan Marhaenis dari Masa ke Masa”
Hajatan tersebut akan di gelar tanggal 8 Maret 2026, di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara menjadi sebuah moment spesial, strategis, dan istimewa bagi kader yang juga meneguhkan kembali semangat historis tentang akar terbentuknya GMNI Kendari.
Kita tau, kita sedang menapaki jalan panjang perjuangan. Sebab aku dan kita semua yang sempat membaca sepenggal tulisan tersirat dan tersurat ini, kita seorang marhaenis tidak boleh begini terus.
Generasi kita harus bangkit, maju, dan mencapai mimpi-mimpi kita. Cita-cita harus terus dirawat dan diperjuangkan. Tidak sepatutnya kita apatis dan merasa bodoh. Ini tentang regenerasi, kepemimpinan, dan masa depan, sebab ada tugas dan tanggung jawab moral, ideologi, organisasi, dan sejarah yang kita pikul.
Penulis bicara tegas dah apa adanya, sebuah dorongan untuk menegaskan kembali arah serta khitah perjuangan. meneguhkan arah gerakan dan gagasan tentang prospek di masa depan.
*Optimisme Ke Depan*
Gerakan mahasiswa tak boleh hanya menjadi ruang diskusi yang hampa tanpa tindakan, tapi harus kembali pada napas perjuangan kerakyatan yang menjadi jantung GMNI sejak kelahirannya.
Tapi juga harus tetap relevansi dengan detak jantung modernisasi yang serba tak pasti. Proses ideologisasi, doktrin perjuangan, penguatan kepemimpinan yang progresif dan tetap kritis terhadap situasi menjadi refleksi yang juga catatan kritis untuk tetap bergerak.
Apalagi forum tersebut dirancang bukan sebagai acara seremonial, melainkan ruang tukar gagasan. Momentum ini tidak boleh dianggap sekadar seremonial, penggugur tanggung jawab yang terlewat begitu saja, tetapi harus benar-benar terpatri dalam jiwa setiap insan Marhaenis.
Pasalnya, sudah terlalu lama kita hidup dalam luka yang dibalutnya sendiri. Berjuang dengan pamrih, penuh konsistensi, dedikasi dan tanpa kenal lelah menjadi bentuk pengabdian nyata yang juga hadir atas rasa cinta. Marhaenis Kendari dalam lintasan generasi telah menorehkan fondasi kokoh yang juga tinta emas, bukan hanya untuk di kenang ataupun menjadi mitos, tetapi mesti menjadi inspirasi dan cahaya untuk generasi baru yang terap tegak lurus dengan prinsip perjuangan “Marhaenisme”.
Bagi kawan, di beberapa sela diskusi ia berujar, “kita ini sudah terlanjur cinta kepada GMNI, apapun yang terjadi kita merasa bertanggung jawab semua. Kondisi kita sekarang adalah konsekuensi dari pilihan kita di masa lalu, jadi harus siap bertempur dan berjuang dengan berbagai tantangan yang ada”.
GMNI Kendari telah melewati pasang surut, ada dinamika, gejolak, suka duka, pilihan sulit hingga apapun itu namanya tak pernah sedikitpun pasrah.
Suara-suara telah diteriakkan dan panji merah telah dikibarkan. Harapan melambung tinggi, berkali-kali persatuan di jahit dengan penuh lirih, kata demi kata ini adalah ungkapan hati yang penuh harap tentang kebaikan GMNI ke depan.
Saya yakin kader lain pun merasakan hal yang sama, sebab kita yang gandrung akan persatuan dan gotong royong pasti mengilhami hal tersebut.
Tetapi akan menjadi sebuah ironi jika organisasi yang lahir dari semangat nasionalisme dan cita-cita Marhaenisme yang mengajarkan persatuan, keberanian, dan kesetiaan kepada rakyat kecil justru kehilangan khitah perjuangan dalam refleksi perjalanan yang sudah sejauh ini.
Ini tak boleh terjadi, tergerus dalam arus perkembangan global apa lagi gimik kepentingan politik sesaat.
*Marhaenis di Simpang Kiri Jalan*
Marhaenis tetap harus berada di simpang kiri jalan, berteriak diatas podium dengan lantang, bersuara di forum dan terus menghiasi percakapan publik dengan gagasan, ide dan harapan tentang nasib baik rakyat kecil.
Di Kota Kendari terlihat barisan kader yang berjuang di jalanan tanpa legitimasi formal, namun bergerak melalui semangat keikhlasan untuk mengabdi kepada bangsa ini, membentuk jati diri kepemimpinan, mengasah kritis dan respon pada kebijakan pemerintah.
Forum ideologis harus terus menjadi kawah candradimuka membentuk karakter pemimpin bangsa, untuk mengisi ruang pengadilan di berbagai sektor strategis.
