Connect with us

Ekonomi Makro

BIK 2019 Usung Tagline CETAR-KU

Published

on

KENDARI, bursabisnis.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sultra dan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) menyepakati Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2019 yang akan digelar pertengahan Oktober mendatang akan mengusung tagline “Carnival of EMAS Sulawesi Tenggara Inklusi Keuangan” atau disingkat CETAR-KU.

Melalui BIK 2019, lembaga keuangan dan FKIJK akan berkolaborasi mendorong literasi dan inklusi keuangan di Sultra. Tagline yang diusung juga sejalan dengan arah pembangunan daerah yang dicanangkan pemerintah provinsi (Pemprov) Sultra.

Dimana, kata EMAS merupakan salah satu slogan RPJMD Pemprov Sultra yang beraeti “Ekonomi Masyarakat Aman dan Sejahtera”.

Kepala OJK Provinsi Sultra, M. Fredly Nasution menyatakan, pihaknya bersama lembaga keuangan lainnya dan FKIJK terus gencar mendorong literasi dan inklusi keuangan di Sultra.

“FKIJK adalah wadah sinergi dan kolaborasi antara perbankan, pasar modal, hingga industri keuangan non bank seperti lembaga perasuransian, pembiayaan, pergadaian, modal ventura, dana pensiun, BPJS dan lembaga keuangan lainnya,” beber Kepala OJK Provinsi Sultra.

Kepala Subbagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sultra, Ridhony M. H. Hutasoit memaparkan, tahun ini BIK dapat diwujudkan melalui empat hal, yaitu program khusus lembaga jasa keuangan seperti discount, cash bak dan lainnya. Kemudian, penjualan produk atau layanan jasa keuangan berinsentif, business matching, serta kampanye program inklusi keuangan secara masif.

“Fokus target inklusi keuangan tahun ini yaitu pelajar, perempuan dan UMKM,” jelasnya.

CETAR-KU, kata dia, akan dilaksanakan dengan dua event puncak, yakni expo dan seminar kewirausahaan se-Indonesia Timur yang berkolaborasi dengan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari yang kegiatannya dikemas menjadi Esku UHO dan Inklusi Keuangan OJK Se-Indonesia Timur Tahun 2019, pada 18-21 Oktober 2019 di Lapangan Bola dan Auditorium UHO.

“Event selanjutnya adalah gowes literasi dan inklusi keuangan (Go-Link) pada 27 Oktober 2019,” katanya.

Tak hanya itu saja, CETAR-KU juga akan diisi dengan berbagai kompetisi bergengsi seperti Duta Inklusi dan Literasi Keuangan Nusantara (DILAN) Awards kategori umum, jurnalis, entitas media, dan pemimpin daerah. Kemudian, lomba business plan dan produk tingkat perguruan tinggi dan SMA, lomba dan parade sepeda hias kategori umum dan pelajar, lomba mewarnai/menggambar tingkat TK dan SD.

Selain itu, direncanakan juga akan ada Kampung Kuliner Inklusi Keuangan (Kampung Kuliner-Ku) selama seminggu, dengan pembayaran non tunai yang akan dikelola langsung oleh UMKM se-Sultra.

“Info lebih lanjut akan diinformasikan kepada masayarakat melalui berbagai publikasi. Ayo kita bersama dukung acara CETAR-KU, termasuk ikuti lomba-lomba yang ada, karena berhadiah total puluhan juta rupiah,” ucapnya.

 

Liputan: Ikas Cunge

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMODITI

Pimpin Pertemuan Dewan Kopi Internasional, Indonesia Bertekad Bantu Petani Kopi

Published

on

By

JAKARTA, bursabisnis.id – Indonesia bertekad berjuang membantu petani kopi menghadapi tantangan, terutama dalam masa pandemi COVID-19. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian perdagangan, Iman Pambagyo, yang menjabat sebagai Ketua Dewan ICO periode 2019-2020 saat memimpin secara virtual jalannya Pertemuan Khusus Dewan ICO yang ke-126 pada tanggal 4 sampai 5 Juni 2020.

Pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan ICO yang pertama kalinya dilangsungkan secara virtual pada 1–5 Juni 2020. Tema besar yang diangkat ICO kali ini ialah “Building a Sustainable Global Coffee Industry Together”.

“Sebagai ketua dewan, kami menegaskan bahwa kopi merupakan salah satu komoditas pertanian penting yang menggerakkan roda perekonomian di berbagai negara, termasuk Indonesia, melalui penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan. Hal ini sangat terkait dengan pencapaian tujuan-tujuan Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang ditopang secara berimbang oleh tiga pilar, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujar Iman sebagaimana dilansir di situs kemendag.go.id.

Iman menyampaikan, misi utama pada pertemuan kali ini ialah mengupayakan kesepakatan di antara anggota ICO mengenai rekomendasi dan opsi kebijakan bagi seluruh negara anggota. Selain itu, juga memperkuat kolaborasi antara ICO dengan lembaga pembangunan/donor, organisasi internasional, dan sektor swasta untuk bekerja sama dalam menyelesaikan berbagai tantangan yang dihadapai sektor kopi.

