Connect with us

opini

Pemimpin Mahasiswa Katalisator Gerakan, Menyongsong Pemira UHO

Published

on

Rasmin Jaya

Momentum pesta demokrasi mahasiswa sesuatu yang tidak bisa kita pandang enteng, dan partisipasi kita amat sangat dibutuhkan sebagai wujud rasa kepedulian kita terhadap almamater tercinta.

‎Transformasi regenerasi kepemimpinan menjadi suatu keharusan dalam setiap periode menjadi pemimpin. Upaya itu semata-mata hanya untuk menjadikan kampus besar yang ada di Sulawesi Tenggara sebagai kawah candradimuka menciptakan dan membentuk calon pemimpin di masa depan, menjadi labolatorium ilmu dan pengetahuan dengan segala prosesnya, menjadi ruang pengabdian yang menjadikan kita semakin bermanfaat untuk masyarakat.

‎Tentu hal yang paling penting adalah bagaimana membangun Sumber Daya Manusia yang semakin maju, bermanfaat, sinergi dan berdaya saing yang sesuai dengan Tridharma Perguruan Tinggi. Kuatnya institusi pendidikan karena anggota yang solid yang memahami setiap posisi, peran daan tanggung jawab dalam menjalankan tupoksinya. Kepeloporan pemimpin pendidikan untuk memberikan terobosan guna menjawab masalah pendidikan yang semakin kompleks dan tantangan di era globalisasi dan modernisasi.

‎Sebagai pemimpin institusi pendidikan harus lebih jeli, aktual dan pro aktif menjadi sumber solusi tantangan pendidikan. Hadirnya pemimpin yang berkualitas, berintegritas dan punya kapasitas yang mumpuni harus mampu menjawab kecenderungan kepemimpinan sebelumnya.

‎Membangun kepercayaan dan integritas diri dikalangan mahasiswa sangat penting. Sehingga posisi dan legitimasi yang didukung oleh kekuatan mahasiswa akan lebih muda menggerakkan seluruh instrumen dan memobilisasi ketika persoalan itu ada. kerja-kerja konsolidasi sangat di butuhkan mengingat sekarang hadirnya pemimpin baru di institusi pendidikan menjadikan tantangan tersendiri untuk kalangan mahasiswa.

‎Pemimpin Muda

‎Kampus merupakan ladang kepemimpinan masa depan, calon pemimpin  yang akan dipercayakan hendaknya memikirkan konsep, gagasan, visi misi dan strategi bagaimana membangun nawacita pendidikan yang semakin baik dari hari ke hari dan dari waktu ke waktu.

Orientasi perguruan tinggi yang ada di Sulawesi Tenggara tidak hanya mencetak para sarjana, sumber daya manusia yang melimpah tetapi bagaimana sudah harus bertransformasi menjadi visi-misi yang harus kita aktualisasikan menuju tatanan masyarakat yang adil, sejahtera dan makmur dari manfaat pendidikan itu sendiri.

‎Kampus dan institusi pendidikan juga harus menjadi roll model tentang praktek-praktek politik dan demokrasi yang baik, berintegritas, substansial dan bermartabat agar melahirkan pemimpin yang mampu menjawab setiap persoalan kemelut pendidikan yang ada di kampus besar dan tercinta Universitas Halu Oleo (UHO).

Pemimpin institusi pendidikan juga harus berpikir mampu melampaui generasi dan zaman tentang apa yang dibutuhkan kedepan, bukan hanya sebagai formalitas tetapi harus menjadi sebuah gerakan kongkret dan nyata bagi semua orang.

‎Keberhasilan sebuah kepemimpinan pada hakikatnya tidak diukur hanya pada satu periode saja, tapi juga dilihat dari daya tahan pemimpin pada masa selanjutnya apakah terjadi kemunduran atau kemajuan supaya terus menjadi evaluasi dan pembelajaran generasi berikutnya untuk terus berbenah menjadi bentuk yang utuh dan sesuai apa yang di harapkan oleh mahasiswa, masyarakat bangsa dan negara yang kita cintai ini.

‎Olehnya itu perlu disusun kembali sebuah format, metode yang tidak semata- mata hanya untuk mencari kepentingan pribadi, tetapi mampu bermanfaat sesama, khususnya masyarakat dan mahasiswa yang ada di Sulawesi Tenggara.

‎Olehnya itu pentingnya sebuah institusi pendidikan yang kuat, berintegritas untuk terus menciptakan dan membentuk karakter kepemimpinan yang berkepribadian di tengah degradasi dan krisisnya legitimasi pemimpin saat ini.

‎Pimpinan dari institusi pendidikan harus menjadi icon. Ia merupakan pengambil keputusan dan leader tertinggi di lembaganya yang harus mempertanggungjawabkan pengelolaan lembaga yang lebih transparan dan akuntabilitas.

‎Pendidikan Politik Mahasiswa

‎Partisipasi mahasiswa harus menjadi instrument edukasi dan sosialisasi untuk menghindari polarisasi dan chaos politik. Kita harus bisa menciptakan iklim akademik yang baik dan sejuk dalam ruang pendidikan, persoalan siapa yang terpilih kita serahkan pada hal pilih mahasiswa yang mempunyai otoritas sebagai pemilik kedaulatan.

‎Sebab pesta demokrasi dalam pemilihan rektor di Universitas Halu Oleo (UHO) adalah event yang sangat bergengsi dan momentum tertinggi dalam sebuah institusi pendidikan.

Mengukur kualitas demokrasi bukan hanya seberapa besar mahasiswa menyalurkan hak suaranya untuk memilih, tetapi seberapa besar partisipasi dan kontribusi kita dalam memberikan pikiran-pikiran yang baik, gagasan, dan ide untuk kemajuan UHO ke depan, serta format lokomotif gerakan yang terus berkesinambungan.

‎Seorang pemimpin gerakan idealnya memang seorang pemimpin mahasiswa yang mengkomunikasikan wacana pergerakan dan strategi, melakukan rencana penggalangan dan kordinasi untuk mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan elemen pergerakan.

