Connect with us

PERTAMBANGAN

Padmamitra Award 2018, Antam Raih Penghargaan Kategori Bidang Disabilitas

Published

on

KENDARI – Dari 72 perusahaan yang mendaftar untuk meraih penghargaan Padmamitra 2018, yang diselenggarakan oleh Forum CSR Kessos bekerjasama dengan Kementerian Sosial RI, hanya 21 perusahaan saja yang dinobatkan sebagai penerima apresiasi atas komitmen mereka menunaikan tanggung jawab sosialnya.

Antam UBPN Sultra menjadi salah satu badan usaha yang meraih penghargaan Padmamitra Award 2018. Hal tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Sosial RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, kamis 25 Oktober 2018, di Ballroom Swiss-Belhotel Jakarta.

Ajang penghargaan yang digelar setiap dua tahun ini bertujuan mengapresiasi perusahaan atau badan usaha yang telah menunaikan tanggung jawab sosial bidang kesejahteraan sosial atau melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR).

“Penghargaan ini diharapkan dapat mendongkrak badan usaha lain untuk mengadopsi hal yang sama dengan peraih Penghargaan Padmamitra, dan Kementerian Sosial sangat terbuka dan menanti kerja sama seluruh badan usaha di wilayah tanah air ini,” ungkap Menteri Sosial Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan persnya.

Penghargaan Padmamitra tahun ini memiliki 7 kategori penilaian. Setelah dilakukan seleksi dan penjurian, sebanyak 21 perusahaan berhasil menerima penghargan dari total 72 perusahaan yang mendaftar pada Juli 2018.

“Saya ingin menyampaikan terima kasih, dan bagi perusahaan-perusahaan atau badan usaha yang belum berkesempatan untuk mendapatkan penghargaan, sebenarnya semuanya adalah pemenang,” ungkap Agus.

“Sekecil apapun kontribusi dari perusahaan untuk melakukan CSR di bidang kesejahteraan sosial, bagi kami di Kementerian Sosial merupakan sumbangsih yang tidak ternilai,” tambah Agus.

PT Antam Tbk, unit Bisnis Pertambangan Nikel Sultra berhasil membawa pulang penghargaan CSR Kategori Bidang Disabilitas/Kecacatan dalam kontribusinya pada kegiatan operasi bibir sumbing di Indonesia dan di Sultra.

Aji Priyo, VP Finance Antam UBPN Sultra yang menghadiri penerimaan award, didampingi Umar, AM Comdev menyampaikan apreasiasi kepada penyelenggara forum CSR Kessos dan Kementerian Sosial atas penghargaan yang diterima itu. Ini akan menjadi motivasi bagi antam untuk terus berbuat yang terbaik, membantu pemerintah dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat, termasuk program-program bidang sosial yang menjadi fokus di bidang sosial.

Kamsi, VP HC and CSR juga menyampaikan apresiasi atas penghargaan ini, dan hal tersebut menjadi motivasi Antam untuk berkontribusi yang terbaik ke depan. (Januar)

PERTAMBANGAN

PT IAM Wujudkan Dukungan Pendidikan melalui Beasiswa untuk Pemuda Morombo

Published

on

By

KONAWE UTARA : bursabisnis.id – PT Indonusa Arta Mulya (IAM) menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Marombo, Kecamatan Lasolo Kepulauan dan Desa Marombo Pantai, Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara (Konut) dengan menyerahkan bantuan dana pendidikan (beasiswa) kepada Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Morombo (HIPPMAMOR), Selasa 16 Juli 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari realisasi Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) perusahaan, yang bertujuan untuk mendukung pembangunan sumber daya manusia di daerah tersebut.

Acara penyerahan beasiswa ini berlangsung di rumah Kepala Desa Morombo Pantai dan dihadiri oleh Ketua Umum HIPPMAMOR, sekretaris organisasi, beberapa aparat desa, serta perwakilan dari PT IAM.