Sebuah pesan, organisasi mahasiswa kerap terjebak dalam “fragmentasi egosentris” yang kehilangan konteks praksisnya. Meskipun GMNI hari ini menghadapi hal serupa, kita tidak boleh tergiring dalam konflik kepentingan atau apapun itu dengah segala embel-embelnya dan tetek bengeknya.
Saya percaya setiap kader merindukan kejayaan dan kemenangan. Suatu masa di mana semua merasa bisa berdaya, tapi itu adalah proses yang semuanya sedang menuju di sana sebab tak ada yang instan. Semuanya harus di perjuangkan dan di usahakan dengan baik.
GMNI tetap menjadi ruang pembentukan gagasan, ide, dan pemikiran tajam untuk masa depan yang lebih baik. Sejak awal, GMNI bukan sekadar organisasi mahasiswa.
Ia adalah ruang ideologis yang lahir untuk berjuang dan menegakkan nasionalisme yang berjiwa sosial sebagaimana ajaran Bung Karno. Ideologi jangan hanya berhenti sebagai slogan, tetapi tindakan kongkret yang berdampak.
Marhaenisme harus tetap membumi sebagai wujud nyata perubahan melalui refleksi jujur tentang keberpihakan kepada kaum kecil, serta pergulatan intelektual yang menyalakan kesadaran akan akar kultural kita.
Sejarah gerakan mahasiswa mengingatkan bahwa ketika organisasi kehilangan kohesi ideologis, ia akan kehilangan daya kritis terhadap kekuasaan.
Gerakan yang semula lahir sebagai penantang akhirnya hanya menjadi pelengkap kekuasaan, bukan lagi kekuatan moral, melainkan sekadar alat reproduksi elite politik. GMNI tak boleh terjerumus dalam hal tersebut
Karena ketika idealisme digantikan oleh kalkulasi kekuasaan, organisasi kehilangan jiwanya. Kita tidak menginginkan GMNI diombang-ambingkan oleh kepentingan kekuasaan yang menindas. Ini adalah kritik dan otokritik yang mesti melahirkan sintesis baru dalam akumulasi segala dinamika yang ada.
Para kader tidak boleh sekadar mencari pengakuan, tetapi harus menjalankan amanat ideologi, tanggung jawab organisasi dan tuntutan sejarah.
Hal ini dimulai dari kesadaran moral bahwa GMNI bukan milik segelintir pihak melainkan milik seluruh kader yang masih percaya bahwa api Nasionalisme masih menjadi benang yang bisa merajut perbedaan dan Marhaenisme tetap menjadi asas perjuangan yang akan tetap relevant mengikuti arus perkembangan zaman.
*GMNI Menjadi Lokomotif dan Kawah Candradimuka*
GMNI tetap menjadi lokomotif, pelopor dan kawacandradimuka untuk setiap insan Marhaenis pejuang pemikir- pemikir perjuang.
Kita sedang merintis di atas jalan terjal perjuangan untuk terus mengumpulkan secercah percikan api agar menjadi kekuatan dan cahaya yang selalu mengiringi perjalanan kita. Tentang harapan yang kita perjuangkan, mungkin tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi semoga itu menjadi pelajaran dan pengalaman dari setiap kejadian itu sendiri.
GMNI membutuhkan pemurnian nilai. Kita perlu menatap ulang akar Marhaenisme bukan sekadar sebagai doktrin politik, melainkan sebagai ajaran kemandirian, kebersamaan, dan pengabdian pada rakyat.
GMNI adalah nama yang penuh makna dan istimewa di relung hati para kadernya. Ia hidup sebagai lambang, seperti bendera yang masih berkibar sebagai detak jantung perjuangan. Seperti pekikan tangan kiri yang selalu menjadi simbol perlawanan dan seperti gelaran tetrikal dan suara puisi sebagai reaksi balik atas seme menanya kekuasaan.
Warna merahnya akan tetap menyala, dan darah ideologinya mengalir di setiap nadi untuk membangun komitmen, cinta, dan harapan dan semangat berkarya, mencipta dan memimpin.
*Transformasi Perjuangan Marhaenis dari Masa ke Masa*
Menyongsong hajatan besar ini, dalam refleksi tersimpan banyak harapan dan impian yang belum banyak terwujud. Tapi ia bergerak seperti gayun bersambut yang saling menghubungkan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Tanggung jawab Marhaenis sejati adalah terus bekerja dengan pikiran, hati, dan jiwa yang ikhlas, serta tak lupa bagaimana ia terus belajar untuk menyiapkan bekal di masa depan.
Ketika momentum, peluang, kesiapan bertemu dalam satu titik maka menjadi sesuatu yang tak bisa kita lewatkan.
Mari kita sambut moment besar ini dengan nuansa kekeluargaan, sebagai upaya bersama merawat ingatan, menolak lupa atas rasa cinta kepada GMNI dan Ibu pertiwi, cinta yang terus hidup di setiap diskusi malam hingga jelang subuh, ditemani secangkir kopi dan rokok meskipun di tengah keterbatasan.
