Connect with us

Fokus

Masjid Al-Alam, Dahulu Ditolak Kini Ramai Dikunjungi

Published

on

KENDARI – Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kaya akan potensi pariwisata. Bukan hanya wisata bahari dan pesona alam saja yang ditawarkan, bumi anoa juga memiliki potensi wisata alternatif lainnya. Salah satu icon yang kian ramai dikunjungi saat ini yakni wisata religi Masjid Al-Alam Kendari.

Berada di tengah laut (Teluk Kendari), maha karya mantan Gubernur Nur Alam ini menjadi icon terbaru di kota lulo, yang tak hanya menyuguguhkan keindahan konstruksi bangunan dan pemandangan lautnya, tapi juga memberikan suasana penuh religius. Masjid Al Alam memiliki luasan kawasan 8.000 meter persegi, dengan kapasitas tampung jamaah hingga 10.000 orang.

Selain untuk kepentingan ibadah, di dalam masjid Al Alam juga disiapkan ruang kegiatan dakwah, pendidikan keislaman dan pusat wisata religius lainnya.

Sejak perencanaan dan proses awal pembangunannya, rumah ibadah yang menelan anggaran ratusan miliar rupiah ini sempat mendapatkan penolakan dari sejumlah element masyarakat, karena pembangunan masjid itu dinilai sebagai pemborosan anggaran dan meminta DPRD Sultra untuk tidak mengalokasikan anggaran pembangunan masjid itu.

Bahkan, penolakan program tersebut dilakukan dengan turun langsung ke jalan. Seperti yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Garuda Cabang Kendari, yang melakukan aksi demo di gedung DPRD Sultra, Selasa 24 Agustus 2010 lalu.

Kendati mendapatkan penolakan, namun Nur Alam terus memperjuangkan dan ngotot untuk merealisasikan program tersebut. Sebab, ayah tiga anak ini meyakini pembangunan rumah ibadah tersebut akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Sultra pada umumnya, dan Kota Kendari khususnya.

Pengurus DPD JOIN Kendari, berpose bersama saat berkunjung di masjid Al Alam Kendari, Minggu 14 Oktober 2018. Foto: Ikas Cunge/Bursabisnis.id

Sayangnya, Nur Alam tak dapat melihat langsung pembangunan masjid tersebut hingga rampung 100 persen, karena mantan Ketua DPW PAN Sultra ini keburu kesandung persoalan hukum, dan harus mendekam di balik jeruji besi pasca diamankan pihak KPK.

Untuk anggaran pembangunan masjid, DPRD Sultra menyepakati dengan menggunakan sistem penganggaran multi years (kontrak anggaran APBD selama tiga tahun) dan menyetujui penambahan budgetnya dalam APBD 2015 sebesar Rp35 miliar.

Penganggaran selanjutnya pada 2016 sebesar Rp70 miliar. Kemudian pada 2017 sebesar Rp99 miliar. Pemerintah provinsi kembali menganggarkan pada 2018 sebesar Rp8 miliar. Namun, DPRD hanya mengakomodir anggaran penyelesaian tahap akhir sebesar Rp5 miliar. Sementara pada 2010 dianggarkan sebesar Rp10 miliar, dan pada 2011-2012 dianggarkan Rp10 miliar.

 

* Ramai Dikunjungi

Meski awalnya program pembangunan masjid ini banyak ditolak sejumlah element masyarakat. Namun, kini maha karya yang dibangun dengan sistem multi years sudah mulai ramai dikunjungi warga Sultra. Padahal, pembangunannya belum rampung 100 persen.

Kepala Bidang Pemuda Remaja Masjid Al Alam, Muslimin mengatakan, bahwa keramaian di masjid tersebut terjadi di hari-hari tertentu, terutama pada akhir weekend seperti Jumat, Sabtu dan Minggu sore. Sedangkan di hari lain, memang masih nampak pengunjung tapi tak seramai di akhir-akhir pekan tersebut.

Dia menjelaskan, pengunjung diakhir pekan bisa mencapai ratusan setiap harinya, dan saat ini memang baru sebatas wisatawan domestik saja. Pengurus masjid memberikan kebebasan kepada pengunjung untuk menikmati suasana rumah ibadah di bagian pelataran. Selain itu, diberikan juga ruang untuk melihat suasana di dalam masjid. Hanya saja, pengunjung hanya bisa menikmati wisata religinya di lantai dasar, sedangkan lantai dua belum diperbolehkan untuk dikunjungi, karena kondisi fisiknya belum maksimal.

