PERIKANAN DAN KELAUTAN
Kemenristek dan LPPM UHO Lakukan Akselerasi Teknologi Produksi Pakan Ikan Terapung di Kendari
KENDARI, bursabisnis.id – Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Halu Oleo (UHO) melakukan akselerasi teknologi pelet (pakan) ikan terapung, yang terintegrasi dengan teknologi penetas telur di Kota Kendari.
Upaya itu dimulai dengan melaksanakan kegiatan Produk Teknologi yang Didiseminasikan ke Masyarakat (PTDM).
“Kegiatan ini bertujuan untuk mengakselerasi proses hilirisasi produk teknologi hasil penelitian dosen yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Ada dua manfaat sekaligus dapat dicapai yaitu pendayagunaan produk teknologi hasil penelitian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Ketua Pelaksanaan Kegiatan PTDM, Suwarjoyowirayatno, Selasa (1/12/2020).
Lebih lanjut, dia berharap, kegiatan PTDM ini bisa memicu masyarakat untuk lebih melek terhadap perkembangan Iptek, sehingga mereka bisa berperan aktif dalam aktivitas sosial ekonomi menuju Sultra yang sejahtera.
Ditambahkannya, PTDM juga dilatarbelakangi oleh sederet kendala, diantaranya harga mahal dan langkanya pakan ikan yang bisa terapung di Kota Kendari, sehingga petani ikan mengalami kesulitan dalam budidaya ikan air tawar.
“Usaha untuk mencoba memproduksi sendiri pelet pakan ikan kurang berhasil, karena pelet yang mereka produksi tidak dapat mengapung. Diperlukan inovasi teknologi tepat guna produksi pelet pakan ikan yang bisa mengapung, sehingga bisa dioperasikan oleh mitra di lapangan,” tambahnya.
Disebutkannya, kendala lainnya yang dihadapi dalam memproduksi pelet pakan ikan adalah harga tepung jagung yang terhitung mahal untuk di Kota Kendari. Padahal, daerah ini merupakan sentra produksi padi di Sulawesi.
Karena itu, kata dia, dibutuhkan mesin penepung jagung dengan teknologi tepat guna yang bisa dioperasikan oleh para mitra. Termasuk juga teknologi pencampuran bahan baku tepat guna agar bahan-bahan pelet pakan ikan bisa tercampur dengan sempurna.
“Untuk budidaya ikan sendiri, pelaku usaha juga mengalami kesulitan dalam hal sirkulasi air terutama untuk budidaya ikan mas dan nila yang membutuhkan sirkulasi air yang cukup. Dibutuhkan bantuan berupa pompa air yang kuat agar semua bisa berjalan dengan optimal,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, anggota kelompok BMI yang memiliki usaha peternakan ayam saat ini mengalami kendala terutama terkait ketersediaan anakan ayam (DOC) yang sulit didapatkan di Kota Kendari, sehingga harus disuplai dari daerah lain. Karena itu, dibutuhkan teknologi penetasan telur ayam menjadi DOC yang akan dibudidayakan sendiri oleh mitra.
“Di sisi lain, kondisi listrik di Kendari yang sering padam akan menjadi permasalahan dalam usaha penetasan telur tersebut, sehingga dibutuhkan energi alternatif berupa pembangkit listrik tenaga surya, yang bisa bermanfaat untuk operasional mesin penetas telur tersebut secara kontinyu tanpa khawatir listriknya padam,” urainya.
Melihat sederet kendala dan persoalan tersebut, pihaknya berinisiatif membuat dan menyediakan mesin produksi pelet pakan ikan terapung untuk menghasilkan pakan yang berkualitas bagi petani ikan.
Produksi pakan ikan terapung tersebut, menurutnya juga perlu didukung dengan teknologi penyiapan bahan bakunya, seperti teknologi penepung jagung dan pengaduk bahan baku agar bisa tercampur merata sebelum dicetak menjadi bentuk pelet.
“Termasuk juga memberikan bantuan pompa air tipe semi jet yang digunakan oleh pembudidaya ikan untuk menjaga sirkulasi air di dalam kolam yang mereka miliki,” katanya.
Langkah solutif lainnya yang dilakukan adalah dengan membuat dan menyalurkan mesin penetas telur dengan kapasitas sedang yang dapat beroperasi dengan optimal dalam menghasilkan anakan ayam (DOC) yang sehat. Mesin tersebut, kata Suwarjoyowirayatno, perlu didukung oleh teknologi pembangkit listrik tenaga surya sebagai sumber energi yang murah dan kontinyu, sekaligus sebagai pengganti listrik dari PLN yang sering padam di daerah Kendari.
” Solusi lainnya adalah melaksanakan pelatihan penggunaan teknologi-teknologi yang didiseminasikan, sehingga mitra penerima bisa menggunakan peralatan-peralatan dengan baik dan benar,” ujarnya.