Menyalakan harapan adalah tanda bahwa kita memiliki prospek masa depan. Sekali lagi, 1 Dekade GMNI Kendari bukanlah agenda euforia semata, melainkan momen mengambil hikmah dari perjalanan panjang perjuangan.
Terus mendorong kepemimpinan yang progresif dan revolusioner, mengisi pos-pos kritis di berbagai sektor dan melakukan gebrakan intelektual, terobosan program, dan sesuatu yang berdampak pada perubahan kongkret.
Orientasi dan tujuan GMNI Kendari harus terukur, jelas, tepat sasaran, dan berdampak nyata. Ujian independensi akan selalu ada. Godaan akan muncul seperti ombak yang menyeret kita pada pusaran kepentingan praktis.
Pelajaran berharga bagi kita adalah kecerdasan dalam membaca peta politik dan sosial, kemampuan menjaga stamina kader, serta kematangan dalam mengelola konflik kepentingan.
*GMNI Go To Kampus*
GMNI perlu menyegarkan kembali wawasan kemahasiswaan sebagai organisasi berbasis intelektual muda, di mana idealisme pemuda menjadi pilar penyangga jati diri bangsa.
Marilah kita tetap bersatu dan berjuang. Setiap insan Marhaenis, sebagai corong dan laboratorium kader, harus memaksimalkan sumber daya dan potensi yang ada dari setiap insan Marhaenis serta penguatan ideologi, mentalitas, dan kapasitas untuk berkompetisi di dalam kampus. Tantangan ke depan semakin besar.
Kita dituntut untuk selalu aktual, kritis, dan terus mengasah kemampuan sebagai Marhaenis sejati yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan dari masa ke masa sebab kita bicara kader dalam lintasan sejarah, perjuangan dan pengabdian yang tak pernah usai.
Di ujung tulisan, ia menutup dengan kalimat semangat ideologis, GMNI bukan milik sekelompok orang. Ia milik rakyat. Rakyat yang selalu ia perjuangankan,petani, nelayan, buruh, kaum miskin kota dan lainnya yang menjadi orientasi utama.
*Mengembalikan Khittah ke Jalan Perjuangan*
Selama rakyat masih tertindas, GMNI tak boleh diam. Ia harus menjadi lokomotif gerakan dan peka terhadap isu-isu strategis yang menyangkut persoalan rakyat. Sentral gerakannya mesti di bangun di kampus, sebab corong konsolidasi dan mobilisasi gerakan.
GMNI berada di titik krusial nan strategis. Jalan satu-satunya adalah kembali ke akarnya, jalan perjuangan rakyat, panggilan sejarah, dan tugas ideologi.
GMNI mampu menjawab arah zaman: membantu petani mempertahankan tanahnya, bersama buruh menuntut keadilan kerja di era fleksibilitas tenaga kerja, mendampingi mahasiswa miskin yang rentan dikeluarkan karena tunggakan UKT, mengadvokasi hak-hak masyarakat adat yang direpresi oleh kekuasaan oligarki dan kebijakan pembangunan eksploitatif.
GMNI bisa menjadi sentral gerakan untuk perubahan
ke depan, selain dari internalisasi perbaikan tatanan struktur dan transformasi agar gerak perbaikan organisasi lebih baik mesti juga menjadi pelopor, menyatukan elemen dan eksponen gerakan.
Ke depan, semua kader bisa terus memastikan kerja organisasi berjalan secara baik dan sistematis, mengawal kebijakan pemerintah, dan memperbaiki kualitas kaderisasi. Langkah demi langkah yang konkret, kita semakin percaya bahwa Marhaenis Kendari akan banyak yang mengisi ruang pengabdian di masa depan dan dengan itu menjadi pelopor, bukan penonton. Jadilah pelaku sejarah, jangan jadi penonton apalagi penikmat sejarah.
GMNI kini berusaha mentransformasi diri untuk tetap relevan dengan perjuangan kaum tertindas di era digital, dengan tetap memegang teguh ajaran Bung Karno.
Tercatat sudah 5 kali terjadinya transformasi regenerasi kepemimpinan dalam setiap periode kepengurusan dari tahun 2015-2026. Mulai dari Zulzaman sebagai peletak fondasi pertama, Abdul Wahab, Saswal Ukba, Rasmin Jaya dan Awaluddin sebagai ketua Cabang terpilih periode 2025-2027.
Selamat Dies Natalis GMNI Kendari, 1 Dekade perjalanan yang panjang, 2015-2026. Tetaplah menjadi Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang.
Saya adalah GMNI, kamu adalah GMNI, dan apa pun yang terjadi pada GMNI adalah tanggung jawab kita semua. Warisi apinya, jangan abunya.
GMNI Memanggil Pulang. Merdeka.