“Begitu juga di bagian mimbar, kita juga melarang pengunjung mengambil gambar di bagian situ,” ujar Kepala Sekretariat saat ditemui di Masjid Al Alam, akhir pekan lalu.

Karena masjid ini tempat suci, kata dia, maka setiap pengunjung diwajibkan untuk menggunakan busana muslimah. Sedangkan untuk batasan waktu berkunjung, pengurus masjid membukanya sejak ba’da subuh hingga pukul 20.00 Wita. Menurut dia, pihaknya memang harus membatasi waktu berkunjung, karena belajar dari sejumlah kejadiaan di awal-awal, banyak pihak yang menyalahgunakan wisata religi untuk hal-hal yang tak seharunya.

“Kita berharap ke depan diera kepemimpinan Pak Ali Mazi-Lukman Abunawas, masjid ini tetap terus diperhatikan, karena selain tempat ibadah, masjid ini juga menjadi icon baru bagi daerah kita,” pungkasnya.

Salah satu pengurus DPD Join KEndari, Nurcahaya berpose di Masjid Al Alam Kendari. Foto: JOIN Kendari.

 

* Catatan Protokoler

Berdasarkan catatan protokoler Pemprov Sultra yang dipublish TenggaraNews.com, 17 Mei 2018 lalu, Belli HT menyebutkan bahwa Pembangunan masjid ini sepenuhnya ide dari Nur Alam. Rumah ibadah ini di canangkan sejak periode pertama beliau menjabat sebagai Gubernur Sultra. Sempat hanya terlihat tonggak besi beton di tengah laut. Sempat pula menjadi bahan cemooh lawan-lawan politiknya, namun akhirnya di periode ke II, Nur Alam menjabat Gubernur, masjid tersebut bisa berwujud seperti saat ini.

Ketika masih menjadi staf di Bappeda Prov Sultra 2008 – 2010, Belli pernah melihat konsep awal masjid itu dan apa yang terbangun saat ini mengalami revisi dari konsep awalnya. Seperti diketahui, akan ada beberapa kubah yang bisa bergeser seperti Masjid Nabawi di Madinah. Namun dalam sebuah kesempatan, Nasir Andi Baso (mantan kepala Bappeda Prov. Sultra) menjelaskan bahwa teknologi tersebut belum ada di Indonesia dan masih susah untuk diwujudkan.

Lantai marmer putih di dalam Masjid jelas terinspirasi dari Masjidil Haram di Makkah. Menara masjid sekilas mirip dengan bangunan di Dubai yang terkenal itu. Yang menarik tentu saja pemilihan warna kubah yang beberapa kali mengalami keterlambatan karena perbedaan penafsiran warna kuning telur. Akhirnya masalah ini selesai setelah Pak Nur Alam beberapa pihak bertemu dan memecahkan sebuah telur ayam kampung di atas sebuah piring putih, lalu dicarikan warna yang paling mirip dengan warna kuning telur tersebut dan masalah warna terselesaikan.

Terkait menara, pada saat itu ada keinginan dari Pak Nur Alam untuk berkunjung ke Masjid Sultan Ahmed di Istambul, Turki atau yang lebih dikenal dengan Blue Mosque. Namun rencana itu urung dilaksanakan karena Pak Nur Alam terkait dengan kasus hukum di KPK. Pemasangan sirine diminta dipasang oleh Pak Nur Alam, supaya bisa terdengar sampai area kota lama jika waktu sholat telah tiba. Dengan meminta bantuan kepada Pak Rudi, kepala bandara Haluoleo kendari, akhirnya ditemukan sirine yang biasa di gunakan di Bandara. Konon sirine ini bisa terdengar sampai area 10 KM.

Masjid ini sudah mulai digunakan untuk sholat Idul Fitri tahun 2017. Sebagai protokol, kami bertugas dengan kawan-kawan dari Biro Umum Setda Prov. Sultra untuk mempersiapkan masjid tersebut agar layak di gunakan.

Tim Dinas Cipta karya yang dipimpin Pahri Yamsul bekerja sangat keras mempersiapkan masjid yang pada saat itu belum di pasangi lantai marmer sehingga bisa di gunakan. Beberapa bahan bangun harus di singkirkan dulu. Hasilnya masjid itu dapat di gunakan untuk sholat idul Fitri. Pada awalnya saya sebagai protokol sempat mengalami rasa was-was karena jam 06.30 Wita masjid ini belumlah ramai. Namun akhirnya sholat ied dilaksanakan pukul 07.30 Wita dan jamaah masjid itu penuh. Ada yang datang menggunakan mobil pribadi, sepeda motor, bus yang disediakan panitia maupun kapal-kapal nelayan yang sudah disiapkan pemerinta Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sholat dipimpin Bpk KH.Mursyidin, Ketua MUI Sultra. Dalam sholatnya beliau membacakan surah Ar Rahman. Suara merdu beliau mampu meneteskan air mata beberapa jamaah sholat ied. Bertindak sebagai khatib, Bapak Nur Alam yang memberi ceramah tentang pembangunan dan agama. Pada kesempatan itu pula beliau menepis terkait penamaan Masjid Al alam yang sesungguhnya bukan berasal dari namanya, namun karena masjid ini berada di tengah alam teluk Kendari.

