Connect with us

PERTANIAN

Konawe Selatan Penghasil Komoditi Unggulan Hortikultura

Published

on

Bupati Konawe Selatan Surunuddin Dangga (kanan) panen cabai.-foto:ist-

KONSEL, Bursabisnis.id – Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) yang berada di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menghasilkan komoditi unggulan pertanian hortikultura.

Komoditi unggulan dimaksud yaitu sayuran dan buah-buahan. Komoditi ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Konsel saja, tapi mensuplai kebutuhan masyarakat Kota Kendari, Ibukota Provinsi Sultra.

Berdasarkan laporan penelitian dan bantuan teknik survey pendahuluan kegiatan penyediaan peta potensi Kota Kendari, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) dan Kabupaten Bombana yang dilakukan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sultra bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Halu Oleo (UHO) pada tahun 2023 lalu, mencatat beberapa komoditi hortikultura yang dihasilkan sektor pertanian Konsel.

Menurut Kepala DPMPTSP Provinsi Sultra, Parinringi SE,M.Si, komoditi hortikultura yang dimaksud yaitu bawang, daun bawang, bayam, buncis, cabai rawit, kacang panjang, kangkung, ketimun, kubis, labu siam, petsai, tomat, terung.

“Berdasarkan data luas panen dan jumlah produksi hasil pertanian hortikultura di Kabupaten Konawe Selatan dalam empat tahun terakhir pada setiap komoditasnya memiliki perkembangan yang fluktuatif,” ujarnya.

Pada tahun 2022, komoditas yang memiliki luas panen tertinggi yaitu kangkung seluas 251 ha dengan jumlah produksi 4.916 kuintal, dan disusul komoditas ketimun dengan luas panen 105 ha dan jumlah produksi mencapai 4.117 kuintal.

Parinringi yang juga saat ini menjabat sebagai Pj Bupati Buton Selatan (Busel), mengungkapkan petani di Kabupaten Konsel juga menghasilkan komoditas buah-buahan.

Buah-buahan yang dimaksud adalah alpukat, belimbing, duku/langsat, durian, jambu biji, jambu air, jeruk siam, jeruk besar.

Kemudian ada buah mangga, manggis, nangka, nenas, pepaya, pisang, dan rambutan.

Sementara itu, kegiatan perkebunan di Kabupaten Konawe Selatan terbagi ke dalam beberapa komoditi utama yaitu kakao, kopi, kelapa, dan kelapa sawit.

Ke empat  komoditi perkebunan tersebut banyak dibudidayakan petani di seluruh wilayah kecamatan yang ada di Konsel.

Advetorial/Pariwara

Continue Reading
Advertisement

PERTANIAN

Pemda Diminta Genjot Produksi Beras Untuk Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri

Published

on

By

Kemendagri Tito Karnavian dalam Rakor pengendalian inflasi daerah. -foto:kemendagri.go.id-

JAKARTA, Bursabisnis.id – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mendorong pemerintah daerah (Pemda) meningkatkan produksi beras untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Hal ini disampaikan Mendagri pada Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar secara hybrid dari Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP) Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

“Kita spesifik pada hari ini, kita atensi adalah masalah beras, beras yang beberapa waktu yang lalu tinggi tidak terkendali, relatif di awal tahun sudah mulai terkendali, seiring dengan produksi beras yang mulai membaik. Panen, puncak panen pada bulan Mei, dan kemudian Juni masih ada panen,” katanya sebagaimana dilansir dari laman kemendagri.go.id pada Selasa, 16 Juli 2024.

Mendagri melanjutkan, fokus perhatian dari Presiden Joko Widodo maupun presiden terpilih Prabowo Subianto adalah menggenjot produksi beras agar mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Langkah yang utama adalah yang perlu menjadi perhatian rekan-rekan kepala daerah, tolong untuk mendorong produksi beras,” tambahnya.

Mendagri menjelaskan empat langkah untuk meningkatkan produksi beras. Pertama, tidak mengonversi lahan sawah yang sudah ada untuk penggunaan lainnya, seperti komersial dan permukiman. Kedua, Pemda diharapkan membuat lahan sawah baru. Ketiga, membuat program pompanisasi untuk mengalirkan air ke daerah-daerah yang kering. Keempat, mendorong kualitas tanaman, termasuk kualitas tanah dengan pupuk subsidi.

