Connect with us

KOMODITI

Kadin Sultra Bersama Kadin Kolaka Kirim Beras ke Toko Alfamidi

Published

on

Pengiriman perdana beras 47 ton ke Toko Alfamidi

KENDARI, bursabisnis.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) bersama Kadin Kolaka, mengirin  beras sebanyak 47 ton ke Toko Alfamidi yang ada di wilayah Sultra dan Sulawesi Tengah (Sulteng).

Sumber beras yang masuk ke Alfamidi ini merupakan  beras lokal hasil pertanian Kabupaten Kolaka.

Wakil Ketua Umum Bidang Pasar Modal Kadin Sultra, Sastra Alamsyah menjelaskan pengiriman perdana beras lokal dari Kabupaten Kolaka akan masuk ke toko Alfamidi yang berada di Pulau Sulawesi.

“Beras lokal masuk ke Alfamidi. Beras ini diambil dari petani-petani lokal di Kolaka Raya,” ungkapnya pada Jumat, 18 November 2022.

Hal tersebut sebagai salah bentuk misi dagang yang dibangun oleh Kadin Sultra, melalui perusahaan binaannya dari Kabupaten Kolaka CV. Zalva berhasil melakukan pengiriman sebanyak satu kontainer dengan berat 47 ton.

“Ini adalah salah satu misi dagang Kadin Sultra yang berkolaborasi bersama Kadin Kolaka. Ini juga sebagai bentuk sinergi bersama Kadin daerah dan pengusaha lokal untuk bisa masuk ke retail marketing,” jelasnya.

Dalam pengiriman beras lokal tersebut, dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat Sultra, terkhusus di sektor pertanian.

“Pengiriman beras lokal ini akan menjangkau Wilayah Sulawesi Tenggara dan Wilayah Sulawesi Tengah,” pungkasnya.

Laporan : Rustam 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMODITI

Transaksi Paviliun Indonesia di Pameran SIAL Paris 2022 Capai USD 33,5 Juta

Published

on

By

Indonesia ambil bagian di ajang Salon International de l'Alimentation (SIAL) Paris 2022

JAKARTA, bursabisnis.id – Paritispasi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di ajang bergengsi skala internasional, yakni Salon International de l’Alimentation (SIAL) Paris 2022, sukses meningkatkan minat pembeli mancanegara terhadap produk makanan dan minuman asal Indonesia.

Pameran yang berlangsung pada tanggal 15-19 Oktober 2022 di Parc des Expositions de Paris-Nord Villepinte ini diikuti sebanyak 7.020 exhibitors, dengan jumlah pengunjung mencapai 310 ribu profesional dari 119 negara.

“Kami mencatat total transaksi selama lima hari pameran di SIAL mencapai USD33,5 juta, yang terdiri dari transaksi potensial dan transaksi langsung di lokasi (on the spot). Transaksi di tahun ini melampaui total transaksi SIAL Paris 2018 sebesar 14 juta Euro,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika di Jakarta pada Selasa, 25 Oktober 2022 sebagaimana dilansir dari laman kemenperin.go.id.

SIAL Paris merupakan salah satu pameran makanan dan minuman terbesar di Eropa yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Keikutsertaan Indonesia terakhir kali pada edisi SIAL Paris 2018, sedangkan tahun 2020 pameran tidak diselenggarakan karena pandemi Covid-19.

Partisipasi pada kegiatan pameran ini merupakan salah satu upaya Pemerintah Indonesia untuk lebih memperkenalkan lagi keunggulan berbagai produk makanan dan minuman dari sejumah industri di Indonesia. Selain itu, diharapkan keikutsertaan inidapat memperluas pasar ekspor bagi para peserta, terutama ke negara-negara yang menjadi target tujuan ekspor Indonesia.

“Pembeli yang tertarik akan produk makanan dan minuman Indonesia tidak hanya dari negara-negara Eropa, namun juga dari Amerika Serikat, negara-negara Afrika, Asia dan Timur Tengah. Selain kesepakatan dagang, juga ada potensi kesepakatan kerja sama pengembangan produk antara industri makanan dan minuman Indonesia dengan mitra dari luar negeri,” papar Putu.

Dirjen Industri Agro mengungkapkan harapannya bahwa hasil dari partisipasi di SIAL Paris 2022 ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk memperluas pasar ekspornya. “Tugas selanjutnya adalah agar perusahaan dapat menindaklanjuti potensi bisnis yang didapatkan selama pameran tersebut. Kami harapkan transaksi potensial dapat direalisasikan sepenuhnya di masa datang sehingga akan turut meningkatkan kinerja industri makanan dan minuman,” tuturnya.