‎Lembaga internal perlu membangun koordinasi yang baik sebagai jantung pergerakan untuk menggalang kekuatan dalam membangun organisasi serta gerakan. Upaya penguasaan opini, wacana dan isu strategis harus menjadi medium propaganda dan agitasi di dalam kampus maupun di luar kampus, melalui berbagai sarana dan instrumen komunikasi pergerakan yang ada.

‎Salah satu alternatif cara dan strategi merespon isu lokal dan nasional dengan cepat dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang simpang siur dan tidak pro terhadap rakyat.

‎Peran strategis mahasiswa sangat di butuhkan dan hadir memberikan solusi di tengah kekeroposan yang menggerogoti tubuh bangsa ini, korupsi kolusi nepotisme, kemiskinan, kurangnya akses dan biaya pendidikan dan lain sebagainya.

‎Gerakan mahasiswa instrumen yang dapat melakukan advokasi masyarakat dan bangsa yang masih seringkali menjadi korban dari kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka. Partisipasi rakyat dalam pergerakan mahasiswa ini dilakukan dalam rangka mempengaruhi pemerintah dalam pengambilan keputusan.

Partisipasi Mahasiswa

‎Partisipasi mahasiswa ini pun sebagai sarana edukasi dan ruang belajar bagi kader pergerakan, sekaligus sarana penyebaran pemikiran ideologi, nilai-nilai perjuangan, wacana, ide dan gagasan pergerakan mahasiswa dan menciptakan pemimpin-pemimpin bangsa ke depannya.

Pesta demokrasi mahasiswa adalah event yang sangat bergengsi dan momentum tertinggi dalam kelembagaan internal kampus sebagai upaya menyalurkan hak pilih suara mahasiswa.

‎Moment ini adalah sebagai roll model bagaimana praktek kita berdemokrasi dan berpolitik. Mengukur kualitas demokrasi dilihat seberapa besar partisipasi dan keikutsertaan dalam mengawal Pemilu raya kampus serta mencegah berbagai potensi kecurangan, campur tangan birokrasi apa lagi.

‎Bagaimana tidak Pemilu raya kampus merupakan sarana dan arena untuk menampilkan kader-kader terbaik serta berkompetisi dalam memperebutkan suara mahasiswa untuk menjadi orang nomor 1 satu dalam kelembagaan internal itu sendiri. Disisi lain ruang ini akan mampu mencetak pemimpin masa depan dan meningkatkan SDM yang berkualitas dan potensi sebagai bekal di masa depan.

‎Menurut penulis semua figur mesti mempunyai iktikad baik dan harapan panjang melebihi tarikan nafas tentang tata kelola lembaga mahasiswa yang baik, akuntabilitas dan transparan. Semua itu demi terciptanya pimpinan lembaga yang handal di kemudian hari.

‎Maka dengan demikian biarkanlah semua mahasiswa berkompetisi dengan hak politik dan demokrasi yang sama tanpa menggunakan tangan birokrasi untuk menekan atau mengintimidasi keikutsertaan mahasiswa. Pemira ini juga melatih budaya demokrasi dan cara berpolitik yang untuk menunjukan pengaruh serta kondisi politik lokal dan nasional dalam kran demokrasi sekarang saat ini.

‎Perbaikan dan Penguatan Lembaga Kemahasiswaan

‎Dalam pesta demokrasi atau pemilu raya kampus setiap mahasiswa harus berkompetisi dan bertarung menawarkan ide dan gagasan untuk perbaikan lembaga kemahasiswaan dan mengembalikan marwah mahasiswa itu di internal kampus. Bagaimana tidak, citra kelembagaan kampus seakan akan hilang dengan akibat tindakan pragmatis di sisi lain terjadi krisis legitimasi di mana lembaga kampus tidak lagi menjadi jembatan dan solusi dalam merespon segala masalah dan isu yang di hadapi bangsa ini.

‎Menurut penulis seharusnya melalui Pemira dan pesta demokrasi UHO yang akan di gelar pekan depan dapat mendorong kebebasan mahasiswa dalam menentukan sikap politik dalam membangun jejaring kerja-kerja konsolidasi dan mobilisasi seperti apa yang kita harapkan, sehingga kualitas demokrasi kampus itu bisa terus meningkat seiring dengan partisipasi mahasiswa dalam mengawal isu-isu yang krusial.

‎Degradasi Wacana Isu Strategis

‎Ada degradasi wacana, dimana kampus lebih sering mengadakan diskusi motivasi dibanding diskusi ideologi gerakan. Tradisi intelektual hidup karena ada perdebatan, konfrontasi dan wacana, sedangkan birokrasi menginginkan agar kampus tetap stabil jauh dari hiruk pikuk gerakan.

‎Melihat keadaan tersebut, berharap bahwa semua mahasiswa memiliki tradisi intelektual yang mengarah ke pembebasan sosial yang memiliki partisipasi dan antusias yang besar. Seharusnya dengan iklim kebebasan dan demokrasi kita menjadikan organisasi semakin baik, kuat dan mampu menjadi solusi di tengah banyaknya persoalan sebab pemerintah juga tak segan-segan untuk memutuskan produk politik yang tak berpihak pada rakyat.

‎Pengetahuan dan intelektual menjadikan pisau analisis untuk melihat masalah. Intelektual organik Antonio Gramsi, bahwa seorang pejuang dan pemikir itu tidak hanya berdiri di atas menara gading tetapi harus menjadi bagian dari keringat rakyat yang melebur bersamanya.

‎Tradisi Tahunan Dan Momentum Berharga

‎Menjadi salah satu momen yang penuh makna dan keistimewaan bagi para mahasiswa. Tradisi tahunan ini tidak hanya sekadar kegiatan seremonial, atau hanya menggugurkan tanggung jawab tetapi harus bisa melahirkan keputusan strategis tentang masa depan lembaga dan kampus tercinta UHO.