Menurut Iman, keketuaan Indonesia pada Dewan ICO ini menjadi penting dan mencerminkan kepercayaan dunia kepada Indonesia untuk mendorong keberlangsungan ekonomi dari sektor kopi melalui kemitraan antara pemerintah, petani, dan sektor industri. Dalam konteks situasi saat ini, Indonesia akan berjuang untuk membantu petani lokal yang terpukul karena pandemi COVID-19.

Sektor kopi terus mengalami tantangan penurunan harga, ditambah pandemi yang terjadi saat ini turut memperbesar tantangan tersebut. Seluruh negara, tanpa terkecuali mengalami krisis di berbagai sektor, termasuk sektor kopi, sebagai dampak penyebaran COVID-19. Penutupan perbatasan lintas negara dan pembatasan sosial telah mengganggu rantai pasokan dan permintaan. Akibatnya, pasokan tidak dapat disalurkan dan konsumsi tertekan.

“Situasi ini tidak hanya berdampak negatif kepada petani, tapi juga kepada industri kopi. Inilah yang mendorong kami di ICO untuk segera merespons dampak pandemi, terutama bagi pelaku yang sangat terdampak, seperti petani kecil dan UMKM. Negara, entitas organisasi internasional, lembaga pembangunan, akademisi, dan sektor industri bersatu dan bertemu secara virtual untuk mencari solusi terbaik bagi pemulihan sektor kopi dunia,” ungkap Iman.

Iman menambahkan, proyek peningkatan kapasitas untuk mendorong peningkatan konsumsi domestik menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan kali ini sebagai langkah nyata membantu petani kopi dunia, termasuk di Indonesia.

Sebelumnya, Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Kementerian Perdagangan, Antonius Yudi Triantoro, juga telah memimpin Delegasi RI pada pertemuan virtual Komite Keuangan dan Administrasi pada 1–2 Juni 2020. Dalam acara yang masih menjadi bagian dari rangkaian Pertemuan Khusus Dewan ICO tersebut, Yudi menyampaikan bahwa ICO sebagai organisasi terdepan di sektor kopi harus segera merespons berbagai tantangan dan permasalahan yang muncul akibat pandemi.

“Berbagai tantangan keuangan dan administrasi yang dihadapi ICO saat ini perlu segera dicarikan solusi guna menjamin keberlanjutan dan relevansi organisasi,” ujar Yudi.

Sementara itu, pada 3 Juni 2020, Iman juga telah membuka dan menutup seminar internasional secara virtual dengan tema “COVID-19 Impact on the World Sector and Mitigation Measures” yang dihadiri lebih dari 400 stakeholders termasuk lembaga internasional dunia seperti World Bank, European Community, FAO, SCA, Rabobank, IDH-The Sustainable Trade Initiative, dan London School of Economics.

Sekilas Mengenai ICO

Organisasi Kopi Internasional (International Coffee Organization/ICO) merupakan organisasi kopi utama antar pemerintah yang dibentuk pada 1963. ICO beranggotakan 43 negara produsen/eksportir kopi (dengan pangsa mencapai 99 persen dari total produksi dunia) dan 6 negara konsumen/importir kopi, termasuk Uni Eropa sebagai satu kesatuan entitas (dengan kontribusi mencapai 67 persen dari total konsumsi dunia). Sebanyak 70 persen dari total produksi kopi dunia dihasilkan oleh 25 juta petani kecil di ICO.

Tujuan utama ICO adalah untuk memperkuat sektor komoditas kopi secara global dan pengembangan berkelanjutan pada market-based environment untuk kemajuan seluruh negara anggota. Kewenangan tertinggi di ICO berada pada putusan dewan yang saat ini diketuai oleh Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo.

Laporan : Rustam Dj

Continue Reading

Investasi

Bulan April, Terjadi Peningkatan Transaksi di BEI Sultra

Published

on

By

KENDARI, bursabisnis.id – Pandemi COVID-19 membuat harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi. Sentimen negatif terhadap situasi ekonomi membuat banyak investor panik sehingga melakukan aksi penjualan saham.

Menurut P.H.Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Sulawesi Tenggara (Sultra,  Ricky, penjualan saham dalam jumlah besar inilah yang membuat harga-harga saham menjadi turun. Turunnya harga saham tentunya tidak terlepas dari mekanisme pasar yakni faktor supply dan demand. Saat terjadi oversupply maka harga saham makin turun.

Hal ini juga tercermin dari IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang berada pada posisi 6.299 di awal tahun 2020 dan sempat menyentuh angka 3.911 di bulan Maret lalu. Selain itu di Sulawesi Tenggara sendiri terjadi penurunan nilai transaksi Pasar Modal yang cukup signifikan di Bulan Februari dan Maret 2020.

Bulan

Nilai Transaksi

Januari Rp 40.772.642.100,-
Februari Rp 17.556.184.900,-
Maret Rp 27.864.022.300,-
April Rp 42.255.862.125,-

 

Namun demikian di bulan April 2020, terlihat peningkatan nilai transaksi yang cukup tinggi, mencapai  nilai  Rp  42.255.862.125. Nilai  transaksi tersebut  mencerminkan  kepercayaan  masyarakat untuk kembali berinvestasi di Pasar Modal bahkan tengah kondisi Pandemi COVID-19 saat ini.