Penulis : Rasmin Jaya
(Ketua DPC GMNI Kendari 2023-2025)
opini
Doa Kebangsaan Ikhtiar Spiritual Merawat Persatuan Bangsa
HARI ini, Sabtu 1 Agustus 2026, bangsa Indonesia kembali dipersatukan dalam Zikir dan Doa Kebangsaan yang dipusatkan di Lapangan Monas, Jakarta, dan diikuti secara serentak di seluruh Indonesia yang dimotori oleh Kementerian Agama.
Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar menyambut Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia ke 81 Tahun 2026 sekaligus memohon keselamatan, persatuan, kedamaian, dan kemajuan bangsa.
Dari bumi Anoa Provinsi Sulawesi Tenggara, kegiatan serupa juga akan dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara di halaman kantor wilayah mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai.
Tokoh-tokoh lintas agama akan hadir bersama untuk memanjatkan doa bagi bangsa. Kehadiran mereka mencerminkan bahwa keberagaman agama di Indonesia bukanlah sekat pemisah, melainkan kekuatan yang mempersatukan dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan.
Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Di tengah dinamika global, bangsa ini dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi dunia, perkembangan teknologi digital yang memicu disrupsi sosial, maraknya hoaks dan ujaran kebencian di ruang digital, meningkatnya polarisasi dalam kehidupan bermasyarakat, ancaman intoleransi, kerusakan lingkungan, serta bencana alam yang datang silih berganti.
Di sisi lain, tantangan moral seperti menurunnya integritas, menguatnya individualisme, dan mulai memudarnya semangat gotong royong menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting.
Tantangan-tantangan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik dan kemajuan teknologi, tetapi juga penguatan karakter, persatuan, dan ketahanan moral bangsa.
Dalam konteks itulah doa menjadi kekuatan spiritual yang menyertai setiap ikhtiar bangsa. Zikir dan doa bersama lintas agama bukanlah pelarian dari persoalan, melainkan ikhtiar batin untuk memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Esa agar setiap usaha membangun Indonesia diberikan jalan yang terbaik.
Doa menjadi energi moral yang menguatkan optimisme, mempererat persaudaraan, dan mengingatkan bahwa setiap keberhasilan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan manusia, tetapi juga oleh nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
Fenomena doa bersama sesungguhnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Banyak negara maju tetap mempertahankan tradisi doa atau refleksi nasional. Di Amerika Serikat, National Prayer Breakfast telah menjadi tradisi yang mempertemukan Presiden, pemimpin dunia, dan tokoh agama sebagai ruang refleksi moral dalam kehidupan berbangsa.
Di Jepang, setiap tanggal 15 Agustus diselenggarakan upacara nasional untuk mengenang para korban perang yang diisi dengan doa dan penghormatan demi perdamaian.
Di Inggris, berbagai kebaktian nasional juga dilaksanakan pada peringatan-peringatan kenegaraan sebagai bentuk penghormatan kepada bangsa dan para pahlawan.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak menghilangkan kebutuhan manusia akan nilai-nilai spiritual. Justru negara-negara maju tetap memberikan ruang bagi doa dan refleksi sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.
Dalam filsafat Barat, Aristoteles mengajarkan bahwa tujuan kehidupan bernegara adalah mewujudkan common good atau kebaikan bersama. Kebajikan lahir ketika setiap warga negara mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Doa Kebangsaan menjadi salah satu wujud kebajikan publik karena menghadirkan kesadaran bahwa seluruh anak bangsa memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga persatuan dan kesejahteraan bersama.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Émile Durkheim yang menjelaskan bahwa ritual bersama memiliki kekuatan membangun solidaritas sosial. Ketika masyarakat berkumpul dalam doa, mereka sesungguhnya sedang memperbarui komitmen moral untuk hidup rukun, saling menghormati, dan menjaga persatuan bangsa.
Dalam perspektif Hindu, semangat mendoakan kesejahteraan seluruh makhluk telah diajarkan sejak zaman Weda. Sarve Bhavantu Sukhinah
Sarve Santu Nirāmayāḥ, Sarve Bhadrāṇi Paśyantu, Mā Kaścid Duḥkha Bhāg Bhavet.
“Semoga semua makhluk berbahagia. Semoga semua sehat. Semoga semua memperoleh kebaikan. Semoga tidak seorang pun mengalami penderitaan.”
Demikian pula doa universal:
Lokāḥ Samastāḥ Sukhino Bhavantu.
“Semoga seluruh makhluk di semua alam berbahagia.”
Mantra tersebut mengajarkan bahwa doa tidak hanya diperuntukkan bagi diri sendiri atau kelompok tertentu, tetapi bagi seluruh umat manusia.
Nilai ini selaras dengan ajaran Vasudhaiva Kutumbakam, bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga yang harus hidup dalam kedamaian, saling menghormati, dan saling menguatkan. Dengan demikian, doa bukan hanya ibadah individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang mendorong setiap orang untuk menghadirkan kedamaian dan kebaikan bagi sesama.
