Rupa-rupa
Over Kapasitas Jadi Tantangan, Rutan Kelas IIA Kendari Tetap Kedepankan Prinsip PRIMA
KENDARI, bursabisnis.id – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Kendari terus menunjukkan komitmennya memberikan pelayanan pemasyarakatan yang profesional dan berintegritas, meskipun dihadapkan pada kondisi hunian yang melebihi kapasitas.
Dari kapasitas ideal 252 orang, Rutan Kelas IIA Kendari saat ini menampung 684 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan tahanan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh jajaran Rutan Kelas IIA Kendari dalam menjalankan tugas dan fungsi pemasyarakatan. Namun demikian, pelaksanaan pelayanan tetap berlandaskan pada prinsip PRIMA, yakni Profesional, Responsif, Integritas, Modern, dan Akuntabel, sebagai pedoman utama dalam setiap kebijakan dan pelayanan.
Kepala Rutan Kelas IIA Kendari, Rikie Noviandi Umbaran, menegaskan bahwa kualitas pelayanan dan pemenuhan hak-hak WBP tetap menjadi prioritas utama.
“Meskipun kami berada dalam kondisi over kapasitas, pelayanan yang humanis dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tetap kami kedepankan,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa penguatan integritas aparatur serta transparansi dalam pelaksanaan tugas menjadi fokus penting guna menjaga kepercayaan publik terhadap institusi pemasyarakatan.
Terkait isu yang sempat beredar di media mengenai dugaan gratifikasi berupa pemberian kendaraan kepada Kepala Rutan Kelas IIA Kendari, pihak Rutan memberikan klarifikasi tegas. Rikie menjelaskan bahwa kendaraan yang digunakan saat itu bukan berasal dari WBP atau tahanan.
“Kendaraan tersebut merupakan milik salah satu pegawai yang saya pinjam sementara karena kendaraan dinas sedang dalam perbaikan, dan setelah selesai diperbaiki kendaraan itu langsung dikembalikan,” tegasnya.
Sebagai bentuk keterbukaan informasi, Rutan Kelas IIA Kendari senantiasa membuka ruang komunikasi dan dialog dengan berbagai pihak. Langkah ini merupakan wujud komitmen dalam menjunjung tinggi akuntabilitas, integritas, serta peningkatan kualitas pelayanan pemasyarakatan di Sulawesi Tenggara.
Laporan : Kas
Editor : Tam
opini
Peran Alumni Al-Azhar sebagai Pelopor Ajaran Islam Wasatiyyah yang Rahmatan li Al-‘Alamīn
Keberagamaan di Indonesia hidup di ruang yang majemuk. Kita dibesarkan oleh perjumpaan banyak iman, ideologi politik, etnis, bahasa, dan tradisi. Kemajemukan ini bisa menjadi energi sosial yang menyejukkan, tetapi bisa juga berubah menjadi ketegangan ketika agama dipersempit menjadi identitas yang kaku.
Di ruang publik hari ini, kita melihat bagaimana sebagian cara beragama mudah tergelincir menjadi saling menilai dan saling menyingkirkan. Ada yang cepat menghakimi, ada pula yang mudah tersulut. Ada yang merasa paling benar lalu menutup pintu dialog.
Padahal, ukuran paling nyata dari kedalaman iman bukan hanya kuatnya simbol, melainkan kuatnya akhlak.
Di Sulawesi Tenggara, tantangan itu hadir dalam wajah yang khas karena masyarakatnya beragam dan dinamis. Budaya lokal menjadi perekat sosial yang sudah lama bekerja melalui etika pergaulan, musyawarah, penghormatan, dan solidaritas komunitas.
Di saat yang sama, arus informasi yang cepat sering membawa potongan pengetahuan agama yang tidak utuh.

Dalam kondisi seperti ini, yang dibutuhkan bukan sekadar ramainya aktivitas keagamaan, melainkan kedewasaan beragama yang menghadirkan ketenangan sosial.
Moderasi beragama (waṣaṭiyyah) menjadi kebutuhan yang konkret, karena ia menjaga iman tetap tegak tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan permusuhan.