Penyerahan beasiswa ini tidak hanya menjadi bukti nyata kepedulian PT IAM terhadap pendidikan, tetapi juga sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan dalam mendukung kemajuan masyarakat setempat.

Desa Morombo dikenal sebagai salah satu wilayah dengan cadangan bijih nikel terbesar di Provinsi Sulawesi Tenggara, yang menarik perhatian banyak investor, baik legal maupun ilegal.

Kehadiran para investor diharapkan mampu meningkatkan pembangunan ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur desa, sesuai dengan amanat UU No. 40 Tahun 2007 Pasal 1 Ayat 3.

Wawan, seorang tokoh masyarakat setempat, mengapresiasi langkah PT Indo Arta Mulya yang terus menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat.

“Tidak banyak perusahaan di lingkar Morombo seperti PT IAM, yang meski baru beroperasi sudah mampu merealisasikan kesejahteraan masyarakat melalui program-programnya yang sangat membantu dan transparan dalam menunaikan PPM sesuai SOP,” ujarnya dalam pertemuan tersebut.

Bantuan dana pendidikan yang diberikan oleh PT IAM ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dan pelajar di Desa Morombo untuk terus mengembangkan potensi mereka. Ketua Umum HIPPMAMOR juga menyampaikan terima kasih kepada PT IAM atas kepeduliannya terhadap pendidikan di desa mereka.

“Kami sangat mengapresiasi PT IAM dan akan memberikan feedback positif kepada perusahaan. Melihat program kerja kami untuk kemajuan daerah dan SDM rakyat Desa Morombo, kami menilai PT IAM sebagai kolaborator yang tepat untuk mengaktualisasikan program HIPPMAMOR, yaitu Morombo dalam narasi pembangunan,” lanjut Wawan.

Dengan langkah nyata yang diambil oleh PT Indonusa Arta Mulya, masyarakat Desa Morombo kini semakin optimis menatap masa depan yang lebih baik. Kehadiran perusahaan ini membawa harapan baru bagi pendidikan dan kesejahteraan generasi muda di daerah tersebut.

Penyerahan beasiswa ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain yang beroperasi di sekitar Desa Morombo, untuk lebih peduli dan aktif dalam melaksanakan tanggung jawab sosial mereka.

Kesadaran PT IAM akan tanggung jawabnya kepada masyarakat dan mahasiswa lokal membangkitkan semangat juang masyarakat dan mahasiswa lokal untuk terus menuntut perusahaan lain yang mengabaikan tanggung jawab sosialnya.

Langkah ini menegaskan bahwa PT Indonusa Arta Mulya tidak hanya berfokus pada keuntungan bisnis semata, tetapi juga berkomitmen untuk berkontribusi dalam pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasinya.

Continue Reading

PERTAMBANGAN

Aspal Buton Bisa Survive di Pasar Dalam Negeri, Negara yang Harus Kendalikan

Published

on

By

Umar Samiun

KENDARI, Bursabisnis.id – Negara harus berperan mengendalikan penggunaan aspal Buton, jika ingin melihat potensi sumberdaya alam Sultra ini survive di pasar dalam negeri.

Meskipun saat ini, sudah banyak instrumen peraturan yang dikeluarkan pemerintah, agar aspal Buton digunakan di seluruh pemerintah daerah (Pemda) di Indonesia.

Bahkan Presiden Joko Widodo, sudah menegaskan bahwa tahun 2024, pemerintah menghentikan impor aspal minyak. Pemerintah kemudian memprogramkan penggunaan produk barang dan jasa Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dominan.

Namun itu semua belum mampu mendongkrak penggunaan aspal Buton di seluruh wilayah Indonesia.

“Kalau kita semua berkomitmen mengangkat potensi aspal Buton sebagai sumberdaya alam lokal Kabupaten Buton sebagai asset yang harus diberdayakan pemanfataannya ke level nasional, maka negara yang harus mengendalikan aspal Buton, ” kata Samsu Umar Abdul Samiun yang juga saat ini menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Partai Kebangkitan Nasional (PKN) Provinsi Sultra.