Adapun beberapa peralatan yang diberikan kepada mitra PTDM yakni mesin pencetak pakan ikan terapung, mesin penepung jagung, mesin pengaduk bahan baku pakan, mesin penetas telur ayam, pompa air tenaga surya, pembangkit listrik tenaga surya (solar home system), yang digunakan untuk meningkatkan produksi maupun usaha mitra.
Liputan : Risal
PERIKANAN DAN KELAUTAN
Komisi IV Dukung Ekspor Perdana Arwana Super Red di Kalbar
PONTIANAK, Bursabisnis. id – Kalimantan Barat (Kalbar) kembali menunjukkan perannya sebagai daerah strategis dalam pengembangan sektor perikanan, khususnya ikan hias.
Provinsi ini dikenal sebagai produsen utama arwana Indonesia, di mana sekitar 70 persen arwana yang diekspor berasal dari Kalbar.
Jenis Arwana Super Red menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus simbol kekayaan alam dan budaya masyarakat, terutama di kawasan perbatasan dan Danau Sentarum yang sudah lama dikenal sebagai habitat alami spesies bernilai tinggi ini.
Sebagai bentuk dukungan, rombongan Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI menggelar kegiatan pelepasan ekspor perdana kratom dan arwana yang dilaksanakan di Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalbar, Pelabuhan Laut Dwikora Pontianak sebagaimana dikutip dari laman dpr.go.id.
Dalam momen tersebut, sebanyak 150 ekor Arwana Super Red dilepas menuju Taiwan dengan nilai transaksi mencapai Rp108,7 juta.
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau akrab disapa Titiek Soeharto, menegaskan bahwa arwana merupakan aset berharga yang hanya tumbuh di Kalimantan.
Potensi ini, menurutnya, harus terus dijaga dan dikembangkan agar bisa memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat maupun negara.
“Arwana juga adanya cuma di sini ya, di Kalimantan utamanya. Ini cukup besar ekspornya ke luar negeri, dan mudah-mudahan bisa ditingkatkan lagi untuk bisa menambah pendapatan dari devisa negara,” ujar Titiek.
Indonesia sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu pemain kuat di pasar ekspor ikan hias dunia. Dari sekian banyak jenis, Arwana Super Red asal Kalbar menjadi primadona karena keunikan warna serta nilai eksotis yang tinggi di mata kolektor mancanegara. Tingginya permintaan global membuat arwana tidak hanya bernilai sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga menjadi identitas daerah dan kebanggaan nasional.
Selain itu, keberadaan arwana juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Banyak pembudidaya dan pelaku usaha mikro di Kalbar yang menggantungkan hidup dari budidaya ikan hias bernilai tinggi ini.
“Dengan semakin terbuka akses pasar ekspor, diharapkan kesejahteraan masyarakat bisa ikut meningkat,” jelas Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.
Pelepasan ekspor perdana ini juga menjadi momentum untuk memperkuat posisi Kalbar dalam peta perdagangan internasional, khususnya sektor perikanan hias. Pemerintah pusat bersama DPR RI menegaskan komitmennya untuk terus memberikan dukungan regulasi, infrastruktur, hingga akses pasar, agar komoditas unggulan seperti Arwana Super Red dapat semakin berdaya saing di tingkat global.
Laporan : Tam
PERIKANAN DAN KELAUTAN
Potensi Perikanan Sultra Menarik Perhatian Investor Untuk Investasi di PPS Kendari
KENDARI, Bursabisnis. id – Potensi sektor perikanan di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dapat menarik investor untuk berinvestasi.
“Sebelum saya mendatangkan investor, saya harus meninjau kesiapan infrastruktur maupun lahan kosong yang tersedia,” kata Gubernur Sultra Andi Sumangerukka saat melihat Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari pada Selasa, 16 September 2025.
Dari hasil kunjungan di PPS Kendari, gubernue melihat lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan pabrik pengeringan ikan.
“Disini juga sudah tersedia nelayan, dermaga serta lahan yang akan menjadi nilai tambah untuk pengembangan investasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari, Asep Saefulloh mengungkapkan kehadiran gubernur membawa harapan baru bagi pengembangan sektor perikanan.
“Kunjungan ini menjadi harapan baru. Di PPS Kendari sendiri terdapat fasilitas yang mendukung, termasuk pengalengan ikan. Kami akan melakukan komunikasi dengan gubernur agar investor dapat tertarik berinvestasi disini,” jelasnya.
Dikatakan, PPS Kendari memiliki total lahan seluas 42 hektar dengan lahan yang sudah termanfaatkan seluas 32 hektar.
