ENTERTAINMENT
Sarinah GMNI Kendari Gagas Ruang Refleksi Perjuangan Perempuan Lewat Film Dokumenter
KENDARI, Bursabisnis. Id – Sarinah GMNI Kendari gagas ruang refleksi perjuangan perempuan lewat seminar dan film dokumenter. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kendari kembali mencatat sejarah.
Lewat semangat progresif dan revolusioner, GMNI sukses menggelar Seminar Keperempuanan sekaligus meluncurkan film dokumenter bertajuk “Kongres Perempuan I” di Aula FISIP Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari.
Dengan tema “Merdeka Tanpa Takut, Perempuan Mengukir Sejarah Baru”, kegiatan ini menjadi ruang penting untuk membangkitkan kesadaran kolektif terhadap perjuangan perempuan Indonesia, baik di masa lalu maupun kini.
GMNI Kendari berharap seminar dan launching film ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan wujud komitmen GMNI dalam memperjuangkan nilai-nilai kesetaraan gender.
Kami ingin menciptakan ruang inspiratif di mana perempuan berani menyuarakan keberanian, menggugat ketimpangan, dan terus berkarya di segala lini. Sehingga patut di apresiasi inisiatif luar biasa dari kader Sarinah GMNI yang berhasil memproduksi film dokumenter tersebut.
Film ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah perlawanan, bentuk keberanian menolak diam, dan langkah strategis yang relevan dengan realitas hari ini.
Perempuan hari ini tidak hanya butuh ruang, tapi juga keberanian untuk berdiri di garis depan. Melalui film Kongres Perempuan I, kita semua diajak merenungi kembali betapa panjang dan berdarahnya jalan menuju kesetaraan.
Dalam tayangan tersebut, bagaimana sosok-sosok Sarinah GMNI Kendari memainkan perannya dengan penuh penghayatan, fokus, profesionalisme serta menjunjung tinggi komitmen agar bagaimana karya yang dihasilkan bisa memantik api kesadaran kepada kaum perempuan.
Film ini menceritakan tentang Sejarah Kongres 1 Perempuan yang dimana hal itu adalah sebuah peristiwa monumental yang menandai tonggak sejarah pergerakan perempuan di tanah air, diselenggarakan pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Ndalem Joyodipuran, Yogyakarta.
Kongres ini lahir dari kesadaran akan pentingnya peran perempuan dalam perjuangan nasional dan untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial yang dihadapi kaum perempuan saat itu.
Dihadiri oleh perwakilan dari sekitar 30 organisasi perempuan dari Jawa dan Sumatera, serta dukungan dari beberapa organisasi laki-laki seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam, kongres ini bertujuan untuk menyatukan cita-cita, memajukan kaum perempuan Indonesia, dan menjalin hubungan baik antar berbagai perkumpulan wanita.
Pembahasan utama dalam kongres ini berpusat pada isu-isu krusial seperti pendidikan, perkawinan, serta perlindungan perempuan dan anak-anak. Para tokoh perempuan yang hadir, seperti Sdr. Ismudiyati, Sunaryati, Sdr. Sukaptinah, Nyi Hajar Dewantara, R.A. Soekonto, Siti Muji’ah, dan lainnya, menyampaikan pidato-pidato yang membahas berbagai aspek kehidupan perempuan, mulai dari hak dan kewajiban dalam rumah tangga hingga peran perempuan dalam pergerakan nasional.
Kongres ini berhasil merumuskan beberapa keputusan penting, antara lain pembentukan Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) sebagai wadah federasi untuk menyatukan berbagai organisasi perempuan, menerbitkan surat kabar yang dikelola oleh pengurus PPPI, serta mendirikan Studiefonds untuk membantu gadis-gadis yang kurang mampu agar dapat melanjutkan pendidikan.
Selain itu, kongres ini juga menghasilkan beberapa mosi yang disampaikan kepada pemerintah Hindia Belanda dan Raad Agama. Mosi-mosi tersebut mencakup tuntutan untuk penambahan sekolah bagi anak perempuan, perbaikan aturan terkait taklik nikah (janji dan syarat-syarat perceraian) agar diwajibkan secara tertulis sesuai peraturan agama, serta diadakannya peraturan sokongan untuk janda dan anak yatim piatu pegawai negeri.
Keberhasilan Kongres Perempuan Pertama dalam menyatukan visi dan misi pergerakan perempuan serta menghasilkan keputusan-keputusan strategis ini menjadi landasan kuat bagi perjuangan hak-hak perempuan di kemudian hari.
Tanggal 22 Desember, yang merupakan hari pertama penyelenggaraan kongres ini, kemudian ditetapkan sebagai Hari Ibu Nasional di Indonesia, sebagai bentuk penghargaan atas peran dan perjuangan kaum perempuan dalam sejarah bangsa.
