Connect with us

ADVETORIAL/PARIWARA

Kepala DPMPTSP Sultra, Parinringi : Banyak Faktor Mempengaruhi Investasi Suatu Daerah

Published

on

Keindahan obyek wisata Wakatobi yang banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. -foto:istimewa-

KENDARI, Bursabisnis.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sultra, memiliki konsep investasi yang dapat menarik para investor.

Konsep inilah kemudian membuat para investor nasional dan maupun luar negeri, tertarik menanamkan investasinya, setelah melihat potensi kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) di Sultra.

Menurut Kepala DPMPTSP Provinsi Sultra, Parinringi SE,M.Si, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi besarnya investasi di suatu daerah, termasuk di wilayah Sultra.

Faktor-faktor tersebut meliputi :

1. Tingkat suku bunga yang berlaku
2. Keadaan/kondisi ekonomi
3. Proyeksi perkembangan di masa depan atau akan datang
4. Perkembangan teknologi
5. Tingkat pendapatan nasional
6. Proyeksi keuntungan yang bisa diperoleh perusahaan
7. Kepastian hukum, baik Undang-undang, Instruksi Presiden (Inpres), Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Daerah (Perda) yang berlaku.

“Bila saat ini kegiatan ekonomi mengalami kemajuan, terjadi pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Berdasarkan analisas ekonomi, diproyeksikan perekonomian akan tumbuh dengan cepat. Maka para pengusaha pasti bergairah menanamkan investasinya, karena itu tadi tingkat pertumbuhannya signifikan,” terang Parinringi yang pernah menjabat Pj Bupati Kolaka Utara (Kolut) ini.

Parinringi yang juga pernah menjabat Wakil Bupati Konawe ini, kemudian menjelaskan bahwa investasi hanya akan dilakukan investor, jika tingkat pengembalian modal lebih besar dari pada suku bunga.

Maka, untuk menghitung besarnya investasi bisa menggunakan kurva Marginal Efficiency of Investment (MEI) dengan melihat suku bunga. Semakin tinggi tingkat suku bunga, maka investor cenderung mengurungkan niatnya untuk berinvestasi di suatu daerah.

“Sebaliknya, semakin rendah tingkat bunga yang ditawarkan, akan semakin tinggi jumlah investasi yang dilakukan. Investor akan terdorong untuk melakukan investasi dengan harapan mendapatkan return yang lebih tinggi dari suku bunga,” ujar mantan Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sultra ini.

Parinringi mengatakan, ada beberapa indikator yang bisa digunakan dalam menarik para investor untuk menanamkan investasi di suatu daerah, termasuk di Sultra.

Kepala DPMPTSP Provinsi Sultra, Parinringi, SE,M.Si. -foto:istimewa-

Keempat indikator tersebut yaitu :

1. Image Marketing
Image (citra) adalah sejenis kepercayaan, ide dan ekspresi yang dimiliki orang terhadap suatu daerah.
Langkah-langkah yang dilakukan seperti melakukan promosi, baik yang dilakukan gubernur ataupun pejabat daerah kepada investor.

Termasuk mempromosikan potensi SDA Sultra dengan bekerjasama media online dalam memperkenalkan atau mengeksplor Sultra.

2. Attraction Marketing
Attraction (atraksi atau daya tarik) merupakan alasan penting untuk wisatawan, investor, dan pemodal datang ke suatu tempat.

Misalkan dengan adanya atraksi seni budaya di Sultra, ini akan menjadi daya tarik mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Semakin tinggi tingkat kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, akan menarik perhatian investor berinvestasi di sektor perhotelan, restoran dan hiburan lainnya.

3. Infrastructure Marketing
Infrastructure (infrastruktur) merupakan dasar utama dalam memasarkan potensi SDA daerah.

infrastruktur yang dimaksud disini, seperti jalan yang memadai, ketersedian telekomunikasi yang baik (signalnya kencang). Kemudian tersedia transportasi umum, ketersedian bandar udara, dan ketersedian pelabuhan.

Dan tak kalah pentingnya, ketersediaan pasokan energi listrik yang memadai.

4. People Marketing
People Marketing merupakan strategi dalam memasarkan daerah dengan memanfaatkan sosok yang memiliki daya jual. Bentuk nyatanya dapat dilakukan melalui orang-orang terkenal, pemimpin daerah, kompetensi seseorang, serta sikap masyarakat.

Namun, kata Parinringi, sebelum dapat mengeksekusi strategi untuk menarik investor, perlu dipastikan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi minat investasi di daerah sudah cukup terjamin.