Doa bukanlah pengganti kerja keras, melainkan penyempurna setiap ikhtiar. Bangsa yang bekerja tanpa nilai spiritual berisiko kehilangan arah moral, sedangkan bangsa yang hanya berdoa tanpa bekerja tidak akan mencapai kemajuan. Karena itu, doa dan kerja harus berjalan beriringan. Spiritualitas harus melahirkan pengabdian, integritas, dan tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada akhirnya, berdoa jauh lebih baik daripada tidak berdoa, karena itu salah satu kewajiban dari keimanan. Doa membangun optimisme, menumbuhkan harapan, memperkuat persaudaraan, dan mengingatkan bahwa di atas segala ikhtiar manusia ada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa yang berdoa bukanlah bangsa yang pasif, tetapi bangsa yang mengawali setiap langkah dengan kerendahan hati dan mengakhirinya dengan kerja nyata.
Menyambut Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia, marilah kita menjadikan Zikir dan Doa Kebangsaan sebagai gerakan moral dan spiritual.
Dari Monas hingga Sulawesi Tenggara, dari Sabang sampai Merauke, marilah kita satukan hati, satukan doa, dan satukan langkah untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, makmur, damai, dan sejahtera. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kecerdasan dan kemajuan teknologi, tetapi juga oleh persatuan, karakter, serta doa yang senantiasa mengiringi setiap ikhtiarnya menuju cita-cita nasional.
Penulis:
Kadek Yogiarta, Pelaksana pada Bimas Hindu Kanwil Kemenag Sulawesi Tenggara
opini
Menjemput Swasembada Protein: Strategi Mengatasi Defisit Protein Nasional Lewat Kekayaan Laut
COBA bayangkan: Indonesia, negeri yang airnya lebih luas daripada daratannya. Tujuh puluh persen wilayah kita adalah laut. Garis pantai kita terpanjang kedua di dunia.
Kalau bicara potensi ikan dan hasil laut, kita seharusnya jadi dapur protein bagi ratusan juta orang. Tapi anehnya, fakta berkata lain. Setiap tahun, negeri bahari ini justru kekurangan protein hingga 880.452 ton.
Itu setara dengan 14,23 persen dari kebutuhan nasional. Angka yang membuat kita terdiam.
Inilah yang disebut paradoks. Di satu sisi, laut kita menggelegak dengan kehidupan. Di sisi lain, piring-piring rumah tangga Indonesia masih timpang asupan protein hewani.
Coba lihat data konsumsi ikannya: Yogyakarta hanya 36,48 kilogram per kapita per tahun — terendah se-Indonesia.
Lampung, yang jadi gerbang Sumatra dengan pantai panjang, cuma 39,20. Padahal Aceh dan Gorontalo, dengan produksi tangkap laut besar, sudah mencapai 65–66 kilogram.
Maluku dan Papua malah luar biasa: 82,80 dan 79,36 kilogram per kapita per tahun. Tapi tetap saja, angka-angka tinggi di daerah tertentu belum mampu menambal defisit nasional.
Kenapa Bisa Begitu?
Ada Tiga Penghalang Utama
Pertama, masalah di jalan. Setelah ikan ditangkap, perjalanan ke piring kita panjang dan penuh lubang. Di kawasan timur Indonesia, susut pasca panen mencapai 30–40 persen.
Artinya, hampir setengah dari hasil tangkilan nelayan membusuk sebelum sempat dimasak. Penyebab utamanya sederhana: rantai dingin belum menyambung dari hulu ke hilir. Tidak ada cukup cold storage, tidak ada truk berpendingin yang terintegrasi. Ikan segar harus menempuh perjalanan ribuan kilometer tanpa ‘pendingin’, akhirnya sia-sia.
Kedua, soal kebiasaan dan cara pandang. Masih banyak masyarakat yang lebih suka beli mi instan rasa ikan daripada membeli ikan segar. Ada juga yang merasa belum kenyang kalau belum makan nasi — seolah ikan cuma pelengkap, bukan sumber gizi utama.
Ironisnya, sebagai negara maritim, kita sering terjebak dalam orientasi ‘daratan’. Secara budaya, kita lebih bangga pada sawah daripada laut. Padahal omega-3 dari ikan sangat dibutuhkan, terutama untuk tumbuh kembang anak.
Ketiga, ketimpangan akses. Masyarakat pesisir mungkin kebanjiran ikan, tetapi saudara-saudara kita di pedalaman dan perkotaan kesulitan mendapatkan protein akuatik dengan harga terjangkau.
Jadi meskipun potensi pangan akuatik kita mencapai 18 juta hektare, baru 6,8 persen yang benar-benar termanfaatkan. Padahal, secara global, makanan laut sudah menyumbang 20 persen asupan protein hewani bagi 3,3 miliar penduduk dunia. Dan dalam 50 tahun terakhir, konsumsi makanan laut dunia naik dua kali lipat. Peluang itu sedang terbuka lebar, tapi kita masih setengah hati.