‎Ini adalah ruang kawah candradimuka dan peran mereka dalam perubahan sosial. Mahasiswa adalah tulang punggung masa depan bangsa, daerah, dan negara. Mereka memikul tanggung jawab besar sebagai estafet kepemimpinan yang akan memperbaiki tatanan sosial, ekonomi, politik, dan budaya di Indonesia. Posisi mahasiswa sebagai intelektual yang tercerahkan memberikan mereka peran strategis dalam menggerakkan perubahan.

‎Sejarah membuktikan bahwa mahasiswa memiliki kekuatan besar untuk mengubah perjalanan bangsa. Perubahan itu tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses panjang, perjuangan, dan konsistensi yang tinggi.

‎Jika kalian adalah generasi baru yang akan menjadi bagian dari sejarah, ciptakanlah sesuatu yang berbeda dari sekitar kalian. Kehadiran mahasiswa tidak hanya untuk berdiri di menara gading, tetapi harus mampu berkontribusi langsung kepada masyarakat, tuntunlah dirimu menjadi satu kesatuan yang akan menjadi kekuatan perubahan.

Tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini, seperti disorientasi dan krisis legitimasi dalam peran kontrol sosial mereka. Oleh karena itu, penulis menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap mahasiswa.

‎Menjadi pemimpin mahasiswa berarti membangun harapan dan visi yang jauh ke depan melampaui generasi, sesuai dengan cita-cita pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

‎Mulailah dengan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa, seperti membaca, diskusi, menulis, dan aksi. Tradisi intelektual harus tetap hidup, karena ini yang akan menghidupkan wacana kritis di kampus. Pentingnya kaderisasi yang matang untuk memastikan keberlangsungan gerakan mahasiswa di kampus. Proses kaderisasi yang baik akan melahirkan pemimpin yang tangguh, bertanggung jawab, integritas dan memiliki idealisme tinggi serta tidak terlena dengan rayuan dan godaan sesaat.

‎Selamat berpesta Mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO). Semoga melahirkan pemimpin lembaga yang progresif dan revolusioner.

*Penulis : Rasmin Jaya
(Pengurus BEM UHO Periode 2020-2021, Ketua DPC GMNI Kendari Periode 2023-2025)

Continue Reading

opini

Pendidikan Sebagai Jalan Peradaban, Pembebasan, dan Kedamaian: Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Published

on

By

Kadek Yogiarta

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap 2 Mei setiap tahunnya, bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara (2 Mei 1889), yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.

Penetapan ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau dalam memperjuangkan pendidikan di tengah tekanan kolonialisme. Hingga kini, Hardiknas diperingati melalui berbagai kegiatan, termasuk upacara bendera di instansi pemerintah dan lembaga pendidikan.

Pendidikan pada hakikatnya adalah perjalanan panjang yang tidak pernah berhenti. Jika kita menengok ke masa lalu, akses terhadap pendidikan bukanlah hal yang mudah. Banyak anak bangsa harus berjuang dalam keterbatasan ekonomi, minimnya fasilitas, serta sempitnya kesempatan belajar. Namun justru dari keterbatasan itu lahir keteguhan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari ketidakberdayaan menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Memasuki era modern, wajah pendidikan mengalami transformasi yang signifikan. Akses semakin terbuka, teknologi menjadi jembatan pengetahuan, dan kesempatan belajar hadir bagi lebih banyak orang. Negara pun menunjukkan komitmennya melalui berbagai kebijakan strategis, seperti penguatan sistem pendidikan nasional, peningkatan anggaran pendidikan, serta program bantuan seperti KIP, PIP, dan beasiswa prestasi lainnya.

Kemajuan tersebut tercermin dalam peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang mencapai 75,90 pada tahun 2025, naik dari 75,02 pada tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan adanya perbaikan dalam dimensi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Indikator pendidikan seperti harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah juga terus meningkat, menandakan bahwa akses dan partisipasi masyarakat dalam pendidikan semakin baik.

Secara ilmiah, banyak penelitian menegaskan bahwa pendidikan memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kualitas pembangunan manusia. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar kontribusinya terhadap kesejahteraan hidup dan kemajuan bangsa. Namun demikian, pendidikan tidak boleh direduksi hanya menjadi angka statistik.

Ia bukan sekadar kelulusan atau gelar akademik, melainkan proses pembentukan manusia seutuhnya, hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah proses pewarisan peradaban. Nilai-nilai luhur, budaya, dan kebijaksanaan ditransmisikan dari generasi ke generasi melalui pendidikan.

Sementara itu, Paulo Freire memandang pendidikan sebagai alat pembebasan sebuah proses untuk membangkitkan kesadaran kritis dan memerdekakan manusia dari berbagai bentuk penindasan.

Dalam pengalaman pribadi, pendidikan bukan sekadar kewajiban, melainkan panggilan hidup. Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana bukanlah penghalang, tetapi sumber kekuatan untuk terus bertumbuh. Semangat belajar tidak mengenal usia. Hingga usia 42 tahun, perjalanan pendidikan masih berlanjut dalam studi doktoral. Ini bukan semata untuk pencapaian akademik, melainkan wujud keyakinan bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat.

Dalam perspektif Hindu, pendidikan memiliki dimensi yang lebih dalam. Ia bukan hanya upaya intelektual, tetapi juga perjalanan spiritual pencarian menuju kebenaran sejati. Ilmu pengetahuan menjadi jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan, dan kebenaran akan membawa manusia pada kesadaran yang lebih tinggi. Teks Nitisataka ada menyebutkan “busana pengetahuan adalah kedamaian” mengandung makna bahwa orang yang benar-benar berilmu tidak akan terjebak dalam kesombongan, melainkan memancarkan kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kedamaian.

Belajar Sepanjang Hayat, Jalan Menuju Kebijaksanaan dan Kedamaian

Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Ia adalah ruang kontemplasi bersama untuk bertanya, sudahkah pendidikan memanusiakan manusia? Sudahkah ilmu yang kita miliki membawa manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama? Di tengah kemajuan zaman, tantangan pendidikan justru semakin kompleks.

