Connect with us

TECHNO

Hari ini, TCASH Terkonversi Menjadi LinkAja

Published

on

JAKARTA – terhitung sejak hari ini, Jumat 22 Februari 2019, layanan keuangan elektronik milik Telkomsel yaitu TCASH berubah menjadi LinkAja. Perubahan ini bagian dari upaya pihak provider kebangaan rakyat Indonesia ini untuk menghadirkan layanan keuangan elektronik yang lebih baik, mudah dan lengkap bagi masyarakat Indonesia.

Dengan perubahan ini, aplikasi TCASH akan otomatis terkonversi menjadi LinkAja, sedangkan pelanggan yang masih menggunakan USSD perlu memberikan persetujuan melalui menu akses *800#.

Danu Wicaksana, Direktur Finarya mengatakan, bahwa mulai hari ini, layanan uang elektronik TCASH efektif berubah menjadi LinkAja. Pelanggan TCASH tidak perlu khawatir, karena semua layanan dan fitur yang sebelumnya tersedia pada layanan TCASH tetap dapat diakses dan dinikmati pada layanan LinkAja.

“Terlebih lagi, kami akan mengembangkan berbagai fitur baru untuk LinkAja dari waktu ke waktu,” ujar Danu Wicaksana.

Dia juga menegaskan kembali tentang program inklusi keuangan yang selama ini menjadi komitmen TCASH. Hadirnya layanan keuangan yang menyeluruh dari LinkAja, diharapkan dapat semakin mengakselerasi inklusi keuangan dan mempercepat terbentuknya cashless society yang diusung pemerintah, dalam Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT).

“Selain itu, Linkaja bertujuan untuk melengkapi ekosistem pembayaran digital di Indonesia,” tutup Danu.

Info lebih lanjut mengenai layanan keuangan elektronik LinkAja dapat diakses di http://linkaja.id

 

 

 

Laporan: Mirkas
Editor: Rustam

TECHNO

Melalui MTCRC, Korea Selatan Dukung Indonesia Merumuskan Kebijakan Maritim

Published

on

By

Pemerintah Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Korea Selatan. -foto;maritim.go.id-

KOREA, Bursabisnis.id – Pemerintah Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Korea Selatan menyelenggarakan Komite Bersama Korea-Indonesia di Bidang Sains dan Teknologi Kelautan pada Rabu, 12 Juni 2024 di Busan, Korea Selatan.

Agenda tahunan yang kembali terselenggara untuk yang ke-7 kalinya ini merupakan wujud komitmen Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan setelah setelah terbentuknya Implementing Arrangement (IA) antara Kementerian Samudera dan Perikanan Republik Korea (KSP) serta Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Indonesia pada 9 Mei 2018 lalu.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves, Firman Hidayat menyampaikan sejak didirikannya Korea-Indonesia Marine Technology Cooperation Research Center (MTCRC) pada 2018, pusat riset ini telah membawa kemajuan yang signifikan untuk kerjasama teknologi kelautan di Indonesia.

“Melalui MTCRC, pemerintah Korea telah menunjukkan dukungan yang luar biasa kepada Indonesia dengan menyediakan data untuk merumuskan lebih lanjut Kebijakan Maritim Indonesia,” ujar Deputi Firman sebagaimana dilansir dari laman maritim.go.id.

Lebih lanjut Ia menambahkan, Indonesia saat ini sangat fokus untuk mengembangkan industri rumput laut, dan pada 22 Mei 2024 lalu baru saja meresmikan “International Tropical Seaweed Research Center” yang berlokasi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

“Melalui kerja sama ini, diharapkan dukungan kerja sama dari Pemerintah Korea untuk berbagi teknologi mengenai budidaya dan pengolahan rumput laut, serta pelaksanaan joint research di Indonesia,” tambah Deputi Firman.

Apresiasi terhadap komitmen dan kerja MTCRC juga disampaikan oleh Deputi Menteri Kebijakan Kelautan KSP, KIM Sung-bum dalam acara tersebut.

“Pencapaian ini mencakup berbagai bidang, termasuk penelitian bersama tentang lingkungan laut, satelit laut, serta proyek pengembangan kapasitas dan survey kelautan di Indonesia,” ujar Deputi KIM.

Ia juga berharap dukungan yang telah diberikan oleh Kemenko Marves untuk memperkuat kerja sama bilateral di sektor maritim dapat terus berlanjut. Demikian juga, Senada dengan hal tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Korea akan menunjukkan dukungan yang sama untuk memenuhi tujuan ini, dan menyambut baik usulan kerja sama pengembangan rumput laut Indonesia.

Direktur Korea MTCRC, Park Hansan, dalam kesempatan ini melaporkan aktivitas MTCRC kepada seluruh anggota komite bersama yang dimulai dengan penyampaian status, aktivitas utama, aktivitas spesial, serta status anggaran MTCRC.