Film pendek ini bertujuan untuk menginspirasi dan memotivasi perempuan, serta seluruh elemen masyarakat, untuk terus memperjuangkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Film ini diharapkan dapat menyoroti keteguhan, keberanian, dan visi para pelopor perempuan yang telah berjuang demi pendidikan, hak-hak perkawinan, dan perlindungan bagi perempuan dan anak-anak. Dengan demikian, film pendek ini tidak hanya berfungsi sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai alat untuk membangkitkan semangat dan refleksi tentang peran perempuan dalam pembangunan bangsa, baik di masa lalu, kini, maupun di masa depan.
Sesi pemutaran film menjadi puncak acara yang disambut antusias oleh peserta. Film ini tidak hanya menyajikan catatan sejarah, tetapi juga menjadi medium refleksi dan motivasi untuk terus menyalakan semangat perjuangan di tengah tantangan zaman.
Kegiatan ini dihadiri ratusan mahasiswa, organisasi internal kampus, hingga perwakilan kelompok Cipayung. Atmosfer penuh semangat dan solidaritas mengukuhkan bahwa GMNI, khususnya Sarinah, telah mengambil peran penting dalam membentuk arah baru gerakan perempuan di Kendari.
GMNI Jaya. Marhaenis Menjawab Tantangan Zaman.
Laporan : Icha
ENTERTAINMENT
KPID dan Polda Sultra Ingatkan Pengelola TV Kabel
KENDARI, Bursabisnis. Id – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Tenggara (Sultra) bersama Kepolisian Daerah (Polda) Sultra mengingatkan seluruh pengelola televisi dan pihak TV kabel di wilayah Sultra, agar tidak menyiarkan program siaran tanpa izin resmi.
Tindakan tersebut dinilai melanggar ketentuan hukum yang berlaku dan dapat berujung pada sanksi pidana.
Ketua KPID Sultra, Fadli Sardi, menegaskan bahwa setiap lembaga penyiaran, termasuk TV kabel, wajib mematuhi peraturan yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran serta Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Menurutnya, penyiaran tanpa izin tidak hanya merugikan pemegang hak siar, tetapi juga mengancam ketertiban penyiaran di daerah.
“TV kabel tidak boleh menyiarkan program tanpa memiliki hak siar dari pemilik hak cipta. Penyiaran tanpa izin adalah ilegal dan dapat dikenakan sanksi hukum, baik berupa pidana penjara maupun denda sesuai ketentuan undang-undang,” tegas Fadli.
Ia menjelaskan, pihaknya bersama Polda Sultra akan terus melakukan pengawasan terhadap aktivitas lembaga penyiaran, khususnya TV kabel yang beroperasi di berbagai kabupaten dan kota.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh penyelenggara siaran mematuhi ketentuan perizinan dan hak cipta.
“Sudah ada beberapa aduan yang masuk ke Polda Sultra terkait dugaan pelanggaran izin siar. Dari laporan tersebut, ada indikasi beberapa TV kabel menyiarkan konten tanpa hak siar yang sah,” ungkap Fadli.
KPID Sultra juga mengimbau masyarakat agar berperan aktif melaporkan setiap dugaan pelanggaran penyiaran di wilayahnya.
Menurutnya, partisipasi publik penting untuk menciptakan ekosistem penyiaran yang sehat, legal, dan menghormati hak kekayaan intelektual.
“Kami berharap seluruh pelaku usaha penyiaran dapat tertib administrasi, menghormati hak cipta, dan beroperasi sesuai regulasi agar tidak berurusan dengan hukum. Kami dan Polda Sultra berkomitmen akan menindak tegas setiap TV kabel nakal yang ilegal,” tutup Fadli.
Laporan : Kas
Editor : Tam
ENTERTAINMENT
Film Tegar Membawa Pesan Kuat Bagi Dunia, Sudah Diputar di 24 Negara
JAKARTA, Bursabisnis.Id –
Kementerian Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) mendukung partisipasi film Tegar, karya sutradara Anggi Frisca di Silk Road International Film Festival 2025.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya mengapresiasi keikutsertaan film itu sebagai bukti film sebagai subsektor ekraf yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.
“Partisipasi Tegar menjadi kebanggaan sekaligus bukti nyata bahwa film dapat menjadi the new engine of growth. Melalui penguatan kapasitas ekosistem kreatif, karya Indonesia tidak hanya menghibur tetapi juga membawa pesan kuat bagi dunia,” ujar Menteri Ekraf Teuku Riefky di laman ekraf. go. id.