Di titik inilah peran Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia–Sulawesi Tenggara menjadi penting.
Jaringan alumni Universitas Al-Azhar di seluruh dunia mengemban mandat tradisi ilmu yang kuat dan cara pandang yang lapang.
Mandat ini membentuk dakwah yang cenderung tenang, argumentatif, dan adil dalam menyikapi perbedaan. Oleh karena itu, OIAA tidak hanya hadir sebagai penonton yang hanya menilai gejala sosial keagamaan dari kejauhan. OIAA perlu tampil sebagai penjernih suasana yang menebarkan prinsip Islam yang raḥmatan lil ‘ālamīn sebagai akhlak kolektif (publik).
Islam yang memuliakan manusia, menghargai alam semesta, sehingga tidak menumbulkan watak dan prilaku kekerasan.
Islam yang menguatkan ketaatan pada konstitusi sebagai kesepakatan hidup bersama, serta menerima budaya lokal sebagai ruang kebajikan yang dapat memperkaya syiar.
OIAA cabang Indoensia-Sulawesi Tenggara hadir dengan struktur pengurus inti yang menjadi pijakan bagi kerja kolektif.
Dalam hal ini, Ketua dijabat oleh Dr. H. Danial, Lc., M.Th.I., Wakil Ketua dijabat Dr. H. Abdul Muiz Amir, Lc., M.Th.I., Sekretaris oleh H. Muhammad Iqbal, Lc., M.HI., dan Bendahara oleh H. Laenre al-Hafiz, Lc.
Namun yang paling menentukan bukan hanya struktur kepengurusan organisasi, melainkan arah dakwah moral yang ingin dihadirkan di tengah masyarakat.
OIAA memiliki peluang untuk menggeser cara beragama di ruang publik dari nada marah menjadi bahasa rahmah. Dari kecenderungan merasa paling suci menjadi sikap melayani umat. Dari kebiasaan memecah belah menjadi ikhtiar merangkul, mendidik, dan menenangkan.
Arah ini sejalan dengan pesan Prof. Dr. Ahmad al-Tayyeb (Syaikh/Grand Imam Al-Azhar Al-Sharif) menyatakan “naḥnu du‘āh salām” (Kita adalah para penyeru perdamaian) relevan untuk menjadi kompas dakwah para alumni Al-Azhar di kancah global.
Pesan singkat ini memberi arah bahwa wajah Islam yang perlu dibawa ke tengah masyarakat adalah wajah yang menenangkan dan membangun. Damai yang berwibawa karena berpijak pada keadilan, bukan damai yang menyerah pada provokasi.
Selain itu, Syaikh ‘Ali Gomaa (Grand Mufti Mesir periode 2003/2013) juga menguatkan pesan yang sama “ilā manhaj ḥaqīqī nuqāwim bih masyārib al-tasyaddud” (Menuju sebuah metode yang sungguh-sungguh agar kita mampu melawan kecenderungan sikap berlebih-lebihan dan kaku).
Pesan ini menekankan pentingnya rahmah sebagai cara menghadapi kerasnya kecenderungan ekstrem. Nasihat ini penting karena akar masalah radikalisme sering bukan kurangnya semangat beragama, melainkan semangat yang tidak dibimbing oleh rahmah dan ilmu.
OIAA cabang Indonesia-Sulawesi Tenggara siap membuka diri untuk bekerjasama dengan instansi pemerintah agar ikhtiar moderasi beragama memiliki dukungan dan jangkauan yang luas.
OIAA siap berkolaborasi dengan lembaga pendidikan dan pusat kajian keagamaan agar literasi Islam yang rahmatan lil alamin mengakar di ruang kelas, kampus, dan komunitas belajar.
OIAA juga siap bersinergi dengan organisasi masyarakat dan para pegiat syiar keagamaan yang toleran dan damai agar narasi rahmah menjadi arus utama di ruang sosial dan ruang digital.
Kolaborasi semacam ini penting sebab harmoni tidak pernah lahir dari kerja sendiri. Ia lahir dari jejaring kebaikan yang saling menguatkan.