Kemudahan akses informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa belajar bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi membentuk karakter, menajamkan nurani, dan menumbuhkan kebijaksanaan.

Pendidikan sejati adalah pendidikan yang membebaskan dari kebodohan, memerdekakan dari ketakutan, dan menuntun manusia menuju kedamaian batin. Ia tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menyucikan hati.
Akhirnya, selama manusia masih memiliki kemauan untuk belajar, selama itu pula ia sedang menapaki jalan menuju peradaban yang lebih luhur. Pendidikan adalah jalan panjang jalan yang tidak hanya membawa kita menjadi cerdas, tetapi juga menjadi bijaksana, damai, dan semakin dekat dengan Tuhan.

Penulis: Kadek Yogiarta
Pemerhati Pendidikan di Sulawesi Tenggara

Continue Reading

opini

Kasus Tambang Sultra, Perselingkuhan Penguasa dan Penguasa ? ‎

Published

on

By

Rasmin Jaya

MARAKNYA praktek terselubung di sektor pertambangan akhir-akhir ini menjadi sorotan, kecaman dan membuat publik sontak terkejut, sontak atas terseretnya beberapa nama  pejabat publik hingga ditetapkannya tersangka oleh Aparat Penegak Hukum (APH).

‎Pasalnya tokoh yang selama ini dikenal memiliki sepak terjang, integritas dan kapabilitas seolah runtuh reputasinya akibat berbagai pemberitaan diberbagai media lokal dan nasional.

‎Relasi Pengusaha dan Penguasa

‎Atas mencuatnya praktek di lingkaran sektor pertambangan mengindikasikan bagaimana relasi kekuasaan dan penguasa mencoba bermain dalam sirkulasi atas kejahatan merampok kekayaan alam dan Sumber Daya Alam (SDA) di Sulawesi Tenggara, yang seharunya terorientasi kepada masyarakat.

‎Perselingkuhan penguasa dan pengusaha di sektor pertambangan dianggap lumrah, sebab hal demikian bukan hal baru terjadi di Indonesia terlebih di Sulawesi Tenggara.

‎Fenomena demikian, sangat rentan dan berpotensi untuk menjadikan daerah ini nantinya pengelolaan potensi sumber daya alam dan kekayaan nanti di kelola secara ugal-ugalan dan tak jarang harus menabrak aturan hukum atas kaidah-kaidah pertambangan yang berlaku.

‎Tak bisa dipungkiri beberapa tokoh di Sulawesi Tenggara banyak terlibat dalam skandal pertambangan, hingga terjerumus dalam jeruji besi atau mungkin bahkan bermain mata untuk lolos dari jeratan hukum.

‎Maka sangat mungkin hari ini atau ke depan akan mengalami nasib yang sama, jika mekanisme pengelolaan SDA dan kekayaan terkonsentrasi hanya segelintir pihak. Tentu itu menjadikan kita refleksi untuk berbuat lebih banyak, mengawasi setiap kebijakan yang ada agar sesuai dengan koridornya.

‎Rasa skeptisme saat ini seolah sering kali muncul. Publik bertanya ? Apa yang akan menjadi akhir dari dramaturgi ini, bagaimana integritas penegak hukum dalam penanganan perkara demikian ?

‎Apa lagi perizinan pertambangan terkonsentrasi di pusat, sehingga menjadikan pejabat daerah atau yang mempunyai kepentingan di sektor pertambangan bisa leluasa melakukan loby, negosiasi hingga harus melakukan “suap” ?

‎Seolah-olah pemimpin pusat hingga daerah menutup mata dan telinga tentang apa yang terjadi. Kekuasaan dengan segala instrumen penegak hukumnya seolah tak berdaya di perhadapkan dengan berbagai godaan, iming-iming atau hal lain dengan tetek bengeknya.

‎*Bagaimana Integritas Penegak Hukum* ?

‎Produk kebijakan hukum yang diambil tidak tepat sasaran bahkan setengah hati. Apakah Aparat Penegak Hukum (APH)  tebang pilih ? Dengan upaya melindungi iklim investasi dan pertambangan yang tetap harus berjalan sebagaimana mestinya.

‎Persekongkolan ini menjadikan kekayaan daerah dan potensi sumber daya alam seolah terpusat dan mengalir pada segelintir pihak. Publik menunggu ?

‎Padahal jika terkelola dengan baik, tepat sasaran dan menjadikan rakyat sebagai orientasi utama, maka kesejahteraan dan pembangunan bisa merata di berbagai komponen masyarakat.

‎Bahwa air, tanah dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah milik negara dan akan diperuntukan kepada masyarakat, justru sangat bertolak belakang dengan apa yang di alami saat ini.

‎Justru kekayaan tersebut hanya di kuasai oleh segelintir orang dan untuk kepentingan kelompok dan diri mereka pribadi. Sebagai putra daerah merasa prihatin melihat fenomena ini, justru masyarakat menjadi penonton di daerah sendiri yang hanya mendapat dampaknya dan menikmati segala kontroversi pejabat atas berbagai pemberitaan media soal kasus tambang.

‎Keterlibatan Pejabat Daerah ?

‎Tak bisa dipungkiri, beberapa bulan terakhir ini, hampir semua media memberitakan soal tambang dan menjadi sangat kontroversi ketika  keterlibatan pejabat daerah yang menjadi bagian penting dan strategis dalam ruang tersebut.

‎SDA terasa dalam balutan penguasaan kaum oligarki dan kepentingan kelompok untuk melanggengkan kekuasaannya. Menjaga iklim investasi dengan produk kebijakan yang berpihak pada mereka.

‎Berharap agar kekayaan alam yang diberkahi oleh Allah SWT dapat dimanfaatkan untuk pembangunan yang lebih baik dan menjadi sentral perputaran ekonomi yang memadai.