Umar Samiun sapaan akrabnya yang pernah menjabat sebagai Bupati Kabupaten Buton menjelaskan, mengapa negara atau pemerintah yang harus terlibat langsung mengendalikan aspal Buton? Karena penanganan aspal Buton berbeda dengan tambang nikel dan produk turunannya.

Mantan Ketua KNPI Buton ini kemudian menerangkan bahwa, tambang nikel dan turunannya, banyak melibatkan investasi pihak swasta. Dan itu semua bisa berjalan.

“Sedangkan aspal Buton keterlibatan investasi pihak swasta, masih harus didukung dengan pemerintah sepenuhnya. Karena sekian lama, aspal impor merajai pasar dalam negeri. Sedangkan aspal Buton nanti era Bapak Presiden Joko Widodo baru ramai dibicarakan secara nasional,” ujar mantan politisi PAN ini.

Dimana pada saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Buton, sudah menegaskan akan menghentikan impor aspal minyak tahun 2024 ini. Selanjutnya, aspal Buton menggantikan aspal impor tersebut.

Namun faktanya hingga sekarang, aspal impor masih menguasai pasar dalam negeri. Sedangkan aspal Buton belum mampu bersaing.

Menurut Umar, ada tiga faktor yang mempengaruhi sehingga aspal Buton belum bisa bersaing dengan aspal impor, yakni ketersediaan bahan baku, sentuhan teknologi dan kecepatan distribusi.

Dari sisi ketersediaan bahan baku atau stok aspal, masih belum mampu memenuhi kebutuhan aspal secara menyeluruh di Indonesia.

Misalkan kebutuhan negara Indonesia akan aspal 4-5 juta ton pertahun. sedangkan kemampuan BUMN Pertamina menyediakan aspal Buton hanya 300-400 ribu ton per tahun. “Sehingga kekurangannya masih memerlukan impor aspal,” ungkap Umar.

Di Buton sudah ada perusahaan yang investasi untuk aspal Buton. Namun itu belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Kemudian dari sisi teknologi, penerapan aspal Buton masih memerlukan sentuhan teknologi lagi. Sedangkan aspal impor bisa langsung digunakan dengan mudah.

Lalu soal distribusi aspal ke seluruh wilayah Indonesia, aspal Buton belum bisa bersaing dengan aspal impor.

Jika melihat dari sisi harga dan kualitas, Umar Samiun tetap yakin bahwa produk aspal Buton masih jauh lebih murah bila dibandingkan dengan aspal impor.

Demikian pula dari sisi kualitas, aspal Buton masih lebih berkualitas bila dibandingkan produk aspal impor. Hanya saja memang, penerapan aspal Buton ini masih memerlukan sentuhan teknologi lagi yang sampai sekarang belum ditemukan secara tepat.

Namun Umar Samiun optimis bahwa kerjasama internasional, antara Indonesia dengan Tiongkok, pasti menemukan teknologi yang tepat untuk mengatasi problem aspal Buton yang dirasakan saat ini.

“Kita harus berjuang terus memperkenalkan aspal Buton ke seluruh penjuru dunia. Bahwa semua negara di dunia membutuhkan aspal. Dan Sultra siap menyuplai aspal Buton,” ujar Umar Samiun yang akrab dengan kalangan milenial di Kota Bauba dan Buton ini.