Targetnya Tidak Muluk, Tapi Butuh Kerja Sistematis.
Targetnya sederhana dalam angka tapi berat dalam eksekusi: menaikkan konsumsi ikan nasional dari 55 kilogram per kapita per tahun menjadi 60 kilogram per kapita per tahun. Lalu mengintegrasikan ikan ke dalam Pola Pangan Harapan, sehingga masyarakat terbiasa menjadikan ikan sebagai sumber protein utama, bukan sekadar lauk dadakan.
Namun sebelum itu, kita harus bereskan dulu masalah susut pasca panen. Angkanya sekarang 30–40 persen, dan harus diturunkan menjadi hanya 15 persen.
Caranya? Membangun rantai dingin nasional yang terintegrasi. Ini bukan pekerjaan setahun dua tahun. Ada tahapan yang jelas: mulai dari 2026 hingga 2027, fokus utama adalah mewujudkan rantai dingin yang menyambung dari kapal ke pasar. Kemudian 2027 hingga 2028, defisit protein diharapkan mulai tertangani secara signifikan.
Dan akhirnya, pada 2028 hingga 2029, Indonesia bisa mencapai swasembada protein. Bayangkan, produksi ikan nasional ditargetkan mencapai 25 juta ton — yang berarti menyuplai 2 juta ton protein ke seluruh Indonesia. Produktivitas budidaya pun harus naik 30 persen. Ini bukan mimpi, asalkan semua bergerak bersama.
Tiga Ombak Besar
Untuk mewujudkan itu, ada tiga program prioritas yang gerakannya seperti ombak yang menerjang tebing kemustahilan.
Pertama, diversifikasi dan keamanan pangan. Pemerintah sudah menerbitkan Perpres 81/2024 yang menetapkan pangan akuatik sebagai prioritas utama. Semua Unit Pengolahan Ikan skala kecil dan menengah diwajibkan memiliki Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) dan sertifikasi HACCP. Targetnya, 50 persen dari mereka bisa beroperasi dengan sertifikat itu. Program Makan Bergizi Gratis juga akan mewajibkan menu ikan minimal dua kali seminggu. Dan kampanye GEMARIKAN (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan) akan digencarkan lagi, tidak hanya sebagai slogan, tapi sampai ke sekolah-sekolah dan posyandu, bahkan komunitas.
Kedua, infrastruktur rantai pasok. Di sini angkanya konkret: 500 unit cold storage baru akan dibangun di sentra-sentra produksi. Seribu Kampung Nelayan Modern dikembangkan di lokasi-lokasi strategis. Pemerintah juga memberikan subsidi logistik berupa armada truk berpendingin (reefer truck) untuk koperasi nelayan. Dan semuanya akan didigitalisasi — suhu dan kelembaban di setiap mata rantai bisa dipantau secara real-time. Dengan begitu, ikan dari Sabang sampai Merauke tetap segar.
Ketiga, modernisasi produksi dengan pendekatan Aquaculture 4.0. Kecerdasan buatan (AI) akan dipakai untuk mengoptimalkan bioflok dan memonitor pakan secara otomatis. Alat tangkap kapal juga akan diselektif mungkin, sehingga tidak ada hasil sampingan yang terbuang. Lalu ada riset genetik mendalam untuk menghasilkan bibit unggul udang, nila, dan lele. Intinya, bertani ikan tidak lagi tradisional asal-asalan, tapi presisi dan efisien.
Semua program ini tidak akan berjalan sendiri-sendiri. Dibentuk Tim Percepatan Swasembada Protein Akuatik (TPSPA) yang tugasnya mengoordinasikan lintas sektor — mulai dari kementerian, pemda, sampai pelaku usaha. Pendanaannya pun sudah dipikirkan, memakai Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR), plus sinergi dengan swasta. Tidak ada lagi ego sektoral, karena persoalan protein adalah urusan kita semua.
Ini Bukan Sekadar Program, Ini Astacita
Yang membuat hati lega, langkah ini sejalan dengan Astacita No. 2 dari pemerintahan Prabowo-Gibran, yaitu mewujudkan kemandirian pangan dan ekonomi biru. Bahkan Perpres No. 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029 dengan tegas menyebut pangan akuatik sebagai prioritas utama. Jadi ini bukan wacana liar atau proyek setengah hati. Ini sudah menjadi agenda nasional yang mengikat dan terukur.
Maka, tidak berlebihan jika kita katakan: laut bukan lagi sekadar ombak dan pemandangan. Laut adalah jawaban atas kerinduan kita akan pangan yang mandiri, protein yang merata, dan masa depan yang lebih sehat. Mulailah dari piring kita sendiri. Jika setiap keluarga Indonesia makan ikan lebih sering, jika setiap anak sekolah mendapat ikan dua kali seminggu, maka defisit protein perlahan akan sirna. Seperti kata seorang calon pemimpin di bidang pangan, “Ikan untuk Indonesia, protein untuk semua.” Dan itu bukan slogan. Itu panggilan.