Peran OIAA cabang Indonesia-Sulawesi Tenggara siap konsisten menebarkan Islam yang raḥmatan lil ‘ālamīn, sehingga masyarakat di Sulawesi Tenggara makin toleran tanpa kehilangan prinsip. Masyarakat makin taat konstitusi tanpa merasa iman berkurang. Masyarakat menolak kekerasan sebagai pilihan, bukan sebagai slogan. Budaya lokal dipahami sebagai kekayaan yang dapat menambah keindahan syiar.
Di situlah ajaran Islam benar-benar hidup, bukan sebagai wacana, tetapi sebagai peradaban sosial yang menenteramkan.
Penulis :
Dr. H. Abdul Muiz Amir, Lc., M.Th.I.
Wakil Ketua OIAA Cabang Indonesia–Sulawesi Tenggara
opini
Mengorek Memori Masa Kecil, Nuansa Desa
Bagaikan gayun bersambut yang saling terhubung, antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Sebuah memori di simpang jalan masa kecil terlintas, kita mengenang yang mengorek tentang kisah-kisah dulu, masih terasa nuansa desa di atas Bumi Manusia.
Ketika masih bersekolah di SD, kehidupan kita terasa bahagia, bukan harta, tahta atau kemewahan ekonomi tetapi kita bisa bebas bermain apa saja sampai kadang lupa waktu, beragam permainan tradisional turut menghiasi masa kecil kita, poase, pobhaguli, poboi, pogapo, pokatemba temba, dan yang lainnya.
Kita yang lahir dari sebuah pelosok Desa kecil, Maperaha, Kecamatan Sawerigadi, Kabupaten Muna Barat, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang mayoritas masyarakatnya bergerak di sektor pertanian, yang masih kental dengan kulturnya.
Memang dimasa itu, belum gegap gempitanya pesatnya perkembangan teknologi, gejet, dan beragam game lainnya dengan tetek bengeknya.
Pasalnya memang, kita tinggal di pelosok desa yang masih asri, indah, nyaman, tanpa hiruk pikuk perkotaan dan jauh dari industri pabrik yang mencemari dari desa tersebut, seperti gadis “Perawan”, cantik dan selalu tersimpan dalam memori.
Gadis desa, kembang desa dan anak-anak yang lahir dari petani yang sibuk dengan aktivitas sehari harinya, tentu punya tanggung jawab, bagaimana ketika pulang ke sekolah harus pergi mencangkul, membabat, dan membantu pertanian orang tua yang mungkin hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari hari.
Tapi bagi kita, yang mungkin juga masih banyak orang di luaran sana yang merasakan hal demikian, ketika kebunnya jauh dari pemukiman warga, harus berjalan kaki, berkilo-kilo meter, melewati hutan rimba yang di huni banyak ular, lemba, kuburan, kali yang di huni buaya tetapi karena mungkin sudah sangat bersahabat dengan alam rasanya seperti hal yang biasa, tak ada rasa takut sekecekil apapun.
Ketika senja mulai terbenam, matahari sore malam pun tiba. Kadang harus tidur di kebun di malam minggu sebab esoknya libur , menjaga jagung dan tanaman lainnya dari hewan pemakan tumbuhan. Hanya bermodal keyakinan, keteguhan, kerja keras dan doa, berharap ada kebaikan di hari esok meskipun ketika menyusuri malam di dalam kebun hanya mengandalkan rembulan yang menyinari dan tumpuan kayu yang di bakar di bawah pondok-pondok Rumbia.
Kebun kita yang jaraknya sekitar 6 – 7 KM kadang harus bertarung dengan banyak tantangan. Dulu ada yang familiar, seekor hewan yang setiap malam masuk di dalam kebun, Wewi Kabu dalam bahasa Indonesia ” Babi Batuk” tapi kadang-kadang ada ular yang secara tiba-tiba naik di atas pondokan.