Untuk diketahui, berkaitan dengan TKDN pemanfataan aspal Buton, pemerintah sudah mengeluarkan instrumen peraturan, yaitu :

1. Permendagri Nomor 27 Tahun 2021, tentang Pedoman Penyusunan APBD Tahun 2022

2. Permen PUPR Nomor 18 Tahun 2018, tentang Penggunaan Aspal Buton Untuk Pembangunan dan Preservasi Jalan

3. Permen PUPR Nomor .5 Tahun 2021, tentang Petunjuk Operasional Pengelolaan DAK Infrastruktur PUPR TA.2021

4. Perda Prov. Sultra Nomor 2 Tahun 2016, tentang Pemanfaatan Aspal Buton Untuk Pembangunan dan Pemeliharaan Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten/Kota

6. SK Gubernur Sultra Nomor 412 Tahun 2020, tentang Penggunaan Asbuton Untuk Pembangunan dan Pemeliharan Jalan Provinsi dan Kabupaten/Kota di Provinsi Sultra.

Penulis : Tam

 

Continue Reading

PERTAMBANGAN

Pertamina Gencarkan Proyek Strategis Nasional Green Refinery Cilacap

Published

on

By

Pertamina Gencarkan Proyek Strategis Nasional Green Refinery Cilacap

JAKARTA, Bursabisnis.id – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Refinery & Petrochemical Pertamina, terus melaju menyelesaikan “Green Refinery Cilacap”, sebuah Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan target kapasitas produk Biofuel hingga 6.000 barrel.

Proyek ini merupakan salah satu program unggulan dalam energi transisi, guna mewujudkan target pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23% pada tahun 2025.

Corporate Secretary KPI, Hermansyah Y Nasroen menjelaskan, Green Refinery Cilacap dapat menjawab tantangan produk yang lebih ramah lingkungan, karena kilang ini dapat memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), atau bahan bakar dengan komponen nabati.

Selain itu, juga memproduksi produk bionafta dan bioavtur/Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang berbahan baku minyak inti kelapa sawit (yang telah melalui proses Refined, Bleached, and Deodorized) yang diolah bersamaan dengan avtur fosil melalui metode co-processing.

“Dengan kemampuan untuk mengolah sumber energi nabati, proyek Kilang Cilacap ini dapat memberikan nilai tambah bagi bangsa. Hal ini semakin diperkuat oleh pengalaman dan keahlian KPI di bisnis kilang, sejalan dengan perannya sebagai induk usaha kilang dan petrokimia Pertamina,” ujar Hermansyah sebagaimana dikutip dari laman pertamina.com pada Kamis, 11 Juli 2024.

Kilang Cilacap sendiri merupakan contoh kilang terintegrasi yang sejalan dengan transisi energi. Proyek ini ditargetkan dapat menambah kapasitas produksi dari 3.000 barrel per hari menjadi 6.000 barrel produk HVO, SAF, dan Bionafta yang berasal dari Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.

Unit baru dari Green Refinery Cilacap ini juga akan dilengkapi dengan infrastruktur termasuk Palm Oil Treater, Faractionator, dan fasilitas Offsite.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menambahkan, Green Refinery Cilacap memiliki peran besar dalam energi transisi di Indonesia sejalan dengan produk ramah lingkungan yang akan diproduksinya.

“Proyek green refinery ini akan berdampak positif mendukung program bauran energi Pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju Net Zero Emission,” jelas Fadjar.

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) merupakan anak perusahaan Pertamina yang menjalankan bisnis utama pengolahan minyak dan petrokimia sesuai dengan prinsip ESG (Environmental, Social & Governance).

KPI juga telah terdaftar dalam United Nations Global Compact (UNGC) dan berkomitmen pada Sepuluh Prinsip Universal atau Ten Principles dari UNGC dalam strategi operasional sebagai bagian dari penerapan aspek ESG.

KPI akan terus menjalankan bisnisnya secara profesional untuk mewujudkan visinya menjadi Perusahaan Kilang Minyak dan Petrokimia berkelas dunia yang berwawasan lingkungan, bertanggung jawab sosial serta memiliki tata Kelola perusahaan yang baik.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.

Sumber : pertamina.com
Penulis : Icha

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 PT. Tenggara Media Perkasa - Bursabisnis.ID Developer by Green Tech Studio.