Silk Road Film Festival 2025 sendiri berlangsung di Fuzhou, Tiongkok pada 22–26 September 2025 lalu.
Kehadiran Tegar menjadi bukti kapasitas sineas Indonesia yang mampu bersaing di panggung dunia, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas negara dan ekosistem perfilman nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.
Film Tegar mengisahkan perjuangan Satria Tegar Kayana, seorang anak dengan keterbatasan fisik yang berjuang meraih hak bersekolah.
Sejak 2022, film sarat pesan inklusi ini telah diputar di 24 negara, menjadikannya salah satu film anak Indonesia dengan jangkauan terluas di dunia.
Sutradara dan produser Anggi Frisca menegaskan bahwa Tegar membawa pesan universal tentang kesempatan yang sama bagi setiap anak.
Produser Dr. Chandra Sembiring menambahkan, film anak memiliki peran strategis dalam membangun generasi masa depan sekaligus mendorong kolaborasi inklusif lintas negara.
Selain pemutaran film, Anggi Frisca juga mempresentasikan proyek co-production Indonesia–Tiongkok bertema impian, teknologi, dan persahabatan melalui simbol Jakarta–Bandung High-Speed Railway—sebuah inisiatif yang diharapkan memperluas jejaring kreatif kedua negara dan memperkuat pertumbuhan ekonomi kreatif.
Kesuksesan Tegar menjadi pijakan bagi sekuelnya, Teman Tegar: Maira (Whisper from Papua), yang mengangkat persahabatan, keberanian, serta pesan menjaga alam Papua, dan dijadwalkan tayang akhir 2025.
Melalui karya-karya ini, Aksa Bumi Langit—sebagai Movie Laboratory Ecosystem sejak 2014—mendorong film berbasis IP (Intellectual Property) yang berkembang menjadi musik, buku, merchandise, hingga gerakan komunitas, menjadikan film sebagai media pembelajaran dan perubahan sosial.
Sumber : ekraf. go. id
Laporan : Icha
Editor : Tam
ENTERTAINMENT
Matta Cinema Production dan Tempo Luncurkan Sejumlah Project Film di Busan International Film Festival
JAKARTA, Bursabisnis.id – Matta Cinema Production, rumah produksi film dari Indonesia berbasis di Yogyakarta, mengumumkan enam rencana produksi film (Project Line Up) di Asian Content and Film Market, rangkaian program Busan International Film Festival yang ke-30, di Busan, Korea Selatan, pada Minggu 21 September 2025.
Sebagian dari project yang akan diproduksi pada 2025 hingga 2028 tersebut, telah mendapatkan dana investasi dari Indonesia.
CEO dan Produser dari Matta Cinema Production, Nugroho Dewanto, menegaskan kehadiran Matta di Busan bertujuan untuk membuka kolaborasi Internasional untuk keenam project yang 80 persennya akan berfokus pada penonton Indonesia.
“Kami menjajaki kerjasama investasi, distribusi dan penjualan film dengan beberapa perusahaan dari berbagai
negara,” kata Nugroho Dewanto, usai peluncuran project film tersebut di sesi happy hour,
Asian Content and Film Market, Busan.
Mengangkat tema “TRUE STORIES of INDONESIA: From Local Roots to Global Screen”, Matta Cinema Production juga mengumumkan secara resmi kerjasama mereka
dengan Tempo Media Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia yang sudah berdiri
sejak 1971.
Kedua perusahaan akan merilis tiga project film drama kriminal yang diangkat berdasarkan kisah nyata dan diolah dari karya jurnalisme investigasi Majalah Tempo.
Project film pertama adalah: Pintu Kanjuruhan (The Doors of Kanjuruhan) yang diangkat
dari tragedi sepak bola di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang menewaskan 131 jiwa karena
gas air mata polisi.
Film ini beranggaran Rp 10 miliar dan akan disutradarai oleh Razka Robby Ertanto, sutradara Indonesia yang membawa filmnya menjadi nominasi Big Screen Competition di International Film Festival Rotterdam 2024.
Project film berikutnya adalah Malam Alia (The Longest Night), yang diadaptasi dari kasus
bullying yang dikaitkan dengan meninggalnya seorang mahasiswi fakultas kedokteran di
Semarang.
Film ini beranggaran Rp 10 miliar dan akan disutradarai oleh Pritagita Arianegara,
yang filmnya menjadi finalis Best Asian Future Section Award di Tokyo International Film
Festival (TIFF) 2016.
Terakhir adalah project film Kampung Harapan (Village of the Hopefuls), tentang polemik
judi online yang mengguncang Indonesia yang beranggaran Rp 10 miliar.
Film ini akan disutradarai oleh Garin Nugroho, sutradara Indonesia yang tak perlu lagi diragukan rekam jejaknya.