Meskipun demikian, orang tua kita sudah teruji dan punya nyali akan hal seperti itu. Segala apapun, hasil kebun tetap di syukuri, memanggil warga dan masyarakat untuk menikmatinya, detumbu dan beragam jenis model di buat. Sebagai masyarakat mekanik dalam istilah Emile Durkheim gotong royong dan kebersamaan tetap menjadi sesuatu yang nomor satu, sebab di sana ada kesamaan nilai dan kesadaran kolektif.
Ini adalah selayang pandang dari sebuah fenomena, bukan tentang orang lain, tapi tentang kita yang mungkin juga orang lain di luar sana yang merasakan hal serupa.
Tapi, ada beberapa hal yang menarik dan paling berkesan yang tersirat maupun tersurat dari sebuah percakapan seorang anak dan orang tuanya.
”Koemo pedamu nsaidi, rampahano Insaidi notolaomo, sikolamu fekatata membalighomu dua mie, sokaetaha namisi gholeo mburimaino”
Singkat tapi bermakna, mungkin saja, atas kehidupan yang keras, membentuk karakter dan kepribadian hingga saat ini yang berjuang dan terus memantaskan diri melalui jalur pendidikan dan organisasi.
Secercah harapan tentang hari esok, meskipun orang tua tidak menuntut kita, harus seperti apa kita ke depan tetapi paling tidak kita sebagai anak bisa berpikir, memahami, mengilhami dan mendalami setiap makna yang tersirat dari setiap ungkapan yang datang dari perasaan& hati yang penuh harap.
Unsamo kaawu nsaidi numamisie kamarasaino dunia, koemo hintumu. Pasolahae dua ingka sohintumu, madakaawu gholeo mburimaino.
Bagi banyak orang tua, kuliahin anak itu butuh perjuangan berat, Jadi, ketika anaknya bisa sarjana, itu benar-benar sebuah pencapaian bagi mereka. Apalagi kalau mereka dulunya enggak punya kesempatan untuk bersekolah lebih baik. Bisa kuliahin anak sampai sarjana itu sebuah pencapaian bagi mereka.
Kalau bagimu itu biasa saja, jangan pakaikan ukuran bajumu ke tubuh mereka. Apalagi tubuh mereka yang setiap hari dibakar panas matahari, di hujan oleh hujan, dihadapkan dengan kerja-kerja yang tak mudah demi anak kuliah.
Fekiri lagi tula tula kamokula nefemoini, dorelamo lagi daedesoa netetangga meskipun harus menanggung cacian, makian, kabisaraki namie demi untuk mengirimkan anaknya yang sementara berjuang, kuliah dan menuntut pendidikan.
Penghasilan orang tua setiap bulannya mungkin tak seberapa, tapi tekad, semangat dan jiwa optimis membara di dalam dada demi melihat anaknya mencapai puncak kesuksesannya.
Penulis : Rasmin Jaya
Founder Komunitas Pustaka Jendela Semesta
opini
Menjaga Marwah Demokrasi di Tingkat Warga
DALAM sepekan terakhir konsentrasi saya, pada satu tugas pengabdian menjadi Ketua Panitia Pemilihan RW 07 dan Ketua RT di lingkup RW 07, Kelurahan Anawai, Kecamatan Wua-Wua, Kota Kendari.
Bahkan dalam beberapa kewajiban seperti mengajar dan juga mengikuti kuliah online sementara hanya sekedar hadir tetapi tidak aktif, demi konsentrasi tugas ini dalam beberapa hari terakhir. Tidak ada motivasi selain panggilan untuk berkontribusi dalam lingkungan.
Saya menikmatinya, sebagaimana dua pengalaman sebelumnya di tahun 2024 pernah menjadi Ketua KPPS pada Pemilu Legislatif dan Pilwali. Dua proses itu berjalan baik, tertib, dan tanpa persoalan berarti.
Pada pemilihan tingkat RW 07 dan RT atas mandat Ketua RT 03 saya menjadi panitia panitia dibentuk dan di SK Kan oleh Lurah dan diberikan mandat penuh untuk menyukseskan agenda demokrasi warga.
Namun sejak awal kami diperhadapkan pada satu masalah mendasar tidak tersedia satu rupiah pun dukungan anggaran dari APBD.