Selanjutnya, Park Hansan menyampaikan tinjauan rencana kegiatan MTCRC yang dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu platform kerjasama, penelitian bersama, peningkatan kapasitas, serta implementasi proyek Official Development Assistance (ODA).

Pada kesempatan ini, Park Hansan juga menyampaikan bahwa terdapat proyek baru yang sedang diimplementasikan, yaitu ODA KIOTEC (Korea-Indonesia Integrated Ocean and Technology Training Center) sebagai wujud nyata peningkatan kapasitas di bidang sains dan teknologi kelautan, bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Lebih lanjut dalam Komite Bersama ini, kedua negara sepakat untuk mengembangkan dan memperluas peran MTCRC sebagai pusat fokus bagi kerja sama sebagai upaya menuju kerjasama bilateral yang lebih kokoh dan efektif dalam memajukan sektor maritim kedua negara.

Pertemuan ini dihadiri oleh anggota komite bersama dari berbagai institusi Korea, seperti Kim Sungbum (KSP), Kang Misuk (KSP), Kwon Jaeil (KIOST), Kim Wonkook (Pusan National University), Hur Sungpyo (Jeju National University), dan Park Hansan (MTCRC). Delegasi Indonesia terdiri dari M. Firman Hidayat (Kemenko Marves), Aniza Suspita (Kemenko Marves), Lelly Hasni Pertamawati (BAPPENAS), Radian Nurcahyo (Kemenko Marves) serta perwakilan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yaitu Ivonne M. Radjawane.

Sumber : maritim.go.id
Penulis : Icha
Editor : Tam

Continue Reading

TECHNO

Akurasi Hampir Sempurna, Menilai Kematangan TBS Sawit Melalui Foto Berbasis Artificial Intelligence

Published

on

By

Teknologi Artificial Intelligence (AI) mampu mendeteksi tingkat kematangan TBS sawit. -foto:InfoSAWIT.com

JAKARTA, Bursabisnis.id – Sebuah inovasi terbaru dalam industri kelapa sawit menghadirkan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang mampu mendeteksi tingkat kematangan tandan buah segar (TBS) sawit serta menghitung jumlah TBS di Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) secara otomatis.

Dikutip InfoSAWIT dari laman Linkedin, Prasetyo Mimboro, Plant Investment, Replanting and GIS, PT.
Perkebunan Nusantara IV (Persero), mencatat selain itu, setiap foto atau dokumentasi lapangan yang dilakukan ter-geotagging, yaitu memiliki informasi lokasi atau koordinat.

Teknologi ini membawa berbagai manfaat signifikan, antara lain, adanya peningkatan efisiensi panen menggunakan teknologi AI, deteksi kematangan buah kelapa sawit dapat dilakukan secara otomatis dan cepat. Hal ini mengurangi ketergantungan pada tenaga manusia dan mempercepat proses panen, sehingga petani dapat mengidentifikasi tandan yang siap dipanen dengan lebih efisien.

Lantas catat Prasetyo, akurasi tinggi sistem AI mampu mengklasifikasikan buah kelapa sawit berdasarkan tingkat kematangannya dengan akurasi tinggi. Ini membantu mengurangi kesalahan dalam penentuan waktu panen dan memastikan bahwa hanya buah yang matang yang dipanen.

“Optimalisasi produksi dengan memahami kapan buah kelapa sawit mencapai kematangan optimal, manajemen perkebunan dapat merencanakan panen dengan lebih baik. Ini membantu mengoptimalkan produksi minyak kelapa sawit dan mengurangi pemborosan sumber daya,” katanya sebagaimana dilansir dari laman InfoSAWIT.com.

Penggunaan teknologi ini juga diyakini, bisa mengurangi kerugian, lantaran dengan deteksi dini buah yang busuk atau terlalu matang dapat membantu mengurangi kerugian akibat buah yang tidak layak panen. Manajemen dapat mengambil tindakan lebih cepat untuk menghindari pembusukan dan memaksimalkan hasil panen.

Pemetaan Lahan yang akurat, sebab geotagging memungkinkan penandaan lokasi geografis pada data, termasuk informasi tentang tanaman dan kondisi lahan. Dengan menggabungkan data geotagging dengan sistem informasi geografis (SIG), manajemen perkebunan dapat memetakan lahan secara lebih akurat. Informasi ini membantu dalam perencanaan penggunaan lahan, pemantauan, dan pengambilan keputusan yang lebih baik.

Pemantauan Real-Time Geotagging memungkinkan pemantauan kondisi lahan dan tanaman secara real-time. Dengan menggunakan sensor dan teknologi pemetaan satelit, manajemen dapat mengakses data aktual tentang pertumbuhan tanaman, kelembaban, dan faktor lingkungan lainnya. Ini membantu dalam mengoptimalkan produksi dan mengurangi kerugian.