Matta Cinema akan memproduksi ketiga project tersebut dalam kurun waktu 2026-2028 bersama dengan Pal8 Pictures yang merupakan anak perusahaan Tempo.
“Kami memang berkeinginan mengangkat kisah-kisah menyentuh yang selama ini menarik
perhatian publik melalui medium film untuk mendorong perubahan yang nyata di Indonesia
dan menjangkau lebih banyak kalangan,” kata salah satu produser Pal8 Pictures, Wahyu
Dhyatmika, yang juga Direktur Tempo Media Group.
Selain ketiga project tersebut, Matta Cinema juga meluncurkan project yang saat ini sedang
pada tahap pra produksi yaitu Rencana Besar Untuk Mati Dengan Tenang (My Own Last
Supper).
Cerita dari adaptasi novel terbaik sayembara ini akan disutradarai oleh ismailBASBETH, sutradara film Sara yang tampil pada World Premiere di Busan 2023 lalu.
Rencana Besar Untuk Mati Dengan Tenang yang beranggaran Rp 8 miliar akan memasuki produksi pada November 2025.
Project lain yang sedang dikembangkan Matta Cinema adalah Peristirahatan Terakhir (Last
Resort) yang ditulis oleh almarhum Gertjan Zuilhof, mantan programmer International Film Festival Rotterdam.
Film ini beranggaran Rp 20 miliar yang akan disutradarai juga oleh
ismailBASBETH.
“Matta Cinema Production akan terus konsisten menyajikan film-film berkualitas dunia dengan
pemahaman utuh atas cerita, talent dan penonton Indonesia. Jalan baru perlu dirintis, karena
yang membutuhkan film bagus di bioskop tidak hanya remaja, tapi juga penonton anak-anak
dan penonton dewasa. Kami fokus pada yang terakhir dulu dengan proyek-proyek yang kami
luncurkan ini,” kata ismailBASBETH di sela Asian Content and Film Market, di Busan.
Project lain adalah Perjalanan Rasa (The Unforgettable Flavors) yang terinspirasi dari buku
resep masakan tahun 1965 yang diinisiasi oleh Sukarno, presiden pertama Indonesia yang
berjudul Mustika Rasa.
Film ini beranggaran Rp 12 miliar dan akan disutradarai oleh Lasja F. Susatyo, pendiri Indonesian Director Club (IFDC).
Kedua project tersebut sedang dalam tahap pengembangan bersama perusahaan Ruang Basbeth Bercerita (RBB) di bawah produser Lyza Anggraheni, pemenang TAICCA award pada Busan Asian Film School pitching project di ACFM 2024.
“Kami membuka peluang kerjasama internasional dalam bentuk apapun, baik untuk project
Perjalanan Rasa yang fokus pada market utama Indonesia dan juga The Last Resort akan
fokus pada market internasional,” kata Lyza Anggraheni di sela Asian Content and Film Market, di Busan.
Dengan rangkaian proyek ambisiusnya, Matta Cinema Production terus memperkuat suara
Indonesia di kancah perfilman dunia menyajikan kisah-kisah yang berakar pada realitas lokal
namun mampu menggema secara universal.
Melalui kolaborasi dengan Tempo Media Group (Pal8 Pictures) dan Ruang Basbeth Bercerita, Matta Cinema Production membuka jalur
baru bagi kemitraan internasional, memastikan film-film Indonesia tidak hanya ditonton, tetapi
juga benar-benar dirasakan oleh penonton di seluruh dunia.
Laporan : Icha
Editor : Tam
-
ENTERTAINMENT6 years agoInul Vista Tawarkan Promo Karaoke Hemat Bagi Pelajar dan Mahasiswa
-
Rupa-rupa6 years agoDihadiri 4000 Peserta, Esku UHO dan Inklusi Keuangan OJK Sukses Digelar
-
PASAR6 years agoJelang HPS 2019, TPID: Harga Kebutuhan Pokok Relatif Stabil
-
Entrepreneur6 years agoRumah Kreatif Hj Nirna Sediakan Oleh-oleh Khas Sultra
-
Fokus6 years agoTenaga Pendamping BPNT Dinilai Tidak Transparan, Penerima Manfaat Bingung Saldo Nol Rupiah
-
FINANCE6 years agoOJK Sultra Imbau Entrepreneur Muda Identifikasi Pinjol Ilegal Melalui 2L
-
Fokus7 months agoUsai Harumkan Nama Wakatobi, Pelatih Atlit Peraih Medali Emas Jual Hp Untuk Ongkos Pulang
-
PERTAMBANGAN4 months ago25 Perusahaan Tambang di Sultra Dihentikan Sementara Operasinya