Penulis : Muh. Rasman Manafi
Ketua Umum DPP HAPPI
( Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir Indonesia)
opini
Sebelas Kandidat, Satu Masa Depan UHO
TIDAK banyak pemilihan di dunia akademik yang mempertemukan idealisme, kepemimpinan, rekam jejak ilmiah, jaringan nasional, serta kalkulasi politik dalam satu arena yang sama.
Namun itulah yang kini sedang berlangsung di Universitas Halu Oleo (UHO), kampus terbesar di Sulawesi Tenggara yang dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan arah perjalanan institusi untuk empat tahun mendatang.
Pemilihan Rektor UHO periode 2026–2030 bukan sekadar pergantian pimpinan.
Ia hadir dalam situasi yang tidak biasa. Publik akademik Sulawesi Tenggara masih mengingat duka yang menyelimuti kampus hijau itu ketika Rektor UHO, Prof. Dr. Armid, wafat pada 23 Agustus 2025, hanya 22 hari setelah dilantik sebagai rektor periode 2025–2029.
Kepergian mendadak tersebut menyisakan pekerjaan besar sekaligus membuka kembali ruang kompetisi kepemimpinan di lingkungan universitas.
Kini, estafet itu akan diteruskan oleh sosok baru. Dan menariknya, sebanyak 11 akademisi terbaik UHO memilih maju dalam kontestasi tersebut.
Mereka datang dari latar belakang keilmuan yang berbeda-beda, membawa pengalaman, gagasan, dan harapan yang sama: menjadikan Universitas Halu Oleo lebih maju, lebih kompetitif, dan lebih diperhitungkan di tingkat nasional maupun internasional.
Pendaftaran bakal calon rektor ditutup pada Selasa, 2 Juni 2026. Yang pertama menyerahkan berkas adalah Prof. Dr. Ruslin, M.Si. (Dekan Fakultas Farmasi) pada 18 Mei 2026. Ia kemudian disusul oleh Prof. Dr. Ir. H. Takdir Saili, M.Si (Wakil Rektor IV), Prof. Dr. Ir. H. Baru Sadarun, M.Si. (Kaprodi Ilmu Kelautan FPIK), Prof. Dr. Ashar Bafadal, M.Si. (Fakultas Pertanian), Prof. Dr. Edy Karno, S.Pd., M.Pd. (Wadek III FKIP), serta Prof. Dr. La Ode Santiaji Bande, S.P., M.P. (Wakil Rektor I).
Menjelang akhir masa pendaftaran, muncul nama-nama lain yang tidak kalah kuat. Prof. Dr. Ida Usman, S.Si., M.Si. (Wakil Rektor II), dan Prof. Ma’ruf Kasim, S.Pi., M.Si., Ph.D (FPIK) mendaftarkan diri pada 29 Mei.
Pada hari terakhir, tiga nama menyusul, yakni Dr. Muliddin, S.Si., M.Si (FMIPA), Dr. Herman, S.H., LL.M. (Plt Rektor), serta Prof. Dr. Yusuf Sabilu, M.Si. FKM).
Sebelas nama tersebut merepresentasikan hampir seluruh kekuatan akademik utama UHO: kesehatan, farmasi, matematika dan sains, hukum, pendidikan, pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan.
Mereka mungkin berbeda dalam pendekatan dan strategi, tetapi tujuan mereka pada dasarnya sama. Membawa UHO menjadi universitas yang semakin unggul.
Persaingan perguruan tinggi hari ini jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Jika dahulu kampus berlomba membangun gedung dan membuka program studi baru, kini ukuran keberhasilan semakin kompleks.
Universitas dituntut menghasilkan riset bereputasi internasional, membangun inovasi yang berdampak bagi masyarakat, meningkatkan jumlah profesor dan doktor, memperluas kolaborasi global, serta menciptakan lulusan yang mampu bersaing di pasar kerja dunia.
Kampus-kampus besar seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Airlangga terus bergerak menuju universitas riset kelas dunia.
Di tingkat global, universitas seperti National University of Singapore, University of Melbourne, hingga Harvard University tidak lagi hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga pusat inovasi, teknologi, dan pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan.
Dalam konteks itulah UHO harus memposisikan diri. Sebagai perguruan tinggi terbesar di Sulawesi Tenggara dengan puluhan ribu mahasiswa, UHO memiliki tanggung jawab bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga menjadi motor pembangunan daerah.
Mulai dari sektor pertambangan, kelautan, pertanian, kesehatan masyarakat, lingkungan hidup, hingga ekonomi digital.
Di atas kertas, pemilihan rektor memang ditentukan oleh suara. Namun dalam substansinya, yang dipertaruhkan sesungguhnya adalah reputasi akademik kampus.
Seorang rektor hari ini tidak cukup hanya menjadi administrator kampus. Ia harus mampu menjadi diplomat akademik, manajer organisasi, pemimpin perubahan, penggalang sumber daya, sekaligus wajah institusi di tingkat nasional dan internasional.