“Ini tolong nanti di-follow up dengan rapat internal terutama dengan Dinas Pertanian masing-masing. Kemudian Dinas Perdagangan, baik untuk pompanisasi, pupuk subsidi, mempertahankan lahan sawah yang ada, mendorong produksi oleh para petani, dan lain-lain, ini menjadi prioritas,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman yang turut hadir dalam Rakor tersebut menjelaskan berbagai alasan produksi padi di Indonesia turun. Di antaranya kekeringan akibat El Nino, alat dan mesin pertanian (alsintan) sudah tua, hingga bibit unggul yang berkurang. Solusi jangka panjang yang ditawarkan di antaranya pompanisasi untuk sawah, Optimalisasi Lahan (OPLA) Rawa, dan mencetak sawah baru.

“Kami sangat butuh bantuan pompanisasi, ini napas kita, nyawa kita tiga bulan ke depan. Karena sekarang masuk bulan kering, pompanisasi ini ada 75 ribu, yang sudah tersalurkan 25 ribu. Masih ada 50 ribu yang harus disalurkan seluruh Indonesia,” ucapnya.

Amran menyebut, para kepala daerah seperti gubernur, bupati/wali kota, serta Kepala Dinas Pertanian menjadi ujung tombak dari pengadaan pompanisasi di lapangan. Jika program 75 ribu pompa ini terpasang, maka kekeringan bisa dimitigasi dengan baik.

“Fokus kami ada dua hal, solusi cepat untuk Indonesia adalah pompanisasi dan OPLA. Kita lihat OPLA, Optimalisasi Lahan Rawa, yang terbesar adalah Sumatera Selatan dengan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah,” jelasnya.

Ia menekankan, dengan pompanisasi dan optimalisasi lahan, maka produksi padi bisa meningkat. Apalagi, Presiden Joko Widodo pun menekankan agar program pompanisasi segera dilakukan untuk menghadapi musim kemarau dan El Nino.

Sumber : kemendagri.go.id
Penulis : Icha
Editor : Tam

Continue Reading

PERTANIAN

Luas Sawah Irigasi di Bombana Mencapai 8.813 Hektar

Published

on

By

Potensi areal persawahan di wilayah Lantari Jaya, Kabupaten Bombana. -foto:ist-

BOMBANA, Bursabisnis.id – Pertanian tanaman pangan di Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terbagi dua, yakni komoditi sawah irigasi dan non irigasi.

Berdasarkan laporan penelitian dan bantuan teknik survey pendahuluan kegiatan penyediaan peta potensi Kota Kendari, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) dan Kabupaten Bombana yang dilakukan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sultra bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Halu Oleo (UHO) pada tahun 2023,
luas lahan sawah irigasi mengungguli luas lahan non irigasi.

Menurut Kepala DPMPTSP Provinsi Sultra, Parinringi SE,M.Si, luas lahan sawah irigas mencapai 8.813 hektar (ha). Sedangkan lahan sawah non irigasi hanya 4.442 ha.

“Komoditas pertanian pangan di Bombana juga terdapat tanaman jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar,” jelas Parinringi mantan Pj Bupati Kolaka Utara (Kolut) ini.

 

Parinringi yang pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Konawe juga mengungkapkan, bahwa komoditas pertanian hortikultura di Kabupaten Bombana terbagi dua komoditi, yaitu sayuran dan buah-buahan.

Kemudian, berdasarkan data luas panen dan jumlah produksi hasil pertanian hortikultura di Bombana dalam 4 tahun terakhir pada setiap komoditasnya, memiliki perkembangan yang fluktuatif.

Pada tahun 2022, komoditas yang memiliki luas panen tertinggi yaitu cabai rawit seluas 161 ha dengan jumlah produksi 185,6 ton. Disusul komoditas tomat dengan luas panen 138 ha dan jumlah produksi mencapai 182 ton.

Untuk komoditas buah-buahan di Bombana, produksi komoditas buah-buahan menurut BPS Kabupaten Bombana dalam rentang 2019 – 2022 tergolong fluktuatif.