‎Salah satu akar persoalan lingkungan hidup di Sulawesi Tenggara adalah praktek ugal-ugalan dalam pengelolaan sumber daya alam. Banyak penguasa yang terlibat skandal seperti itu, bahkan menjadikan investor sebagai juru kunci untuk modal yang membiayai kampanye di momentum Pilkada.

‎Dengan banyaknya praktik-praktik di sektor SDA, mulai dari penerbitan izin yang tidak sesuai dengan prosedur, mekanisme dan peraturan perundang-undangan yang ada, terkesan bahwa pemimpin kita masih menutup mata dan tidak punya nurani untuk melihat persoalan rakyat secara jernih.

‎‎Masalah Serius Nan Krusial

‎Masalah pertambangan sampai saat ini masih menjadi hal serius nan krusial yang terjadi di Indonesia, khususnya di Sulawesi Tenggara yang merugikan masyarakat dan negara. Perselingkuhan penguasa dan pengusaha menjadi sangat rentan, meksipun tak terkuat di publik tetapi mereka bisa bermain di belakang layar, dengan segala loby dan transaksinya.

‎Ini adalah tindakan tercela yang melibatkan penyalahgunaan kekuasaan untuk keuntungan pribadi atau kelompok, seringkali dengan mengorbankan kepentingan rakyat banyak.

‎Tentu amat sangat menyedihkan, kita semua dibuat terkejut dan geleng-geleng kepala melihat pejabat yang sebelumnya di pilih oleh rakyat, yang dianugerahi amanah, harapan dan tanggung jawab tentang hari-hari baik ke depan bagaimana kondisi dan keadaan diselesaikan dan carikan solusi, justru kita menyaksikan sirkulasi para pejabat dengan kroni-kroninya bermain di belakang layar memperkaya diri hingga terjerat baju orange di sektor tambang.

‎Tetapi tanpa sadar atas praktek itu justru melegitimasi krisisnya kepercayaan rakyat kepada pejabat publik selama ini dianugerahi kepercayaan, tanggung jawab, kekayaan, tahta yang berlimpah justru dalam sekejap melunturkan reputasi mereka dan harapan baik rakyat pupus.

‎Seolah mereka hadir di tengah rakyat, bagai dewa penolong dan ratu adil yang menghamburkan uang tetapi yang sebenarnya itu datang dari kekayaan alam yang di kelola secara ugal-ugalan dan tidak transparan.

‎Kita patut sesalkan, sampai kapan praktek kejahatan itu dilakukan dan bahkan harus berapa orang lagi pejabat yang dijerat hukum, baru kita merasa sadar, sepantasnya kita harus merefleksi diri, menginternalisasi bagaimana seyogyanya kekuasaan, penguasa memainkan iklim investasi dan kepemimpinan itu dijalankan.

‎Kita menyadari memang, bahwa kekuasaan, penguasa di sektor tambang amat dekat dengan lingkaran setan seperti kejahatan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) sehingga perlu ada peran kita untuk melakukan kontrol sosial, menjadi mitra kritis dan strategis agar pemerintahan dan iklim investasi selalu berjalan di bawah pengawasan.

‎Momentum Refleksi dan Evaluasi

‎Ini menjadi refleksi dan ujian kita bersama, mungkin saja masih banyak pejabat-pejabat yang diam-diam ketakutan dan tertekan ketika sewaktu-waktu lembaga rasuah Komisi Pemberantasan Korupsi atau aparat penegak hukum hadir di daerah-daerah khususnya Sulawesi Tenggara. Merongrong kotak Pandora yang tersembunyi di balik meja pejabat dan pelaku tambang.

‎Tetapi apapun itu, sebagai penegak hukum sewajarnya menjalankan amanah, tanggung jawab dan fungsinya secara profesional agar mereka yang memakan uang rakyat dengan memanfaatkan potensi kekayaan daerah diberikan hukuman yang jerah tanpa pandang buluh.

‎Mungkin juga masih banyak praktek-praktek demikian di sektor pertambangan, yang menjadikan koalisi penguasa dan pengusaha bermain mata untuk melancarkan aksinya dengan segala aktivitas ekonominya meskipun itu menabrak aturan.

‎Sehingga dengan tegas dan penuh harap, pejabat publik bagaimana kembali memikirkan tentang apa yang melekat kepada mereka, amanah, tanggung jawab dan harapan rakyat untuk segera di realisasikan.

‎Meskipun aparat penegak hukum terus berupaya memberantas fenomena demikian di Sulawesi Tenggara, tetapi masih mendapatkan tantangan, hambatan dinamika, tarik ulur serta dihadapkan dengan godaan.

‎Kasus yang melibatkan berbagai sektor, termasuk pertambangan menunjukkan bahwa masih menjadi masalah serius di daerah ini. Pemberantasan kasus tambang membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak, termasuk aparat penegak hukum, pemerintah daerah, stekholder instansi terkait dan masyarakat sipil.

‎Tulisan sederhana ini adalah sederet keresahan pikir, tentang masalah krusial yang ada di Sulawesi Tenggara yang berkorelasi dengan hajat hidup orang banyak, yang seharusnya alokasi anggaran miliaran bahkan triliunan itu bisa menjadi bentuk pembangunan yang memudahkan akses masyarakat, serta pertumbuhan ekonomi yang semakin maju, justru pupus di tengah jalan akibat masuk di kantong-kantong pribadi para pemegang amanah.

‎Sebagai penegasan ulasan ini pemerintah sudah harus lebih serius dan dapat memberikan jaminan perlindungan, penghormatan, dan pemenuhan terhadap hak atas lingkungan hidup, serta pemerintah bisa menjadi garda terdepan mengambil tanggung jawab atas kejahatan lingkungan yang terjadi di Sulawesi Tenggara.

‎Pemerintah tidak boleh tunduk terhadap korporasi dan kepentingan investor karena, ia punya tanggung jawab terhadap masyarakatnya bukan kepada investasinya, bukan kepada kelompoknya, keluarganya apa lagi.