Faktor yang mempengaruhi investasi dimaksud yaitu :
1. Stabilitas politik daerah
2. Stabilitas sosial daerah
3. Stabilitas ekonomi
4. Kondisi infrastruktur dasar, seperti ketersediaan daya listrik, telekomunikasi, prasarana jalan dan pelabuhan)
5. Berfungsinya sektor pembiayaan
6. Ketersediaan tenaga kerja yang kompeten
7. Regulasi pemerintah
8. Perpajakan (kemudahan/keringanan pajak)
9. Good governance
10. Sistem pelayanan birokrasi yang cepat, mudah, dan akuntabel serta terintegrasi
11. Keterbukaan masyarakat menyambut baik hadirnya investasi

Selain itu, menurut Parinringi yang sudah berpengalaman dibirokrasi pemerintah dalam menangani investasi, harus ada konsistensi dan kepastian dalam kebijakan pemerintah yang langsung maupun tidak langsung yang dirasakan investor.

Advetorial/Pariwara

Continue Reading

ADVETORIAL/PARIWARA

Hari Amal Bhakti ke-79 Kemenag, DPRD Konawe Tegaskan Pentingnya Harmonisasi Umat Beragama

Published

on

By

Konawe, Bursabisnis.id-Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Konawe, I Made Asmaya, S.Pd, M.Pd, menegaskan pentingnya harmonisasi dan toleransi antarumat beragama.

Penegasan ini disampaikan I Made Asmaya saat menghadiri peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-79 Kementerian Agama (Kemenag)  Kabupaten Konawe, Jumat, 3 Januari 2025.

“Kementerian Agama telah menunjukkan peran yang luar biasa dalam membimbing umat dan menjaga moderasi beragama. Kami dari legislatif sangat mengapresiasi sinergi yang telah terbangun selama ini,” kata I Made Asmaya.

Kegiatan yang dipusatkan di halaman kantor Kemenag Konawe ini  dihadiri Penjabat (Pj) Bupati Konawe, diwakili oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Konawe Dr. Ferdinand Sapan, SP, MH, unsur Forkopimda, serta jajaran pejabat dan pegawai lingkup Kementerian Agama Kabupaten Konawe.

Peringatan HAB ke-79 tahun 2025 kali ini mengusung tema “Membangun Karakter Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045”.

I Made Asmaya mengungkapkan bahwa HAB ke-79 ini menandai momentum refleksi bagi seluruh jajaran Kemenag, untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik serta memperkokoh kerukunan antarumat beragama.

Oplus_131072

Ketua DPRD Konawe I Made Asmaya juga mengungkapkan apresiasinya terhadap dedikasi Kementerian Agama dalam menjaga stabilitas dan harmoni di tengah keberagaman masyarakat, khususnya di Kabupaten Konawe.

“Kementerian Agama telah menunjukkan peran yang luar biasa dalam membimbing umat dan menjaga moderasi beragama. Kami dari legislatif sangat mengapresiasi sinergi yang telah terbangun selama ini,” kata I Made Asmaya.

I Made Asmaya berharap, momentum Hari Amal Bhakti ini menjadi titik balik semangat pengabdian aparatur Kementerian Agama,  sejalan dengan misi transformasi layanan yang diinisiasi pemerintah pusat.

“Semoga di usia ke-79 ini, Kementerian Agama terus bertransformasi menjadi lembaga yang semakin inovatif dan dicintai masyarakat dalam memberikan pelayanan di bidang keagamaan,” ujar I Made Asmaya.(Adv)

Continue Reading

ADVETORIAL/PARIWARA

HUT Konawe ke-65: Harmoni Ritual Mosehe Wonua dan Gemerlap Pawai Budaya Memukau Ribuan Warga

Published

on

By

Konawe, Bursabisnis.id-Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Konawe ke-65 diwarnai pawai budaya, tarian tradisional Tolaki, hingga ritual adat Mosehe Wonua. Ritual sakral dan pawai budaya ini membawa suasana khidmat, menghipnotis ribuan pasang mata.

HUT kali ini mengusung tema “Menjaga Kearifan Lokal Menuju Konawe Bersahaja”, dilaksanakan pada Jumat, 16 Mei 2025,

Rute yang membentang dari Inolobunggadue Central Park (ICP) hingga Laika Mbu’u seolah menjadi panggung terbuka bagi kekayaan budaya Tolaki. Masyarakat mengular memadati jalanan demi menyaksikan barisan demi barisan yang memamerkan keindahan busana adat serta ritual-ritual yang sarat akan makna filosofis.