“Sisanya 10 hektar dapat digunakan untuk lokasi investasi baru untuk perusahaan yang berminat untuk melakukan investasi,” lanjutnya.
Sementara itu, tangkapan ikan di Kendari dinilai cukup melimpah dengan hasil tangkapa per harinya mencapai 80 hingga 100 ton ikan tangkap.
“Ikan tangkap yang diperoleh dari jenis layang, tongkol, cakalang, dan tuna,” jelasnya,
Beberapa hasil tangkapan bahkan diekspor, seperti rajungan ke Amerika Serikat, serta ikan layang dan tongkol ke Tiongkok.
“Saat ini ada 69 investor yang beroperasi, 20 di antaranya merupakan perusahaan besar. Sisanya merupakan pendukung yang juga berperan penting dalam rantai industri perikanan,” ungkapnya.
Laporan : Tam
PERIKANAN DAN KELAUTAN
Kementerian KKP Jaring Masukan Terkait Tata Kelola Pupuk Bersubsidi
JAKARTA, Bursabisnis. Id – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menjaring masukan dari para pemangku kepentingan, terkait tata kelola pupuk bersubsidi sektor perikanan melalui kegiatan konsultasi publik yang digelar di Surabaya, Jawa Timur.
Kegiatan ini dihadiri perwakilan dari lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, PT Pupuk Indonesia Holding Company, serta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur dan tujuh Kabupaten di sekitarnya.
“Penetapan pupuk bersubsidi tidak hanya diberikan kepada sektor pertanian, tetapi juga menyasar pembudidaya ikan skala kecil. Pemerintah menunjukkan keberpihakannya melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang menjamin kepastian alokasi pupuk bersubsidi untuk sektor perikanan,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu sebagaimana dikutip dari laman kkp. go. id.
Konsultasi publik ini merupakan langkah strategis dalam penyusunan Rancangan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi Sektor Perikanan.
Melalui sinergi dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2025, diatur pelaksanaan teknis atas Perpres tersebut.
KKP kini tengah melakukan finalisasi peraturan teknis pelaksanaan tata kelola pupuk bersubsidi di sektor perikanan untuk mendukung efektivitasnya.
Dirjen Tebe menegaskan bahwa tata kelola pupuk bersubsidi mencakup proses mulai dari perencanaan, pengadaan, penyaluran, penebusan, pengawasan, evaluasi hingga pelaporan.
Tujuannya untuk mengoptimalkan distribusi pupuk bersubsidi guna menunjang ketahanan pangan nasional.
“Distribusi pupuk bersubsidi harus memenuhi prinsip 7T : tepat jenis, jumlah, harga, tempat, waktu, mutu, dan tepat penerima,” tambahnya.
Sasaran Penerima Pupuk Subsidi
Sasaran penerima pupuk bersubsidi sektor perikanan meliputi pembudidaya ikan yang melakukan usaha pembenihan dan/atau pembesaran menggunakan teknologi sederhana, dengan batasan luasan lahan tertentu.
Beberapa diantaranya untuk pembenihan ikan air tawar paling luas 0,75 hektare dan pembesaran ikan air tawar paling luas 2 hektare.
Sementara untuk pembenihan ikan air payau paling luas 0,5 hektare dan pembesaran ikan air payau paling luas 5 hektare.
Syarat lainnya termasuk kepemilikan KUSUKA elektronik, terdaftar di portal data kelautan dan perikanan, tergabung dalam Pokdakan berbadan hukum atau terdaftar di dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perikanan, serta terdaftar dalam e-RDKK Perikanan. Lokasi usaha bukan di laut atau di perairan darat dan bukan budidaya minapadi.
Laporan : Icha
Editor : Tam
-
ENTERTAINMENT6 years agoInul Vista Tawarkan Promo Karaoke Hemat Bagi Pelajar dan Mahasiswa
-
Rupa-rupa6 years agoDihadiri 4000 Peserta, Esku UHO dan Inklusi Keuangan OJK Sukses Digelar
-
PASAR6 years agoJelang HPS 2019, TPID: Harga Kebutuhan Pokok Relatif Stabil
-
Entrepreneur6 years agoRumah Kreatif Hj Nirna Sediakan Oleh-oleh Khas Sultra
-
Fokus6 years agoTenaga Pendamping BPNT Dinilai Tidak Transparan, Penerima Manfaat Bingung Saldo Nol Rupiah
-
Fokus10 months agoUsai Harumkan Nama Wakatobi, Pelatih Atlit Peraih Medali Emas Jual Hp Untuk Ongkos Pulang
-
FINANCE6 years agoOJK Sultra Imbau Entrepreneur Muda Identifikasi Pinjol Ilegal Melalui 2L
-
PERTAMBANGAN7 months ago25 Perusahaan Tambang di Sultra Dihentikan Sementara Operasinya