Alasannya, tidak ada alokasi dan dan mungkin juga karena situasi keuangan daerah sedang diefisiensi akibat defisit.
Dalam rapat perdana, saya mencoba menggali pengalaman RW lain soal pembiayaan. Jawabannya hampir seragam biaya operasional dibebankan kepada calon, dengan kisaran Rp800 ribu hingga Rp1 juta.
Alasannya pragmatis uang itu dipakai untuk pendataan pemilih, persiapan lokasi, hingga logistik, sehingga warga tidak perlu dibebani.
Namun secara etis, saran semacam itu menggelisahkan. Membebankan biaya dalam nominal tertentu kepada calon bukan sebagai donasi sukarela terasa tidak lazim.
Demokrasi seharusnya membuka kesempatan bagi siapa pun untuk maju, tanpa tersaring oleh tebal-tipisnya kemampuan finansial.
Jika ongkos menjadi kendala, maka demokrasi berubah menjadi seleksi kemampuan bayar, bukan seleksi legitimasi sosial.
Karena itu dengan mempertimbangkan emosi warga, semangat partisipasi, serta beban psikologis bagi calon, saya mendorong panitia terutama saya selalu Ketua panitia, mengambil jalan berbeda meminta dukungan warga dengan mengajukan list untuk bergotong-royong melalui sumbangan sukarela.
Prinsipnya sederhana bila kas panitia mencukupi, calon tidak perlu memikirkan biaya. Lagi pula, menjadi RT atau RW lebih banyak menyita tenaga daripada memberi keuntungan finansial. Kesediaan mencalonkan diri saja sudah merupakan bentuk pengabdian. Hasilnya positif warga berpartisipasi tanpa keberatan, dana operasional cukup, dan panitia dapat bekerja.
Namun dinamika tidak berhenti di situ. Di sejumlah tempat lain muncul keluhan atas pungutan pendaftaran yang dianggap memberatkan. Suara protes mengalir hingga pemerintah kota.
Lalu turunlah imbauan atas nama Sekda Kota Kendari yang menyatakan setiap pungutan dalam pemilihan RT/RW dilarang, baik untuk pendaftaran maupun operasional.
Imbauan ini tampak baik, tetapi kehilangan konteks bagaimana melarang pungutan sambil tetap menuntut proses berjalan, sementara negara tidak menyediakan biaya? Pada akhirnya, setelah klarifikasi, dipahami bersama bahwa selama swadaya dilakukan sebagai dukungan warga, hal tersebut dibolehkan. Pemerintah pun memahami bahwa APBD memang tidak menyiapkan anggaran untuk hajatan ini.
Setelah persoalan pembiayaan mereda, muncul dinamika lain penetapan lokasi TPS. Keputusan panitia sudah melalui rapat dan pertimbangan teknis. Saya bahkan menyiapkan argumen tertulis sebanyak delapan point, berbasis keamanan, akses warga, dan efisiensi kerja.
Namun protes tetap muncul, dalam sebuah grup Whatsap. Atas adanya kritik tersebut kami membuka ruang dialog bersama Ketua RT dan para calon, dan belum ada kata sepakat.
Ketika eskalasi meningkat, saya meminta Ketua RW membentuk tim independen dari tokoh masyarakat dan pihak kelurahan untuk memberi keputusan objektif.
Respons yang muncul menunjukkan adanya kesulitan teknis maupun psikologis akibat dinamika sebelumnya. Dengan kata lain, tanggung jawab kembali ke panitia.
Menghadapi situasi tersebut, saya memilih untuk mendengar langsung, mendengar warga satu per satu yang saya kenal, menimbang kepentingan publik, keamanan, dan ketertiban.
Pada akhirnya, saat penentuan nomor urut calon Ketua RW 07 dan RT 03 dengan meminta saran, informasi warga yang saya dapat saya putuskan memindahkan TPS.
Konsekuensinya, panitia meminta warga diminta membantu menyiapkan lokasi, termasuk beberapa kebutuhan dalam TPS seperti meja, kursi dan termasuk melengkapi tenda di luar tenda panitia yang di sewa.