Diantara barisan peserta, kehadiran perwakilan dari Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Konawe menjadi sorotan utama. Mereka dengan anggun mempersembahkan tarian Wulele Sanggula, sebuah representasi visual yang menggambarkan keelokan perempuan Tolaki di Bumi Konawe.

Gerakan lemah gemulai para penari yang berpadu dengan busana adat tradisional menciptakan daya tarik tersendiri bagi penonton.

Sekretaris DPRD (Sekwan) Konawe, Sumanti, S.Sos, M.AP, menegaskan bahwa partisipasi pihaknya dalam menampilkan tarian legendaris ini merupakan wujud nyata kepedulian untuk menjaga warisan leluhur.

“Budaya adalah identitas kita. Kita wajib menjaga dan merawatnya agar tidak lekang tergerus arus digitalisasi yang semakin pesat,” tegas Sumanti.

Tidak hanya tarian, barisan Sekretariat DPRD Konawe juga membawa spanduk Kalosara, simbol pemersatu yang paling luhur di tanah Tolaki. Kehadiran simbol ini melambangkan semangat persatuan dalam keberagaman yang ada di DPRD Konawe. Meskipun berasal dari latar belakang etnis yang berbeda, seluruh elemen bersatu di bawah filosofi “Medulu Mepokoaso”.

“Semangat kebersamaan dan persatuan dalam bingkai Kalosara inilah yang menjadi modal utama kita untuk membangun Konawe yang lebih baik,” kata Sumanti.

Momentum HUT ke-65 ini menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa dibalik kemajuan zaman, kekuatan identitas lokal tetap menjadi fondasi utama dalam mewujudkan visi Konawe yang Bersahaja.(Adv)

Continue Reading

ADVETORIAL/PARIWARA

Kawal Aspirasi Hingga ke Jawa Tengah, DPRD Konawe Tuntaskan Sengkarut Lahan Bendungan Ameroro

Published

on

By

Konawe, Bursabisnis.id-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Konawe kembali menunjukkan dedikasi nyata mengawal hak-hak masyarakat. Setelah melalui proses panjang, perjuangan untuk menyelesaikan dampak sosial pembangunan Bendungan Ameroro akhirnya membuahkan hasil yang menggembirakan.

Kabar baik ini dikonfirmasi langsung oleh Ketua DPRD Konawe, I Made Asmaya, S.Pd, MM, pada Selasa, 6 Mei 2025. Melalui keterangan tertulisnya, politisi PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa segala kendala yang sebelumnya menghambat proses ganti rugi, terutama terkait penilaian tanaman tumbuh, telah dituntaskan.

“Penyelesaian permasalahan dampak sosial Bendungan Ameroro clear,” kata Made Asmaya.

Sebelumnya, sejumlah warga sempat menyampaikan keberatan terhadap hasil penilaian tim appraisal mengenai ganti rugi tanaman tumbuh di area proyek. Namun, melalui serangkaian pertemuan konstruktif yang diinisiasi oleh lembaga legislatif, masyarakat kini menyatakan kesediaan untuk menerima hasil perhitungan yang telah ditetapkan.

Proses mediasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan ini menjadi kunci tercapainya titik temu yang adil bagi warga terdampak.

“Sekarang perwakilan masyarakat sudah menerima setelah rapat bersama DPRD Konawe, Pabung 1417 Kendari, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV, dan tim appraisal,” ujarnya.

Kesepakatan krusial ini lahir dari rapat penting yang digelar di Banjarnegara, Jawa Tengah. Kehadiran pimpinan dewan, termasuk Ketua DPRD I Made Asmaya dan Ketua Komisi II Eko Saputra Jaya, SH, beserta anggota DPRD lainnya, menjadi bukti kuat komitmen parlemen dalam mengawal langsung aspirasi rakyat hingga ke tingkat teknis.

Pertemuan tersebut juga mendapatkan dukungan penuh dengan kehadiran Perwira Penghubung (Pabung) 1417 Kendari, Letkol Inf. Azwar Dinata, SH.

Dengan berakhirnya silang pendapat mengenai dampak sosial ini, DPRD Konawe berharap proses pembangunan Bendungan Ameroro dapat berjalan lancar tanpa ganjalan sosial di masa mendatang.

Lembaga legislatif memastikan akan terus mengawasi agar hak-hak masyarakat terpenuhi secara adil dan transparan sesuai regulasi yang berlaku.(Adv)

Continue Reading

Trending