“Setelah sholat ied selesai kami berpelukan antar kawan-kawan panitia. Bukan sekedar terharu akan sebuah permintaan maaf, namun ada rasa yang susah dijelaskan pada waktu itu,” jelasnya.

Kelak, kata dia, rasa itu terjawab dikemudian hari, bahwa itulah shalat ied terakhir Nur Alam sebagai Gubernur Sultra. Di Sholat Ied Adha pada tahun tersebut, Nur Alam sudah tidak bersama-sama mereka lagi.

Meskipun pertama kali digunakan pada saat Idul Fitri tahun 2017, sebenarnya Nur Alam seringkali sholat di Masjid ini, bahkan ketika masih berwujud tiang-tiang penopang bangunan. Mantan Wakil Ketua DPRD Provinsi itu seringkali menggunakan masjid ini untuk sholat tahajud. Sholat tahajud beliau lakukan dilantai 3 masjid ini. Anda yang sudah sholat di masjid ini tentu saja bertanya-tanya dimanakah lantai 3 tersebut?, karena masjid ini terlihat hanya 2 lantai. Lantai 3 tersebut sesungguhnya ada di atap masjid ini.

Perlu sangat hati-hati untuk mencapai lantai 3 tersebut karena kita melewati jalan dan tangga seadanya. Jikalau tak hati-hati kita bisa terluka untuk sampai ke atas. Di lantai 3 lah beliau sholat bersama beberapa sahabat beratapkan bintang-bintang dan langit malam. Ditengah dinginnya malam mengadukan segala keluh kesah kepada Sang Illahi. Ketika hanya menggenakan baju koko dan larut dalam doa dan zikir diatas sejadah, Gubernur yang terlihat hebat itu terlihat sangat kecil dalam KekuasanNya. Entah berapa banyak tetesan air mata beliau dan entah apa pula yang beliau adukan.

Buat Belli, pembangunan Masjid Al Alam memiliki korelasi spiritual dengan sang penggagasnya. Dinding-dinding bangunan masjid terbangun bersamaan dengan tegaknya dinding-dinding keimanan sang penggagas. Guyuran cat dinding masjid hadir bersamaan dengan tetesan air mata sang penggagas mengingat kebesaranNya. Sungguh indah ketika Allah SWT merengkuh umatNya untuk lebih dekat denganNya.

 

 

Penulis: Ikas Cunge

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fokus

Harga TBS Sawit Kalbar Periode I-Januari 2024 Ditetapkan Tertinggi Rp 2.370,62/Kg

Published

on

By

Hasil panen petani sawit di Desa Toluwonua, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sultra. -foto:rustam-

PONTIANAK, Bursabisnis.id – Merujuk hasil dari Tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), telah menetapkan untuk periode I-Januari 2024, harga sawit umur 10 – 20 tahun ditetapkan Rp 2.370,62/Kg.

Berikut harga sawit Provinsi Kalbar berdasarkan penelusuran InfoSAWIT dari Dinas Perkebunan dan Perternakan Kalbar, sawit umur 3 tahun Rp 1.766/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.894,34/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 2.028,03/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 2.091,72/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 2.166,64/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 2.237,54 /Kg. Sawit umur 9 tahun Rp 2.276,72/Kg; sawit umur 10-20 tahun Rp 2.370,62/Kg.

Lantas sawit umur 21 tahun 2.325,85,/Kg; sawit umur 22 tahun Rp 2.314,41/Kg; sawit umur 23 tahun Rp 2.255,85/Kg; sawit umur 24 tahun Rp 2.175,45/Kg dan sawit umur 25 tahun Rp 2.100,02/Kg. Minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 10.967,58/Kg, Kernel (inti sawit) Rp 5.201,00/Kg, serta Indeks K 90,50%.