Menurut Putu, industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor penting yang menunjang kinerja industri pengolahan nonmigas. Sektor industri makanan dan minuman menyumbang sebesar 38,38% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas sampai triwulan II tahun 2022. “Industri makanan dan minuman juga mampu tumbuh positif sebesar 3,68% pada triwulan II tahun 2022 atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan II tahun sebelumnya yang mencapai 2,95%,” sebutnya.

Partisipasi Indonesia pada SIAL Paris 2022 terselenggara berkat kolaborasi antara Direktorat Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan, Direktorat Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Direktorat Akses Sumber Daya Industri dan Promosi Internasional Kemenperin, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris.

Pemerintah Indonesia telah memfasilitasisebanyak 20industri makanan dan minuman yang menempati 20booth di dalam paviliun Indonesia dengan luas total 202,5 m2. Para pelaku usaha ini mempromosikan produk-produk unggulannya, antara lainproduk teh dan kopi, olahan kelapa, minuman kesehatan, makanan ringan, biskuit, olahan buah, olahan ikan dan rumput laut.

Laporan : Rustam

Continue Reading

KOMODITI

Penetapan Kebutuhan Impor Garam Industri Sudah Transparan dan Sesuai Prosedur

Published

on

By

Juru Bicara Kementerian Perindustrian sekaligus Staf Khusus Menteri Perindustrian Bidang Pengawasan FebriHendri Antoni Arif

JAKARTA, bursabisnis.id – Kementerian Perindustrian menghitung kebutuhan garam sebagai bahan baku dan bahan penolong bagi sektor industri berdasarkan surat pengajuan dari asosiasi industri maupun survei bersama kementerian dan lembaga terkait.

Bahkan, termasuk dalam penetapan kuota impor juga dilakukan pembahasan lintas kementerian dan lembaga di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta koordinasi dengan Bareskrim Polri  dan melakukan rapat terbatas dengan Wakil Presiden.

“Artinya, penetapan kebutuhan impor garam untuk industri sudah transparan dan sesuai prosedur, dan menggambarkan kebutuhan sektor industri manufaktur secara keseluruhan, baik yang membutuhkan garam dari impor maupun dari lokal seperti sektor industri tekstil, penyamakan kulit, dan lainnya,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian sekaligus Staf Khusus Menteri Perindustrian Bidang Pengawasan FebriHendri Antoni Arif di Jakarta sebagaimana dilansir dari laman kemenperin.go.id.

Hal itu misalnya tercermin dalam rekomendasi dari Kemenperin maupun Persetujuan Impor (PI) yang diterbitkan Kementerian Perdagangan sebesar 3,16 juta ton pada tahun 2018. “Jadi, di bawah angka kebutuhan 3,7 juta ton. Sedangkan realisasi impor pada tahun 2018 itu sebesar 2,84 juta ton,” ungkap Febri.

Pernyataan Jubir Kemenperin tersebut sekaligus menanggapi yang telah disampaikan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Ketut Sumedana, beberapa waktu lalu. Saat ini, Kejagung tengah melakukan penyidikan terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam pemberian fasilitas impor garam industri pada tahun 2016-2022.

Febri menjelaskan, penggunaan garam impor diverifikasi oleh lembaga independen pada saat verifikasi untuk kebutuhan tahun berikutnya. Selain itu, perusahaan menyampaikan laporan kepada Kemenperin setiap triwulan.

“Realisasi impor pada kenyataannya selama ini selalu lebih kecil daripada PI yang diterbitkan karena industri pun tidak akan melakukan impor jika memang tidak memerlukan impor. Sedangkan PI tersebut merupakan rencana dari industri,” paparnya.

Menanggapi pernyataan Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi Pudjiastuti terkait rekomendasi impor garam dari KKP sebesar maksimal 1,82 juta ton, hanya melalui tiga pelabuhan bongkar, yaitu Ciwandan, Tanjung Perak dan Belawan, serta waktu pemasukan juga dibatasi pada periode Januari-April 2018, Kemenperin memandang hal tersebut akan berdampak terhadap keberlangsungan industri yang membutuhkan garam sebagai bahan baku dan penolong.

Hal ini karena beberapa perusahaan industri memerlukan jaminan kontinuitas pasokan dan kebutuhannya besar yang memerlukan importasi secara kontinyu tiap bulan khususnya sektor industri khlor alkali (CAP).