Dalam berinvestasi, selalu ada peluang di setiap kondisi. Menjadi peluang baik bagi investor untuk mulai berinvestasi  Ketika  harga-harga  saham  mengalami  penurunan.  Karena  berarti  investor  bisa  membeli saham pada harga yang murah. Ketika situasi pandemi COVID-19 berakhir, dan perekonomian dunia serta Indonesia membaik, harga saham berpotensi naik kembali menuju pada harga wajar sahamnya. Atau harga buku per saham yang sesuai dengan kinerja perusahaan.

Saat ini pula sangat mudah bagi masyarakat untuk berinvestasi di Pasar Modal, baik itu dalam bentuk Saham ataupun Reksadana. Syaratnya cukup dengan melampirkan KTP, Buku Tabungan dan Dana minimal Rp 100.000,- yang langsung menjadi saldo awal rekening saham atau reksadana yang bersangkutan.

Dalam kondisi Pandemi COVID-19 ini, Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Sulawesi Tenggara tetap melakukan edukasi Pasar Modal secara online. Baik melalui Instagram dan juga melalui berbagai Aplikasi   Webinar.   Hal   ini   dilakukan   supaya   masyarakat   tetap   dapat   mengakses   info  maupun pembelajaran terkait Pasar Modal dimanapun mereka berada.

 

Laporan : Rustam Dj

Continue Reading

KEUANGAN

lnflasi Sulawesi Tenggara Berada di Level Rendah dan Terkendali

Published

on

By

KENDARI, bursabisnis.id – Pada Mei 2020, Sulawesi Tenggara (Sultra) tercatat mengalami inflasi sebesar 0,26% (month to month/mtm), meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0, 16% (mtm). Hal ini dikemukakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sultra, Suharman Tabrani.

Meskipun mengalami peningkatan, tekanan inflasi pada ldul Fitri tahun ini jauh dibawah rata-rata capaian inflasi pada ldul Fitri dalam tiga tahun terakhir yang mencapai 2,40% (mtm). Dengan capaian tersebut, inflasi tahunan dan tahun berjalan di Sulawesi Tenggara tercatat masing-masing sebesar -0,21 % (year on year /yoy) dan -0,39% (Year to date/ytd).

Tekanan inflasi pada Mei 2020 disebabkan peningkatan pada komoditas ikan-ikanan seiring dengan pola operasional nelayan yang terbatas selama menjelang dan sesudah ldul Fitri 1441 H.

Selain itu, mulai berlangsungnya angin musim timur juga berdampak pada terjadinya peningkatan tinggi gelombang di wilayah penangkapan utama perikanan di Sulawesi Tenggara sehingga mendorong terjadinya peningkatan harga pada beberapa komoditas seperti ikan layang (6,9% mtm), cumi-cumi (14,3% mtm) dan ikan cakalang (6,55% mtm). Komoditas yang juga mengalami peningkatan cukup tinggi adalah bawang merah (16,0% mtm) disebabkan oleh terbatasnya produksi petani lokal dan perdagangan dengan daerah lain. Tekanan inflasi pada bulan Mei 2020 sedikit tertahan oleh penurunan harga yang terjadi pada beberapa komoditas seperti telepon seluler (-9,5% mtm), beras (-1,4% mtm) dan telur ayam ras (-6, 1 % mtm).

Secara spasial, inflasi di Sulawesi Tenggara disebabkan oleh inflasi yang terjadi di kedua kota sampel penghitungan inflasi, yaitu Kota Kendari dan Kota Baubau. Kota Kendari tercatat mengalami inflasi sebesar 0,31 % (mtm), meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar -0,05% (mtm). Kota Baubau juga tercatat mengalami inflasi meskipun lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, yaitu dari 0,88% (mtm) pada April 2020 menjadi 0,09% (mtm) pada Mei 2020. Dengan kondisi tersebut, inflasi tahunan di Kota Kendari dan Kota Baubau masih berada pada level yang sangat terjaga, yaitu sebesar -0,49% (yoy) dan 0,79% (yoy).

Terkendalinya inflasi pada periode ldul Fitri tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan oleh TPID se-Sulawesi Tenggara . Upaya pelaksanaan pasar murah di beberapa lokasi dengan tetap menaati protokol keamanan Covid-19 dilakukan sebagai upaya untuk menjaga keterjangkauan harga dan memberikan kemudahan kepada masyarakat ditengah pandemi yang terjadi saat ini.

Selain itu, kebijakan pemerintah daerah untuk memberikan bantuan langsung berupa sembako terhadap masyarakat yang terdampak langsung dari Covid-19, memberikan dampak terhadap ketersediaan pasokan dan terjaganya permintaan masyarakat sehingga lonjakan kenaikan harga yang biasa terjadi pada periode ldul Fitri dapat diredam.

Laporan : Rustam Dj

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 PT. Tenggara Media Perkasa - Bursabisnis.ID Developer by Green Tech Studio.