Verifikasi Pekerjaan di Lapangan Geotagging dapat digunakan untuk memverifikasi pekerjaan di lapangan, seperti sensus populasi dan produksi, pemetaan topografi, dan inventarisasi infrastruktur. Data geotagging memberikan bukti visual yang dapat diverifikasi dan digunakan untuk pengambilan keputusan.

Terpenting catat Prasetyo, adanya pengurangan kesalahan manusia, melalui geotagging mengurangi kesalahan manusia dalam pelacakan lokasi dan pemantauan. Data yang diberi tanda geografis lebih andal dan akurat. “Monitoring proses angkut memberikan informasi mengenai lokasi TPH yang sudah terkumpul TBS, jumlah, dan lokasi guna memperlancar proses mobilisasi kendaraan angkut serta meminimalkan restan,” katanya.

Tercatat akusari penerapan teknologi ini mendekati sempurna, kata Prasetyo, terakhir di run, akurasi 99,34%. “Sampai dengan saat ini dataset masih kami tambah terus,” katanya.

Inovasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam proses panen, tetapi juga memberikan manfaat strategis dalam pengelolaan lahan dan produksi secara keseluruhan. Dengan penerapan teknologi AI dan geotagging, industri kelapa sawit dapat mencapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi dan pengelolaan yang lebih baik.

 

Sumber : InfoSAWIT.com.
Penulis : Rustam

Continue Reading

TECHNO

Indonesia Perkuat Kemitraan Bisnis Dengan Eropa Melalui IEBF 2023

Published

on

By

Indonesia memperkuat kemitraan bisnis dengan negara Eropa. -foto:kemlu.go.id-

JAKARTA, Bursabisnis.id – Forum bisnis untuk memperkuat kemitraan antara Indonesia dan negara-negara Eropa Indonesia-Europe Business Forum (IEBF) akan diselenggarakan Ditjen Amerika dan Eropa mulai tanggal 17 sampai 18 Oktober 2023 di Jakarta. Platform bisnis ini diselenggarakan dengan dukungan KADIN Indonesia.

Dirjen Umar Hadi menyampaikan bahwa IEBF 2023 akan mengangkat tema “Optimizing Indonesia-Europe Business Opportunity to Support Sustainable and Inclusive Economic Development” dengan 5 sektor prioritas yakni: machineries and electronics, creative industry, digital economy, health infrastructure and energy transition, sebagaimana dilansir dari laman kemlu.go.id pada Kamis, 12 Oktober 2023.

Wakil Ketua Umum KADIN Shinta Kamdani menyebutkan bahwa IEBF 2023 akan fokus pada sisi bisnis sehingga kegiatan utama direncanakan berupa business pitching dan business matching.

Saat ini dinilai masih terdapat ruang untuk penetrasi produk Indonesia di pasar Uni Eropa dan bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Untuk Business Pitching telah terkonfirmasi 8 orang narasumber Indonesia dari sektor otomotif, makanan dan minuman, gaming, farmasi dan electromobility battery.

Sementara untuk business matching telah dilakukan 8 kegiatan preliminary business matching dan diperkirakan lebih dari 50 sesi business matching pada saat kegiatan IEBF mendatang.

IEBF juga akan menyaksikan penandatanganan 8 MoU/LOI kerja samadan 6 pengumuman kesepakatan bisnis di berbagai bidang, di antaranya perhubungan, energi dan energi terbarukan, alutsista, alat kesehatan, agrikultur, ketenagakerjaan, dan food and beverage.

Eropa merupakan salah satu sumber investasi dan teknologi dalam mendukung upaya Indonesia meningkatkan kapasitas industri dan industri hilir, menerapkan keberlanjutan, serta memajukan kreativitas dan inovasi.

Negara-negara di kawasan Eropa, khususnya Uni Eropa, merupakan mitra pembangunan Indonesia dan investor potensial untuk pelaksanaan peralihan ke ekonomi hijau dan pengembangan kerja sama strategis seperti infrastruktur dan critical technology.

IEBF merupakan penggabungan dari dua forum yaitu INA – Europe Business Forum dan INA-Central and Eastern Europe Business Forum, yang tahun 2022 lalu dilakukan secara terpisah. Penyelenggaraan IEBF 2023 dilakukan back-to-back dengan INALAC ( Indonesia – Latin America and the Caribbean) Business Forum tanggal 16-17 Oktober 2023 dan mendukung partisipasi pebisnis Eropa pada TEI (Trade Expo Indonesia) pada 18-22 Oktober 2023.

 

Penulis : Rustam

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 PT. Tenggara Media Perkasa - Bursabisnis.ID Developer by Green Tech Studio.