Tabel 3.18 Produksi (Ton) Komoditi Buah-Buahan di Kabupaten Bombana
Tahun 2021 – 2022

Jenis Tanaman Tahun            2019                2020             2021                        2022
Alpukat                                     20,1                   185                  29                              29
Belimbing                                 12,5                    374                64                               82
Duku/Langsat                          8,7                     63                 12                                27
Durian                                       507,2                901                904,50                      1.766,50
Jambu Air                                29,6                  225                 156                             380
Jambu Biji                                44,6                 804                 506,50                        371,50
Jeruk Besar                              53,4                  678                49                                 117
Jeruk Siam                               240,4              2.269               219                              909
Mangga                                    1.789               18.260             2.132                        4.068
Manggis                                     0,8                    –                         –                               –
Nangka                                    184,4                 2.580               650                           617
Nenas                                       24,9                   260                  106,15                        213
Pepaya                                     227,9                 2.698                4.698                       1.800,30
Pisang                                     920,2                 13.472                17.064                     35.528
Rambutan                              323,2                1.780                  248                             312
Salak                                        12,5                   131                       28                               45
Sawo                                         –                         –                          –                                    7
Sirsak                                       12,9                     180                   55,50                           69,00
Sukun                                        13,2                   256                     98                               77
Buah Naga                                –                            –                      815                               2.841
Jeruk                                          –                            –                      19,50                            50
Sumber: Kabupaten Bombana Dalam Angka, Tahun 2023

“Meski demikian, komoditas buah pisang kondisinya terus meningkat dan pada tahun 2022 memiliki jumlah produksi mencapai 35.528 ton. Disusul buah mangga 4.068 ton,” jelas Parinringi yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sultra.

Sementara itu, kegiatan perkebunan di Kabupaten Bombana terbagi ke dalam beberapa komoditi utama yaitu kelapa, kakao, dan kopi.

Luas Panen (Ha) dan Jumlah Produksi (Ton) Komoditi Perkebunan di
Kabupaten Bombana Tahun 2021 – 2022.

Komoditas `                      Luas Panen (ha)     Produksi  2021               Luas Panen (ha)      Produksi 2022

1. Kelapa Sawit                           175                       34                                         205                      70,20
2. Kelapa                                     15.077,6              13.268,25                          14.779,8                11.489,60
3. Kopi                                       1.375,5                  829,40                                 1.725,7                    752,20
4. Kakao                                      9.953,9                4.363,60                             9.619,5                    2.965,40
Sumber: Kabupaten Bombana Dalam Angka, Tahun 2023

 

Advetorial/Pariwara

 

Continue Reading

PERTANIAN

Pakai Alat Pungut Brondolan Sawit, Hemat Waktu dan Menguntungkan

Published

on

By

Alat pemungut brondolan

JAKARTA, Bursabisnis.id – Biji sawit yang lepas dari Tandan Buah Segar (TBS), karena pengaruh masak atau biasa disebut brondolan sawit, kadang menyulitkan petani terlebih lagi bagi perusahaan perkebunan sawit.

Karena proses memungutnya terkadang membutuhkan waktu yang terbilang lama, sehingga mempengaruhi kecepatan para pemanen sawit.

Umumnya brondolan sawit dipungut secara manual, menggunakan kecepatan jari tangan. Nah di sinilah terkadang rumput, tanah ataupun pasir ikut dalam brondolan sawit.

Dikutip dari laman InfoSAWIT.com, Konsultan dan Praktisi Perkebunan Kelapa Sawit, Dr. Memet Hakim berinisiatif untuk membuat alat pemungut berondola atau yang disebut dengan Alat Pungut Brondolan (APB).

Diungkapkan Memet, APB bisa digunakan guna mengambil brondolan di piringan atau bahkan yang terserak di rerumputan di sekitar pohon kelapa sawit.

Dengan menggunakan alat ini dipastikan brondolan buah sawit yang terkumpul bersih dari kotoran, pasir atau tanah. “Sehingga brondolan sawit proses pembusukannya lebih lama dibanding Brondolan sawit yang tercampur kotoran,” katanya.

Tidak itu saja tutur Memet, dengan penggunaan APB di perkebunan kelapa sawit ternyata memliki efek domino, lantaran pertama, keausan alat di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) lebih lama, karena tidak ada pasir atau tanah yang masuk ke pabrik.

Lantas, kedua, tukang pungut brondolan sawit bekerja dengan badan tegak, tidak jongkok, ketiga, APB dapat dipakai tidak hanya untuk berondolan saja, lantaran juga bia diaplikasikan untuk memungut bola golf, kentang yangg tercecer di lapangan, buah-buahan yang berukuran kecil seperti jeruk nipis, dan lainnay.

Penulis : Icha
Editor : Tam

 

 

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 PT. Tenggara Media Perkasa - Bursabisnis.ID Developer by Green Tech Studio.