Penulis : Rustam

Sumber : infosawit.com

Continue Reading

Fokus

Masyarakat  Berharap Ir Burhanuddin Pimpin Bombana ke Depan

Published

on

By

Masyarakat Bombana menemui Ir Burhanuddin. -foto: tam

BOMBANA, Bursabisnis.id  – Masa kepemimpinan Ir H Burhanuddin M.Si sebagai Pi Bupati Bombana hanya berlangsung sekitar 15 bulan lamanya. Tetapi  masyarakat Bombana sangat merasakan dampak pembangunan yang sudah dilakukan.

Bahkan ada yang membandingkan waktu kepemimpinan 10 tahun dengan 15 bulan, lebih dirasakan dampaknya  kepemimpinan Burhanuddin.

” Masa kepemimpinan Pak Burhanuddin sebagai penjabat Bupati Bombana terbilang singkat, hanya sekitar 15 bulan, tapi programnya sangat menyentuh masyarakat Bombana,” kata Andi Hardi, tokoh masyarakat Kassipute, Bombana pada Sabtu, 16 Desember 2023.

Program yang menyentuh masyarakat yang dimaksud Hardi, diantaranya membenahi jalan yang rusak menuju wilayah Kecamatan Mataoleo. Walaupun jalan dicor jaraknya sekitar 2 Kilometer, namun ini sangat dirasakan dampaknya.

” Setelah ada perbaikan jalan di Mataoleo, langsung dirasakan betul masyarakat setempat,” ujarnya.

Kemudian Burhanuddin memperhatikan kebutuhan listrik masyarakat yang mendiami Pulau Kabaena.

” Sejak Indonesia merdeka, nanti masa jabatan Pj Burhanuddin listrik di Kabaena menyala 24 jam. Sebelumnya kan belum ada yang memperhatikan listrik di Kabaena menyala 1 kali 24 jam,” ungkap Andi Hardi.

Selain berhasil melakukan percepatan pembangunan, Burhanuddin yang juga pernah menjabat sebagai Pj Bupati Konawe Kepulauan (Konkep) dikenal sangat dekat dengan masyarakat.

Seperti saat Burhanuddin berkunjung ke Pasar Tadoha Mapacing. Para pedagang berebutan berjabat tangan.

Para pedagang mengaku, baru Pj Bupati Bombana Burhanuddin yang bisa berjabat tangan langsung.

” Jabat tangan langsung dengan Pj Bupati ternyata  sangat menyentuh hati masyarakat,” jelas Hardi.

Melihat hasil pembangunan dalam kurun waktu 15 bulan dan pendekatan kemasyarakatan yang sangat menyentuh, kini masyarakat Bombana mengharapkan Burhanuddin kembali memimpin Bombana.

” Masyarakat Bombana sangat berharap ke depan Pak Burhanuddin dapat memimpin Bombana,”  harap Andi Hardi..

Laporan : Rustam

Continue Reading

Fokus

Aksi Solidaritas : Forbes Wartawan Kendari Geruduk Kantor Bank Sultra

Published

on

By

KENDARI, bursabisnis.id Puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Bersama (Forbes) Wartawan Kendari berunjuk rasa di Kantor BPD Sulawesi Tenggara (Sultra) alias Bank Sultra, Kamis 9 November 2023.

Kedatangan awak media itu untuk memprotes kebijakan bank milik Pemda Sultra tersebut, yang dinilai bagian dari upaya menghalang-halangi kerja-kerja jurnalistik.

Pantai awak media, aksi demontrasi tersebut sempat diwarnai aksi saling dorong antar pengunjuk rasa dan pihak pengamanan.

Adapun kebijakan Bank Sultra yang dinilai bagaian dari upaya membatasi ruang kerja wartawan dalam peliputan adalah pengisian form khusus yang telah disiapkan.

Menurut massa aksi, kebijakan tersebut tak lazim dan pihak Bank Sultra tak memiliki kewenangan untuk mengambilalih tugas Dewan Pers (verifikasi).

Koordinator Aksi, La Ode Kasman Angkosono mengatakan, demonstrasi yang dilakukan Forbes Jurnalis Kendari untuk mendesak Pj Gubernur Sultra segera mencopot Direktur Bank Sultra.

“Sebagai pemegang saham pengendali (PSP) di Bank Sultra, seharusnya bisa langsung mencopot Abdul Latif hari ini juga. Itu desakan kami, tapi kami hanya ditemui oleh Sekda. Padahal Sekda bukan pengambil kebijakan, sehingga kami menolak berdialog,” kata Kasman usai demonstrasi.

Kasman meminta Mendagri Tito Karnavian, untuk mencopot Pj Gubernur Sultra, karena tak bisa bersikap atas dugaan korupsi besar-besaran yang terjadi di Bank Sultra.***

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 PT. Tenggara Media Perkasa - Bursabisnis.ID Developer by Green Tech Studio.