‎Sumpah Pejabat adalah sesuatu yang sangat sakral dimana di atas pundaknya ada beban, tanggung jawab semata mata untuk masyarakat.

‎‎Bagaimana Pers Harus Bersikap ?

‎Pers memiliki peran strategis sebagai pilar demokrasi, penjaga akal sehat publik, sekaligus mitra kritis dalam proses pembangunan nasional dan daerah dalam segala proses pemberitaan yang ada.

‎Pers bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga penjaga nurani publik. Melalui kerja dari produk jurnalistik yang profesional dan beretika, pers membantu masyarakat mendapatkan informasi yang benar, berimbang, tepat, akurat, dan mencerahkan.

‎Namun di tengah derasnya arus informasi dan tantangan era disrupsi digital, peran pers justru semakin penting. Media massa dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga akurat dan bertanggung jawab serta tetap pada fungsi kontrol yang tetap sasaran dan berimbang.

‎Di era digital, hoaks dan disinformasi mudah menyebar. Di sinilah pers dituntut untuk tetap teguh pada kode etik jurnalistik, menjaga independensi, dan menghadirkan karya terbaik serta menjadi penyangga pada hal-hal yang tidak di inginkan dari kehidupan sosial kemasyarakatan serta ruang publik.

‎Melalui pers yang berfungsi sebagai sarana untuk menciptakan opini masyarakat dan mengawal isu-isu sosial di berbagai sektor khususnya di sektor pertambangan yang sedang hangat di bincang di ruang publik.

‎Kita memandang pers sebagai mitra kritis dan strategis bagi berbagai pihak stakeholder dan instansi terkait dan media memainkan peran penting dalam fungsi kontrol.

‎Dalam isu hukum yang melibatkan tokoh publik, media memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan berbasis fakta. Publik juga perlu membaca berita secara kritis dengan memperhatikan sumber dan konteks pemberitaan. Pada akhirnya kepastian hukum tetap berada pada proses penegakan hukum yang berjalan secara transparan dan objektif.

‎Kasus ini menjadi pengingat bahwa di tengah deras arus informasi, integritas dan independensi pers menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap media.

‎Pers diuji, antara idealisme dan pragmatisme ? di tengah bincang dan hiruk pikuk kasus tambang yang ada di Sulawesi Tenggara.

‎Penulis : Rasmin Jaya
Mantan Ketua GMNI Kota Kendari

Continue Reading

opini

Jalan Panjang Perjuangan dan Pengabdian, Menyongsong 1 Dekade GMNI Kendari

Published

on

By

GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA (GMNI) Kendari bersiap menggelar hajatan besar. Sebuah momentum ideologis, meneguhkan kembali khitah perjuangan GMNI Kendari tanpa tercerabut dari kultur ideologisnya dan geografisnya.

Ulasan ini hanya sekedar refleksi, untuk kader dalam menyongsong semangat dan harapan baru ke depan. Tak akan cukup hanya sekadar kata ini untuk menggambarkam jalan panjang perjuangan yang penuh lika liku, sebab di sana bicara perjuangan, pengabdian, semangat, impian ke depan.

Temu Marhaenis, 1 Dekade GMNI Kendari dengan tema : “Arah Ideologi, Konsolidasi Kader, dan Transformasi Perjuangan Marhaenis dari Masa ke Masa”

Hajatan tersebut akan di gelar tanggal 8 Maret 2026, di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara menjadi sebuah moment spesial, strategis, dan istimewa bagi kader yang juga meneguhkan kembali semangat historis tentang akar terbentuknya GMNI Kendari.

Kita tau, kita sedang menapaki jalan panjang perjuangan. Sebab aku dan kita semua yang sempat membaca sepenggal tulisan tersirat dan tersurat ini, kita seorang marhaenis tidak boleh begini terus.

Generasi kita harus bangkit, maju, dan mencapai mimpi-mimpi kita. Cita-cita harus terus dirawat dan diperjuangkan. Tidak sepatutnya kita apatis dan merasa bodoh. Ini tentang regenerasi, kepemimpinan, dan masa depan, sebab ada tugas dan tanggung jawab moral, ideologi, organisasi, dan sejarah yang kita pikul.

Penulis bicara tegas dah apa adanya, sebuah dorongan untuk menegaskan kembali arah serta khitah perjuangan. meneguhkan arah gerakan dan gagasan tentang prospek di masa depan.

*Optimisme Ke Depan*

Gerakan mahasiswa tak boleh hanya menjadi ruang diskusi yang hampa tanpa tindakan, tapi harus kembali pada napas perjuangan kerakyatan yang menjadi jantung GMNI sejak kelahirannya.

Tapi juga harus tetap relevansi dengan detak jantung modernisasi yang serba tak pasti. Proses ideologisasi, doktrin perjuangan, penguatan kepemimpinan yang progresif dan tetap kritis terhadap situasi menjadi refleksi yang juga catatan kritis untuk tetap bergerak.

Apalagi forum tersebut dirancang bukan sebagai acara seremonial, melainkan ruang tukar gagasan. Momentum ini tidak boleh dianggap sekadar seremonial, penggugur tanggung jawab yang terlewat begitu saja, tetapi harus benar-benar terpatri dalam jiwa setiap insan Marhaenis.

Pasalnya, sudah terlalu lama kita hidup dalam luka yang dibalutnya sendiri. Berjuang dengan pamrih, penuh konsistensi, dedikasi dan tanpa kenal lelah menjadi bentuk pengabdian nyata yang juga hadir atas rasa cinta. Marhaenis Kendari dalam lintasan generasi telah menorehkan fondasi kokoh yang juga tinta emas, bukan hanya untuk di kenang ataupun menjadi mitos, tetapi mesti menjadi inspirasi dan cahaya untuk generasi baru yang terap tegak lurus dengan prinsip perjuangan “Marhaenisme”.