Ia harus mampu menjawab pertanyaan mendasar. Bagaimana meningkatkan kualitas publikasi internasional dosen? Bagaimana menaikkan akreditasi program studi? Bagaimana memperkuat hilirisasi hasil penelitian? Bagaimana menarik investasi riset dan kerja sama internasional? Bagaimana membawa UHO naik dalam pemeringkatan perguruan tinggi nasional maupun dunia?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sesungguhnya sedang diperebutkan dalam Pilrek UHO.
Ketika 49 Suara Menjadi Sangat Berharga
Meski memiliki lebih dari seribu dosen dan puluhan ribu mahasiswa, nasib kepemimpinan UHO pada tahap awal berada di tangan sekitar 49 anggota senat universitas.
Jumlah tersebut memang terlihat kecil. Namun justru di sanalah letak menariknya.
Dalam sistem pemilihan rektor perguruan tinggi negeri, suara senat hanya memiliki bobot 65 persen, sedangkan 35 persen sisanya berada di tangan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Artinya, satu suara anggota senat memiliki nilai sekitar 1,33 persen dari keseluruhan suara akhir. Secara matematis, dukungan Menteri setara dengan sekitar 26 hingga 27 suara anggota senat.
Di sinilah kontestasi menjadi menarik. Seorang calon yang memperoleh dukungan Menteri hanya membutuhkan sekitar 12 suara senat untuk melewati ambang 50 persen suara dan berada dalam posisi yang sangat kuat untuk menang.
Sebaliknya, calon yang tidak memperoleh dukungan Menteri harus menguasai suara senat secara dominan untuk menjaga peluangnya.
Karena itu, jalan menuju kursi rektor tidak hanya ditentukan oleh popularitas internal kampus, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan pada berbagai level pengambilan keputusan.
Siapa yang Akan Menang?
Pertanyaan itu mungkin paling sering terdengar di lingkungan kampus saat ini. Namun jawabannya masih terlalu dini. Dengan 11 bakal calon yang berasal dari basis fakultas dan jaringan akademik berbeda, suara senat berpotensi terfragmentasi.
Dalam situasi seperti ini, perolehan sekitar 8 hingga 12 suara saja sudah bisa menjadi tiket menuju tiga besar. Karena itu, kompetisi sesungguhnya belum dimulai.
Tahap penyaringan akan menjadi ujian pertama untuk melihat siapa yang memiliki dukungan nyata di internal kampus. Setelah tiga besar terbentuk, arena permainan berubah total.
Saat itulah faktor jejaring, rekam jejak, kapasitas kepemimpinan, visi pengembangan universitas, dan komunikasi dengan pemangku kepentingan nasional akan memainkan peran yang lebih besar.
Pada akhirnya, Pilrek UHO bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ia adalah momentum refleksi bagi seluruh sivitas akademika mengenai arah masa depan kampus.
Seluruh bakal calon yang maju sesungguhnya membawa niat yang sama: mengabdikan diri untuk kemajuan Universitas Halu Oleo. Mereka hadir dari disiplin ilmu yang berbeda, tetapi berangkat dari kecintaan yang sama terhadap almamater.
Siapa pun yang akhirnya terpilih, tantangan yang menunggu tidak ringan. UHO harus terus bergerak dari kampus regional yang kuat menjadi universitas yang memiliki daya saing nasional dan pengaruh internasional. Kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi pembangunan Indonesia Timur.
Karena pada akhirnya, yang sedang dipilih bukan sekadar seorang rektor. Melainkan arah masa depan Universitas Halu Oleo untuk satu dekade yang akan datang. Bukankah begitu?
Penulis : M Djufri Rachim (Pengajar pada Prodi Jurnalistik FISIP UHO)
([email protected])
-
ENTERTAINMENT7 years agoInul Vista Tawarkan Promo Karaoke Hemat Bagi Pelajar dan Mahasiswa
-
Rupa-rupa7 years agoDihadiri 4000 Peserta, Esku UHO dan Inklusi Keuangan OJK Sukses Digelar
-
PASAR7 years agoJelang HPS 2019, TPID: Harga Kebutuhan Pokok Relatif Stabil
-
Entrepreneur7 years agoRumah Kreatif Hj Nirna Sediakan Oleh-oleh Khas Sultra
-
Fokus7 years agoTenaga Pendamping BPNT Dinilai Tidak Transparan, Penerima Manfaat Bingung Saldo Nol Rupiah
-
Fokus1 year agoUsai Harumkan Nama Wakatobi, Pelatih Atlit Peraih Medali Emas Jual Hp Untuk Ongkos Pulang
-
FINANCE7 years agoOJK Sultra Imbau Entrepreneur Muda Identifikasi Pinjol Ilegal Melalui 2L
-
PERTAMBANGAN10 months ago25 Perusahaan Tambang di Sultra Dihentikan Sementara Operasinya