“Beberapa industri sudah mempunyai jetty sendiri dengan investasi yang tidak murah. Kemudian, sektor industri farmasi yang kebutuhannya tersebar dalam jumlah kecil juga memerlukan importasi melalui udara karena volume kecil tersebut,” imbuhnya

Kemenperin mendukung proses penegakan hukum terkait impor garam industri yang sedang dilakukan Kejagung saat ini. Terkait hal tersebut, rekomendasi impor yang dikeluarkan Kemenperin tetap berdasarkan kuota yang telah ditetapkan Rakortas di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Jika ada realokasi maupun tambahan kuota, tetap dilakukan berdasarkan Rakortas dan rekomendasi Kemenperin sebagai acuan Kemendag dalam penerbitan PI. Hal ini supaya perubahan tersebut tidak melebihi kuota yang telah ditetapkan dalam Rakortas.

Jika dalam pelaksanaannya ditemukan rembesan atau penyalahgunaan, hal ini merupakan tanggung jawab dari pelaku usaha sesuai aturan Permenperin 34 Nomor 2018 tentang Tatacara Pemberian Rekomendasi Impor Komoditas Pergaraman sebagai Bahan Baku dan Bahan Penolong Industri. Menurut peraturan tersebut, pelaku usaha akan dikenai sanksi tidak memperoleh rekomendasi untuk tahun berikutnya.

Kemenperin telah berupaya melakukan substitusi impor, khususnya untuk sektor aneka pangan dan pengeboran minyak. Pada Neraca Komoditas 2022, kebutuhan garam di aneka pangan sebesar 630 ribu ton, sedangkan sektor pengeboran minyak membutuhkan 30 ribu ton.

Meski demikian, alokasi impor sebesar 466 ribu ton hanya diberikan kepada sektor aneka pangan. Harapannya, kebutuhan garam bagi industri pengeboran minyak dan IKM aneka pangan dapat dipenuhi dari bahan baku garam lokal.

“Harga garam lokal sudah mencapai Rp1.000/kg, bahkan akhir-akhir ini di atas Rp1.500 /kg, serta tidak terdapat sisa stok berlebih di lapangan karena penyerapan terus berlangsung dengan harga yang tinggi tersebut. Diharapkan hal ini akan tetap terus terjaga ke depannya dengan penerapan Neraca Komoditas dalam pengendalian impor garam,” pungkas Febri.

 

Laporan : Leesya

Continue Reading

KOMODITI

Dua Perusahaan Binaan Kadin Sultra akan Kirim Kopra ke Jatim Sebanyak 28 Ton

Published

on

By

KENDARI, bursabisnis.id – Dua perusahaan dibawah binaan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Tenggara (Sultra) Dijadwalkan   mengirim komoditi  kopra ke Provinsi Jawa Timur (Jatim) pada Minggu, 4 September 2022 mendatang.

Kedua perusahaan binaan Kadin Sultra ini adalah  CV. Indah Mega Utama dan CV. Navyra Nadira IB.

Ketua Kadin Sultra, Anton Timbang melalui Wakil Ketua Kadin Sultra, Sastra Alamsyah mengatakan pada pelepasan impor kali kedua ini, kedua perusahaan akan mengirimkan kopra sebanyak 28 ton, dengan nilai Rp 266 juta.

“Melanjutkan misi dagang antara Kadin Sultra dengan  Kadin Jawa Timur. Perusahaan binaan Kadin Sultra mengirim komoditi unggulan ke Jatim. Sedangkan agen distributor dari Jatim akan mengirim  konstruksi baja dari Surabaya,” ungkapnya, Sabtu, 3 September 2022.

Alamsyah menjelaskan pengiriman komoditas perkebunan merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) Misi Dagang yang dibangun antara Kadin Sultra dan Kadin Jatim yang telah diteken pada 23 Juni 2022 lalu.

“Pengiriman perdana komoditas ini merupakan permintaan khusus Pemerintah Provinsi Jatim. Sebelumnya pada tahap pertama, telah dilakukan pengiriman sebanyak satu kontainer dengan berat 14 ton,” jelasnya.

Dalam pengiriman komoditas tersebut, dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat Sultra dan Jatim terkhusus di sektor perkebunan.

“Ke depannya, bukan hanya komoditas perkebunan, pengiriman ini akan meliput berbagai sektor mulai dari perikanan, pertanian dan lainnya,” pungkasnya.

Laporan : Rustam 

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 PT. Tenggara Media Perkasa - Bursabisnis.ID Developer by Green Tech Studio.