Bagi kawan, di beberapa sela diskusi ia berujar, “kita ini sudah terlanjur cinta kepada GMNI, apapun yang terjadi kita merasa bertanggung jawab semua. Kondisi kita sekarang adalah konsekuensi dari pilihan kita di masa lalu, jadi harus siap bertempur dan berjuang dengan berbagai tantangan yang ada”.

GMNI Kendari telah melewati pasang surut, ada dinamika, gejolak, suka duka, pilihan sulit hingga apapun itu namanya tak pernah sedikitpun pasrah.

Suara-suara telah diteriakkan dan panji merah telah dikibarkan. Harapan melambung tinggi, berkali-kali persatuan di jahit dengan penuh lirih, kata demi kata ini adalah ungkapan hati yang penuh harap tentang kebaikan GMNI ke depan.

Saya yakin kader lain pun merasakan hal yang sama, sebab kita yang gandrung akan persatuan dan gotong royong pasti mengilhami hal tersebut.

Tetapi akan menjadi sebuah ironi jika organisasi yang lahir dari semangat nasionalisme dan cita-cita Marhaenisme yang mengajarkan persatuan, keberanian, dan kesetiaan kepada rakyat kecil justru kehilangan khitah perjuangan dalam refleksi perjalanan yang sudah sejauh ini.

Ini tak boleh terjadi, tergerus dalam arus perkembangan global apa lagi gimik kepentingan politik sesaat.

*Marhaenis di Simpang Kiri Jalan*

Marhaenis tetap harus berada di simpang kiri jalan, berteriak diatas podium dengan lantang, bersuara di forum dan terus menghiasi percakapan publik dengan gagasan, ide dan harapan tentang nasib baik rakyat kecil.

Di Kota Kendari terlihat barisan kader yang berjuang di jalanan tanpa legitimasi formal, namun bergerak melalui semangat keikhlasan untuk mengabdi kepada bangsa ini, membentuk jati diri kepemimpinan, mengasah kritis dan respon pada kebijakan pemerintah.

Forum ideologis harus terus menjadi kawah candradimuka membentuk karakter pemimpin bangsa, untuk mengisi ruang pengadilan di berbagai sektor strategis.

Sebuah pesan, organisasi mahasiswa kerap terjebak dalam “fragmentasi egosentris” yang kehilangan konteks praksisnya. Meskipun GMNI hari ini menghadapi hal serupa, kita tidak boleh tergiring dalam konflik kepentingan atau apapun itu dengah segala embel-embelnya dan tetek bengeknya.

Saya percaya setiap kader merindukan kejayaan dan kemenangan. Suatu masa di mana semua merasa bisa berdaya, tapi itu adalah proses yang semuanya sedang menuju di sana sebab tak ada yang instan. Semuanya harus di perjuangkan dan di usahakan dengan baik.

GMNI tetap menjadi ruang pembentukan gagasan, ide, dan pemikiran tajam untuk masa depan yang lebih baik. Sejak awal, GMNI bukan sekadar organisasi mahasiswa.

Ia adalah ruang ideologis yang lahir untuk berjuang dan menegakkan nasionalisme yang berjiwa sosial sebagaimana ajaran Bung Karno. Ideologi jangan hanya berhenti sebagai slogan, tetapi tindakan kongkret yang berdampak.

Marhaenisme harus tetap membumi sebagai wujud nyata perubahan melalui refleksi jujur tentang keberpihakan kepada kaum kecil, serta pergulatan intelektual yang menyalakan kesadaran akan akar kultural kita.

Sejarah gerakan mahasiswa mengingatkan bahwa ketika organisasi kehilangan kohesi ideologis, ia akan kehilangan daya kritis terhadap kekuasaan.

Gerakan yang semula lahir sebagai penantang akhirnya hanya menjadi pelengkap kekuasaan, bukan lagi kekuatan moral, melainkan sekadar alat reproduksi elite politik. GMNI tak boleh terjerumus dalam hal tersebut

Karena ketika idealisme digantikan oleh kalkulasi kekuasaan, organisasi kehilangan jiwanya. Kita tidak menginginkan GMNI diombang-ambingkan oleh kepentingan kekuasaan yang menindas. Ini adalah kritik dan otokritik yang mesti melahirkan sintesis baru dalam akumulasi segala dinamika yang ada.

Para kader tidak boleh sekadar mencari pengakuan, tetapi harus menjalankan amanat ideologi, tanggung jawab organisasi dan tuntutan sejarah.

Hal ini dimulai dari kesadaran moral bahwa GMNI bukan milik segelintir pihak melainkan milik seluruh kader yang masih percaya bahwa api Nasionalisme masih menjadi benang yang bisa merajut perbedaan dan Marhaenisme tetap menjadi asas perjuangan yang akan tetap relevant mengikuti arus perkembangan zaman.

*GMNI Menjadi Lokomotif dan Kawah Candradimuka*

GMNI tetap menjadi lokomotif, pelopor dan kawacandradimuka untuk setiap insan Marhaenis pejuang pemikir- pemikir perjuang.

Kita sedang merintis di atas jalan terjal perjuangan untuk terus mengumpulkan secercah percikan api agar menjadi kekuatan dan cahaya yang selalu mengiringi perjalanan kita. Tentang harapan yang kita perjuangkan, mungkin tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi semoga itu menjadi pelajaran dan pengalaman dari setiap kejadian itu sendiri.

GMNI membutuhkan pemurnian nilai. Kita perlu menatap ulang akar Marhaenisme bukan sekadar sebagai doktrin politik, melainkan sebagai ajaran kemandirian, kebersamaan, dan pengabdian pada rakyat.

GMNI adalah nama yang penuh makna dan istimewa di relung hati para kadernya. Ia hidup sebagai lambang, seperti bendera yang masih berkibar sebagai detak jantung perjuangan. Seperti pekikan tangan kiri yang selalu menjadi simbol perlawanan dan seperti gelaran tetrikal dan suara puisi sebagai reaksi balik atas seme menanya kekuasaan.