Kompromi itu penting menempatkan kepentingan umum di atas ego kelompok. Pemilihan kali ini hanya untuk Ketua RW 07 dan RT 03, empat RT lain harus aklamasi karena hanya satu pendaftar. Saya memahami, demokrasi tidak pernah steril dari perdebatan. Tidak ada proses yang memuaskan semua pihak. Tetapi sebagai panitia, saya berpegang pada prinsip sederhana transparansi, keadilan, partisipasi, dan menjaga marwah proses.
Pemilihan pada tanggal 20 Desember 2025 berjalan tertib, tingkat partisipasi warga diatas 80 persen di lihat dari absen kehadiran.
Lurah Anawai, Camat Wua-Wua, dan jajaran hadir memantau. Sehari sebelumnya pun mereka turun memastikan kesiapan TPS. Sejak pagi hingga siang, proses berjalan lancar. Penghitungan suara dilakukan terbuka dan disaksikan saksi masing-masing calon.
Hasilnya jelas Calon Ketua RW 07, saudara Usman Afandi (No.1) meraih 134 suara, unggul atas Hasifun Bantina, SE (92 suara) selisih 42 suara.
Pada RT 03, Hardian Purnawan memperoleh 44 suara, unggul atas Asrahim (34 suara) selisih 10 suara.
Empat RT lainnya terpilih secara aklamasi: RT 01 Anto Asman, SE; RT 02 Firman; RT 04 Djafar; dan RT 05 Jovi Alkadri. Angka tidak pernah berbohong. Legitimasi tumbuh bukan dari biaya pencalonan tetapi dari suara rakyat.
Harapan saya sederhana bahwa para Ketua terpilih dapat memperbaiki pelayanan dan menjalankan program menjadi lebih baik dari sebelumnya dan memperkuat persatuan dan silaturahmi. Jangan hanya menikmati jabatan, tetapi abai terhadap tugas. Amanah warga harus dipikul dengan tanggung jawab, bukan menjadi aksesori sosial.
Pada akhirnya, demokrasi di tingkat warga adalah barometer paling jujur dari kualitas demokrasi nasional. Jika proses kecil ini dijaga dengan penuh dedikasi, maka marwah demokrasi bangsa tetap berdiri. Jika diabaikan, maka demokrasi hanya menjadi slogan tanpa ruh, tanpa rasa, tanpa kehadiran.
Kini saatnya kita semua memberikan dukungan kepada para Ketua terpilih. Sekat dan perbedaan berhenti pada hari pemilihan. Setelah itu, kita menjadi satu kesatuan warga. Saya selalu mengatakan inilah kesempatan menunjukkan teladan bagi generasi berikutnya, cermin mereka adalah orang tuanya hari ini, semoga RW 07 mampu menjadi contoh bagi lingkungan lainnya.
Penulis : Kadek Yogiarta
Warga BTN Permata Anawai
Catatan Ketua Panitia Pemilihan RT/RW07 Kelurahan Anawai, Kecamatan Wua-wua
-
ENTERTAINMENT6 years agoInul Vista Tawarkan Promo Karaoke Hemat Bagi Pelajar dan Mahasiswa
-
Rupa-rupa6 years agoDihadiri 4000 Peserta, Esku UHO dan Inklusi Keuangan OJK Sukses Digelar
-
PASAR6 years agoJelang HPS 2019, TPID: Harga Kebutuhan Pokok Relatif Stabil
-
Entrepreneur6 years agoRumah Kreatif Hj Nirna Sediakan Oleh-oleh Khas Sultra
-
Fokus6 years agoTenaga Pendamping BPNT Dinilai Tidak Transparan, Penerima Manfaat Bingung Saldo Nol Rupiah
-
FINANCE6 years agoOJK Sultra Imbau Entrepreneur Muda Identifikasi Pinjol Ilegal Melalui 2L
-
Fokus8 months agoUsai Harumkan Nama Wakatobi, Pelatih Atlit Peraih Medali Emas Jual Hp Untuk Ongkos Pulang
-
PERTAMBANGAN5 months ago25 Perusahaan Tambang di Sultra Dihentikan Sementara Operasinya