Warna merahnya akan tetap menyala, dan darah ideologinya mengalir di setiap nadi untuk membangun komitmen, cinta, dan harapan dan semangat berkarya, mencipta dan memimpin.

*Transformasi Perjuangan Marhaenis dari Masa ke Masa*

Menyongsong hajatan besar ini, dalam refleksi tersimpan banyak harapan dan impian yang belum banyak terwujud. Tapi ia bergerak seperti gayun bersambut yang saling menghubungkan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Tanggung jawab Marhaenis sejati adalah terus bekerja dengan pikiran, hati, dan jiwa yang ikhlas, serta tak lupa bagaimana ia terus belajar untuk menyiapkan bekal di masa depan.

Ketika momentum, peluang, kesiapan bertemu dalam satu titik maka menjadi sesuatu yang tak bisa kita lewatkan.

Mari kita sambut moment besar ini dengan nuansa kekeluargaan, sebagai upaya bersama merawat ingatan, menolak lupa atas rasa cinta kepada GMNI dan Ibu pertiwi, cinta yang terus hidup di setiap diskusi malam hingga jelang subuh, ditemani secangkir kopi dan rokok meskipun di tengah keterbatasan.

Menyalakan harapan adalah tanda bahwa kita memiliki prospek masa depan. Sekali lagi, 1 Dekade GMNI Kendari bukanlah agenda euforia semata, melainkan momen mengambil hikmah dari perjalanan panjang perjuangan.

Terus mendorong kepemimpinan yang progresif dan revolusioner, mengisi pos-pos kritis di berbagai sektor dan melakukan gebrakan intelektual, terobosan program, dan sesuatu yang berdampak pada perubahan kongkret.

Orientasi dan tujuan GMNI Kendari harus terukur, jelas, tepat sasaran, dan berdampak nyata. Ujian independensi akan selalu ada. Godaan akan muncul seperti ombak yang menyeret kita pada pusaran kepentingan praktis.

Pelajaran berharga bagi kita adalah kecerdasan dalam membaca peta politik dan sosial, kemampuan menjaga stamina kader, serta kematangan dalam mengelola konflik kepentingan.

*GMNI Go To Kampus*

GMNI perlu menyegarkan kembali wawasan kemahasiswaan sebagai organisasi berbasis intelektual muda, di mana idealisme pemuda menjadi pilar penyangga jati diri bangsa.

Marilah kita tetap bersatu dan berjuang. Setiap insan Marhaenis, sebagai corong dan laboratorium kader, harus memaksimalkan sumber daya dan potensi yang ada dari setiap insan Marhaenis serta penguatan ideologi, mentalitas, dan kapasitas untuk berkompetisi di dalam kampus. Tantangan ke depan semakin besar.

Kita dituntut untuk selalu aktual, kritis, dan terus mengasah kemampuan sebagai Marhaenis sejati yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan dari masa ke masa sebab kita bicara kader dalam lintasan sejarah, perjuangan dan pengabdian yang tak pernah usai.

Di ujung tulisan, ia menutup dengan kalimat semangat ideologis, GMNI bukan milik sekelompok orang. Ia milik rakyat. Rakyat yang selalu ia perjuangankan,petani, nelayan, buruh, kaum miskin kota dan lainnya yang menjadi orientasi utama.

*Mengembalikan Khittah ke Jalan Perjuangan*

Selama rakyat masih tertindas, GMNI tak boleh diam. Ia harus menjadi lokomotif gerakan dan peka terhadap isu-isu strategis yang menyangkut persoalan rakyat. Sentral gerakannya mesti di bangun di kampus, sebab corong konsolidasi dan mobilisasi gerakan.

GMNI berada di titik krusial nan strategis. Jalan satu-satunya adalah kembali ke akarnya, jalan perjuangan rakyat, panggilan sejarah, dan tugas ideologi.

GMNI mampu menjawab arah zaman: membantu petani mempertahankan tanahnya, bersama buruh menuntut keadilan kerja di era fleksibilitas tenaga kerja, mendampingi mahasiswa miskin yang rentan dikeluarkan karena tunggakan UKT, mengadvokasi hak-hak masyarakat adat yang direpresi oleh kekuasaan oligarki dan kebijakan pembangunan eksploitatif.

GMNI bisa menjadi sentral gerakan untuk perubahan
ke depan, selain dari internalisasi perbaikan tatanan struktur dan transformasi agar gerak perbaikan organisasi lebih baik mesti juga menjadi pelopor, menyatukan elemen dan eksponen gerakan.

Ke depan, semua kader bisa terus memastikan kerja organisasi berjalan secara baik dan sistematis, mengawal kebijakan pemerintah, dan memperbaiki kualitas kaderisasi. Langkah demi langkah yang konkret, kita semakin percaya bahwa Marhaenis Kendari akan banyak yang mengisi ruang pengabdian di masa depan dan dengan itu menjadi pelopor, bukan penonton. Jadilah pelaku sejarah, jangan jadi penonton apalagi penikmat sejarah.

GMNI kini berusaha mentransformasi diri untuk tetap relevan dengan perjuangan kaum tertindas di era digital, dengan tetap memegang teguh ajaran Bung Karno.

Tercatat sudah 5 kali terjadinya transformasi regenerasi kepemimpinan dalam setiap periode kepengurusan dari tahun 2015-2026. Mulai dari Zulzaman sebagai peletak fondasi pertama, Abdul Wahab, Saswal Ukba, Rasmin Jaya dan Awaluddin sebagai ketua Cabang terpilih periode 2025-2027.

Selamat Dies Natalis GMNI Kendari, 1 Dekade perjalanan yang panjang, 2015-2026. Tetaplah menjadi Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang.

Saya adalah GMNI, kamu adalah GMNI, dan apa pun yang terjadi pada GMNI adalah tanggung jawab kita semua. Warisi apinya, jangan abunya.

GMNI Memanggil Pulang. Merdeka.

Penulis : Rasmin Jaya
(Ketua DPC GMNI Kendari 2023-2025)

Continue Reading

Trending